Senin, 20 Juli 2015

Review - Filsafat Etika Komunikasi




PERSPEKTIF ETIKA DALAM ILMU KOMUNIKASI
Oleh: Aji Muhammad Said

BAB I
PENDAHULUAN

1. 1. Lattar belakang
Komunikasi merupakan sesuatu yang penting yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang melakukan komunikasi bertujuan untuk menyampaikan pesan, maksud, dan apa yang diinginkannya kepada orang lain. Dalam ilmu komunikasi menjelaskan mengenai prinsip-prinsip bagaimana pesan disampaikan. Ada dua pemahaman dalam menjelaskan komunikasi. Penjelasan bahwa komunikasi merupakan sebuah proses transmisi dan interaksi pesan, dan komunikasi sebagai suatu hal yang dimaknai sebagai suatu bentuk komunikasi.
Komunikasi dapat dikatakan menjadi suatu proses dikarenakan sifatnya yang dapat kita lihat, yaitu berkesinambungan, tidak memiliki ahkir, selalu dinamis atau berubah-ubah, kompleks, dan unik. Hal ini sesuai dengan model komunikasi yang disampaikan oleh Lasswell yaitu bahwa model komunikasi yang sederahan yakni siapa (who), kemudian berbicara apa (Say’s what), dalam saluran apa (In which channel), kepada siapa (to whom), dan pengaruh seperti apa (what that effect). Model ini dikemukakan Harlod Lasswell 1948 yang menggagmbarkan proses komunikasi dan fungsi-fungsi yang diembannya dalam masyarakat. Lasswell mengemukakan tiga fungsi komunikasi, yang pertama, pengwasan lingkungan-yang mengingatkan anggota-anggota masyarakat akan bahaya dan peluang dalam lingkungan; kedua, korelasi berbagai bagian terpisah dalam masyarakat yang merespons lingkungan; dan ketiga, transmisi warisan sosial dari suatu generasi ke generasi lainnya (Lasswell dalam Mulyana, Deddy 2010: 147)
Sebagai suatu makna komunikasi dipahami dan bergantung bagaimana setiap orang memaknai sebuah pesan. Pesan ini dapat diartikan sesuatu yang memiliki banyak makna (apa yang kita terima dari simbol itu). Dalam hal ini yang dimaksud adalah komunikasi menjadi suatu makna, dimana tidak semua makna dapat disampaikan saat pesan disampakan. Komunikan tidak selalu tahu apa yang dimaksudkan komunikator, sehingga harus menjelaskan lagi, menggulangi dan mengklasifikasikan.
Pemahaman komunikasi tidak hanya berhenti disini, namun dapat dijabarkan secara meluas melalui etika filsafat komunikasi. Melalui ruang lingkupnya, etika filsafat komunikasi memandang ilmu koumunikasi. Menjabarkan bagaimana mengkaji ilmu komunikasi, dari penjelasan ontologinya (kita bisa melihat bagaimana sifat teorinya, karakteristik-karakteristik ilmu komunikasi.), epistemologi (kita memandang cara memperoleh pengetahuan) dan aksiologi (apa yang layak diketahui).
Setelah menjelaskan berdasarkan penjabaran komunikasi, selanjutnya adalah bagaimana memandang perspektif etika dalam ilmu komunikasi. Menutut Katsof, O.Louis (2004: 341) etika disini merupakan salah satu cabang dari aksiologi pada pokoknya membicarakan masalah predikat-predikat nilai’betul’ (‘right’) dan ‘salah’ (‘wrong’) dalam arti ‘susila’(‘moral’) dan ‘tidak susila’(immoral). Sebagai pokok bahasan yang khusus, etika membicarakan sifat-sifat yang menyebabkan orang dapat disebut susila atau bajik. Kualitas-kualitas dan atribut-atribut ini dinamakan ‘kebajikan-kebajikan’(‘virtues’), yang dilawankan dengan ‘kejahatan-kejahatan’ (‘vicies’), yang berarti sifat-sifat yang menunjukkan bahwa orang yang mempunyainya dikatakan sebagai orang yang tidak susila.
            Menurut Katsof, O. Louis (2004: 343) Istilah etika dipakai dalam dua macam arti. Yang satu tampak dalam ungkapan seperti “Saya pernah belajar etika”. Dalam penggunaan seperti ini etika dimaksudkan sebagai suatu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian terhadap perbuatan-perbuatan manusia. Makna kedua seperti yang terdapat pada ungkapan “ia bersifat etis” atau “ia seorang yang jujur,” atau “pembunuhan merupakan sesuatu yang tidak susila,” atau “kebohongan merupakan sesuatu yang tidak susila,” dan sebagainya. Dalam hal-hal tersebut ‘ia bersifat etik’ merupakan predikatyang dipakai untuk membedakan hal-hal, perbuatan-perbuatan, atau manusia-manusia tertentu dengan hal-hal, perbuatan-perbuatan, atau manusia-manusia yang lain. Dalam arti yang demikian ini, ‘bersifat etik’ setara dengan ‘bersifat susila’.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering kali mendengar istilah etika. Baik dalam kehidupan bermasyarakat ataupun hidup sebagai seorang individu, manusia tidak akan terlepas dari adanya interaksi, interaksi merupakan sebuah proses tukar informasi yang saling terkait satu sama lainnya. Dari sanalah muncul sebuah nilai-nilai, norma-norma, serta etika dalam komunikasi. Melalui makalah ini, perspektik etika dalam Ilmu Komunikasi akan dijelaskan.
1. 2. Ruang Lingkup
Ruang lingkup makalah ini mencakup kajian ilmu komunikasi, filsafat, etika filsafat komunikasi.


1.3. Tujuan penulisan makalah
1.      Memahami perspektif etika dalam Ilmu Komunikasi.
2.      Menerapkan pengetahuan terkait perspektif etika dan ilmu komunikasi untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
1.4 Manfaat penulisan makalah
1.        Menambah wawasan dan membuka pikiran untuk memahami terkait dunia Ilmu komunikasi.
2.        Menjadikan makalah sebagai bahan referensi untuk penelitian dan kegiatan pendidikan.
























BAB II
PEMBAHASAN

2. 1. Landasan teori
            1.  Filsafat
                 Menurut Katsof, O. Louis (2004: 4)  Merupakan suatu analisa secara hati-hati terhadap penalaran-penalaran mengenai suatu masalah, dan penyusunan secara sengaja serta sistematis atas suatu sudut pandang yang menjadi dasar suatu sudut pandang yang menjadi dasar suatu tindakan (perenungan). Karakteristik Berpikir;
1. Sifat menyeluruh
Merupakan sifat yang membuat seseorang merasa tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan lainnya, ingin tahu kaitan ilmu dengan moral, kaitan ilmu dengan agama, ingin yakin apakah ilmu itu akan membawa kebahagiaan kepada dirinya.
2. Sifat mendasar
Hal ini membuat seseorang berpikir bahwa dia tidak lagi percaya begitu saja bahwa ilmu itu benar. Dia akan bertanya, mengapa ilmu itu sebut benar? Apa kriteria itu sendiri benar? Lalu benar sendiri itu apa? Seperti sebuah lingkaran dan pertanyaan itu melingkar. Dan menyusur sebuah lingkaran, kita harus memulai dari satu titik, yang awal dan pun sekaligus akhir.
3.Sifat spekulatif
Dalam sifat berpikir ini, yang penting adalah bahwa dalam prosesnya, baik dalam analisis maupun pembuktiannya, kita harus bisa membedakan spekulasi mana yang bisa diandalkan dan mana yang tidak. Dan tugas utama filsafat adalah menetapkan dasar-dasar yang dapat diandalkan. Apakah yang disebut logis? Apakah yang disebut benar? Apakah yang disebut sahih? Apakah alam ini teratur atau kacau? Apakah hidup ini ada tujuannya atau absurd? Adakah hukum yang mengatur alam dan segenap sarwa kehidupan?
Cabang-Cabang Tradisional Dari Filsafat
1.      Logika. Adalah pengkajian yang sistematis tentang peraturan-peraturan untuk menggunakan sebab secara benar. Peraturan-peraturan itu membedakan argumen yang lain dari argumen yang tidak baik.
2.      Metafisika. Membicarakan watak-watak sesungguhnya dari benda-benda/ realitas yang berada dibelakang pengalaman yang langsung.
3.      Epistemologi, pada umumnya adalah cabang filsafat yang mempelajari sumber-sumber, watak & kebenaran suatu pengetahuan.
4.      Etika. Membicarakan soal-soal mobilitas, dalam etika terdapat tiga lapangan yang luas yaitu etika deskriptif, normatif & metafisika.
2. Komunikasi
    Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata Latin communicatio dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama di sini maksudnya adalah sama makna (Effendy, 2004: 9). Akan tetapi, pengertian komunikasi yang dipaparkan di atas sifatnya dasariah, dalam arti kata bahwa komunikasi itu minimal harus mengandung kesamaan makna antara dua pihak yang terlibat. Dikatakan minimal karena kegiatan komunikasi tidak hanya informatif, yakni agar orang lain mengerti dan tahu, tetapi juga persuasif, yaitu agar orang lain bersedia menerima suatu paham atau keyakinan, melakukan suatu perbuatan atau kegiatan.
Untuk memahami pengertian komunikasi sehingga dapat disampaikan secara efektif dan efisien, pengutipan paradigma sering digunakan, yang dikemukakan oleh Harold Lasswell. Laswell mengatakan bahwa cara yang baik untuk menjelaskan komunikasi ialah menjawab pertanyaan sebagai berikut: Who Says What In Which Channel To WhomWith What Effect? (Effendy, 2004 : 10).
Paradigma Lasswell dia atas menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur, yaitu:
·         Komunikator (communicator, source, sender)
·         Pesan (message)
·         Media (channel)
·         Komunikan (communicant, communicatee, receiver, recipient)
·         Efek (effect, impact, influence)
Jadi, berdasarkan paradigma Lasswell tersebut, komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu.



3. Filsafat Ilmu Komunikasi
            Filsafat merupakan suatu tindakan untuk menjelaskan dan menjabarkan suatau kajian, terkait dengan ilmu komunikasi. Filsafata komunikasi menjabarkannya melalui unsur-unsur yang terdapat dalam ilmu komunikasi. Dalam kajiannya filsafat komunikasi menerangkan bagaimana ilmu komunikasi bisa dikatakan sebagai ilmu, bagaimana unsur-unsur yang terdapat dalam filsafat komunikasi, dan bagaimana proses terjadinya menjadi ilmu komunikasi, sejarah ilmu komunikasi, yang sifatnya menyeluruh.
Filsafat Komunikasi merupakan filsafat yang mencoba mengkaji ilmu komunikasi dari ciri-ciri dan cara-cara pemerolehannya. Jadi filsafat ilmu memberikan sejumlah pertanyaan terhadap ilmu tersebut agar ilmu itu berkembang, berada dalam kerangka yang lebih luas, memiliki hubungan dengan ilmu-ilmu lain, dan dapat menjadi sistematis dan memiliki kebenaran. (Ardianto, Elvinaro dan Bambang Q-Anees, 1982: 72 – 76).

2. 2. Ulasan materi
            Menutut Katsof, O.Louis (2004: 341) etika disini merupakan salah satu cabang dari aksiologi pada pokoknya membicarakan masalah predikat-predikat nilai’betul’ (‘right’) dan ‘salah’ (‘wrong’) dalam arti ‘susila’(‘moral’) dan ‘tidak susila’(immoral). Sebagai pokok bahasan yang khusus, etika membicarakan sifat-sifat yang menyebabkan orang dapat disebut susila atau bajik. Kualitas-kualitas dan atribut-atribut ini dinamakan ‘kebajikan-kebajikan’(‘virtues’), yang dilawankan dengan ‘kejahatan-kejahatan’ (‘vicies’), yang berarti sifat-sifat yang menunjukkan bahwa orang yang mempunyainya dikatakan sebagai orang yang tidak susila.
Menutut Katsof, O.Louis (2004: 344-346) Perlu diketahui juga bahwa etika sebagai ilmu pengetahuan dapat berarti pendidikan mengenai pendapat atau tanggapan-tanggapan kesusilaan, sedangkan etika sebagai sauatu ajaran berkaitan dengan tindakan membuat tanggapan-tanggapan kesusilaan.
Hubungan etika dengan Ilmu
Etika ini erat kaitanya dengan ilmu. Kebebasan nilai atau tidaknya ilmu adalah masalah yang cukup rumit, yang tidak bisa dijawab dengan jawaban iya atau pun tidak namun menggunakan pertimbangan yang didasarkan pada nilai diri yang diwakili oleh ilmu yang bersangkutan. Kebebasan tidak pasti dapat diartikan secara mutlak, namun memilik 2 makna yang berbeda. Makna tersebut adalah kemungkinan untuk memilih keduanya, dan kemampuan atau hak untuk menemukan subjeknya sendiri. 
Kelayakan komunikasi sebagai ilmu
            Komunikasi merupakan suatu keterampilan yang dapat berubah mnejadi sebuah ilmu melalui persyaratan-persyaratan. Suatu persyaratan dapat dikatakan sebagai sifat ilmiah. Sifat ilmiah ini yaitu memiliki metodis. Metodis disini berarti merupakan cara atau rencana tertentu untuk mencapai sebuah tujuan. Tujuan disini berupa penjelasan secara deskriptif, eksplanatif, prediktif. Kemudian objektif yaitu memiliki objek kajian yang sama sifat dan hakikatnya. Sifat dari objek ini ada atau harus diuji sifat kebenarannya. Ketiga adalah sistematis, maksud dari sistematis disini merupakan penjelasan mengenai suatu objek yang terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem. Setelah sistematis kemudian adalah Universal yaitu bersifat umum, sifatnya tidak secara khusus atau tertentu saja, namun umum.
            Sebagai sebuah ilmu, komunikasi awalnya merupakan sebuah ketrampilan dan kemudian berubaha menjadi sebuah ilmu, perubahan ini berkaitan dengan syarat-syarat sebuah ilmu, berikut penjelasannya
            1. Secara Objektif Komunikasi memiliki objek tertentu yaitu masyarakat dan                          media.
            2. Secara Metodis Komunikasi memiliki metode penelitian tertentu, yaitu                               menggunakan metode penelitian ilmu sosial. Menggunakan penelitian ilmu                 sosial dikarenakan pada awalnya komunikasi merupakan bagian dari paradigma             ilmu sosial.
            3. Secara Sistematis Komunikasi mempunyai setruktur yang jelas, memiliki                             prinsip- prinsip yang sudah disepakati.
            4. Secara Universal Komunikasi telah disepakati merupakan sebuah ilmu yang                        mempelajari tentang pernyataan antarmanusia.
Prinsip-Prinsip dalam ilmu Komunikasi
  1. Komunikasi adalah proses simbolik. Komunikasi menunjukan lambang sesuai dengan kesepakatan.
  2. Setiap perilaku berpotensi sebagai komunikasi.
  3. Komunikasi mempunyai dimensi isi dan hubungan
  4. Komunikasi berbagai tinggkatan kesenjangan(kejadian sepontan)
  5. Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu
  6. Komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi
  7. Komunikasi bersifat Sistematik. Pada prinsip komunikasi bersifat sistematik ini menjelaskan mengenai dua sistem komunikasi yaitu sistem komunikasi internal berdasar serapan dunia luar kepada diri kita, dan sistem eksternal berkaitan dengan  unsur-unsur diluar individu (lingkungan).
  8. Komunikasi efektif-semakin mirip sosial budaya
  9. Komunikasi nonsekuensial. Komunikasi selalu terjadi dua arah meski umpan baliknya tidak bisa ditrima orang lain
  10. Komunikasi prosesual,dinamis,transaksasional
  11. Komunikasi Ireversible
  12. Komunikasi bukan Panasea























BAB III
KESIMPULAN


Jadi kesimpulanya adalah komunikasi layak dijadikan sebuah ilmu. Melalui analisa secara hati-hati terhadap penalaran-penalaran mengenai suatu masalah, dan penyusunan secara sengaja serta sistematis atas suatu sudut pandang yang menjadi dasar suatu sudut pandang yang menjadi dasar suatu tindakan (perenungan) komunikasi dibahas dan dikaji menjadi sebuah ilmu. Dalam Etika yang erat kaitanya dengan ilmu. Menjelaskan mengenai kebebasan nilai dalam sebuah ilmu yang menjadi masalah yang cukup rumit, yang tidak bisa dijawab dengan jawaban iya atau pun tidak namun menggunakan pertimbangan yang didasarkan pada nilai diri yang diwakili oleh ilmu yang bersangkutan. Pertimbangan yang dapat menjadi sebuah ilmu ini merupakan syarat ilmu secara ilmiah. Dalam hal ini Komunikasi sudah memunhi syarat-syarat yang dapat dikatakan menjadi sebuah ilmu yaitu objektif, metodis, sistematis, dan universal.



















DAFTAR PUSTAKA

Effendi, Onong. U. 2004. Teori dan Praktek Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya
Mulyana, Deddy. 2010. Ilmu Komunikasi suatu penggantar. Bandung: Rosda Karya
Kattsoff, Louis O.  2004. Pengantar Filsafat/Louis A. Kattsoff; penerjemah: Soejono Soemargono. Yogyakarta: Wacana Yogya.
S. Suriasumantri, Jujun. 2001. Ilmu dalam perspektif. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Ardianto, Elvinaro, dan Q-Anees, Bambang. 2011. Filsafat Ilmu komunikasi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. 

*Apabila mengutip tulisan ini, mohon sertakan sumber yang lengkap dari penulis, dan gunakan pengutipan yang baik dan benar, terima kasih.

Tidak ada komentar: