Minggu, 13 Oktober 2019

Opini_Memelihara Keluarga


Memelihara Keluarga
Oleh: Aji Muhammad Said

dok. pribadi 

Surat Al-Mu’minun Ayat 115
 أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
Arab-Latin: A fa ḥasibtum annamā khalaqnākum 'abaṡaw wa annakum ilainā lā turja'ụn
Terjemah Arti: Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?

Surat Al-An’am Ayat 103
 لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
Arab-Latin: Lā tudrikuhul-abṣāru wa huwa yudrikul-abṣār, wa huwal-laṭīful-khabīr
Terjemah Arti: Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Dasar berkeluarga adalah ilmu (mengaji). Manusia jangan sampai berpegangan pada dunia. Bepeganglah dengan ilmu terutama dalam mengalah. Allah itu senantiasa memberikan petunjuk dan jalan. Usahakan membaca Al-quran, kitab dan hadits karena itu isi tata cara perilaku Kanjeng Nabi, itu memberikan manfaat dan tuntunan. Ada amalan yang senantiasa bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Ahlak terjaga, kita terhindar dari kegiatan zolim. Kemudian dapat membangun ilmu yang bermanfaat, jangan hanya membangun hal-hal yang bersifat materil. Kegiatan duniawi akan berakibat konflik duniawi.

Menikah itu sunah, ada kesiapan yang matang tapi juga bergantung pada ilmu dan keseimbangan pada hawa nafsunya. Mencari pasangan dilihat dari agamanya, secara lahiriah, secara dohir terlihat. Orang yang paham agama senantiasa bisa memahami halal, haram, sunah, mubah, makruh dalam segala sesuatunya. Mencari jodoh ada dengan kenalan, ada dengan  perjodohan itu diperbolehkan, taaruf pun diperbolehkan.  Namun harus diamati yang mudah dalam melihatnya adalah dengan melihat cara ibadah orang secara dohir dan ahlak dalam perilakunya sehari-hari. Ketika Allah memperlihatkan baik maka itu baik buat kamu. Lihat keperawakannya, 'litaskunu illaiha', karena menikah itu sunahnya Kanjeng Nabi. Tirakat seseorang yang belum menikah menyertakan doa untuk dirinya, istrinya kelak, anaknya kelak, hingga cucunya kelak itu akan menjadikan baik untuk dirinya. Perbanyak berzikir untuk kita, agar senantiasa ingat pada Allah. Setiap kita berdzikir, insyaaah doa-doa diijabahi, diberikan jalan.

Dalam pendekatan ada cara untuk mengamati calon pasangan. Kanjeng Nabi mengajarkan, bahwa dalam memilih perempuan, dilihat dari agama, nasab, dan hartanya. Ketika yang lain sulit, tapi agamanya baik maka bisa menjadi jalan pertimbangan. Agama bergantung pada istri. Pendidikan anak pertama sebelum masuk dunia adalah ibu, dimana ibu yang mengajari itu semua. Ketika mencari pasangan bisa dilihat dari ibunya, karena buah tidak lepas dari pohonnya. Perhatikan juga nasab, bahwa seseorang berketurunan dari siapa, perilakunya kemungkinan akan sama. Menikah niatkan dengan ibadah (seseorang menikah separuh agamanya sempurna). Itu ada dasaranya, ketika sudah menikah pahala meningkat dari 1 menjadi 27 derajat. Cara mengetahuinya bagaimana ? yakni setelah menikah apakah pribadinya menjadi lebih baik dari sebelumnya ataukah menjadi lebih buruk.

Berkaitan dengan itu semua ada kitab qurotul uyun bisa dibaca setelah menikah. Selain itu Kanjeng nabi mengajarkan sholat istiharoh dalam memilih sesuatu. Apabila sudah berniat maka insyaallah ada jalan. Posisi laki-laki dalam keluarga itu adalah kepala keluarga. Jangan sampai aturan apapun yang menggerakkan adalah perempuan, kecuali adalah urusan pengelolaan sandang-pangan.

Laki-laki memiliki tanggung jawab besar. Ketika berkeluarga tetapi yang diutamakan adalah ibu kandungnya. Ajarkan bahwa dalam hidup bekeluarga seorang istri mendukung suami untuk berbakti kepada orang tua, dan seorang suami harus mengajarkan istri untuk taat kepadanya. Hidup itu tetap berjalan, insyaallah ada jalannya. Sudah menikah usahakan miliki rumah sendiri, ini meredam konflik. Saling mengisi dibangun dengan berjalan. Cara mendidik Istri, yakni setelah menjadi suami istri ada tanggung jawab mengajak sholat, mulang ngaji. Mintakan petunjuk pada Allah, ketika itu semua terjadi maka hanya Allah yang memberi pertolongan. Waspada itu boleh, tapi keadaan was-was dalam keragu-raguan harap ditinggalkan, itulah ajaran Kanjeng Nabi.

Kewajiban nafkah, itu double yakni kepada orang tua dan istri. Istri dinafkahi itu wajib sifatnya, sedangkan orang tua itu sunah. Segala sesuatunya itu akan terlatih seiring berjalannya waktu. Kamu akan menjadi baik, kalau kamu niatkan segala sesuatunya baik. Memilahara keluarga itu menjaga agama. Ada keluarga diberikan fasilitas duniawi, namun tidak bisa menyeimbangkan secara agama. Segala sesuatu itu ada ilmunya. Maka setiap tindakan ada tuntunannya bukan sekedar ilmunya saja. Jangan sampai keluarga kita buta agama, itulah dalam Al-quran diajarkan untuk memilihara keluarga. Orang yang berpegang pada Agama maka kegiatan apapun akan selamat dunia dan akhirat.

Mertua dan orang tua itu cara memperlakukannya berbeda. Ada istilah anak aran, yakni apabila tidak menikah dengan anaknya maka tidak akan menjadi orang tua (mertuanya). Perbandingannya adalah orang tua kandung yang utama, kemudian orang tua guru, kemudian mertua. Selain orang tua dalam golongan itu hanya wajib dihormati, diberikan bakti saja.

Menikah itu membukakan pintu rizki. Ada orang setelah menikah dimudahkan dalam rejekinya. Kesiapan diri itu penting, terutama siap dalam menerima kehidupan  bersama. Tanggung jawab itu amanah, Gusti Allah menguji seseorang dalam berkeluarga dengan suami-istri, orang tua, mertua, Allah mengujinya dalam lingkaran itu saat kita memiliki masalah pada saat itu juga Allah memberikan solusinya. Semua ada masalahnya, namun ada ilmu untuk mengatasinya. Kehidupan manusia akan dianggap berhasil, apabila mampu mengatasi itu semua. Ilmu yang dimaksud disini adalah mengaji agama secara terus-menerus tidak ada batasan usianya.

Sebelum berkeluarga, tempatkan diri dalam keluarga batih seperti apa. Menjaga keluarga, itu memelihara keluarga, bukan sekedar transaksi duniawi. Tanggung jawab terbesar itu pada orang tua, banyak orang tua memberikan tuntutan, jarang memberikan tuntunan. Solusinya itu dengan komunikasi duduk bersama. Dimana ujung muaranya adalah bagaimana memperlakukan keluarganya dengan baik. Percuma sholat lima waktu, jikalau ahlaknya saja tidak dibangun dengan baik.

Selain itu, ada persiapan ke dalam ada persiapan ke luar. Ada yang harus disiapkan dalam diri yakni fisik (jasadiah) penyempurnaan jasad secara fisik, Persiapan nafsiah, yakni kesiapan mental. Siap memakan sesuatu yang tidak suka, dan siap tidak memakan sesuatu yang ia suka. Ada persiapan sepiritual ruhiah, yakni kesiapan apa yang ia percayai, yakni iman. Kemudian ada aqliyah, yakni memahami akal intelektual, dalam kehidupan ada strategi dalam bertahan hidup. Dalam ketidak pastian bergantunglah sesuatu hanya pada Allah. Musuh utama manusia adalah keinginannya. Jangan terikat oleh ikatan materi tapi terikatlah oleh ikatan rohani. Pada hakekatnya anda akan menyatu pada Allah.

Puncak pengetahuan adalah segala hal yang tidak berkaitan dengan pengetahuan itu sendiri. "Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). Mengapa mereka tidak mau beriman? (Qs.al-Insyiqaq: 19-20). Derita akan menimpa setiap manusia, apapun pekerjaannya. Sebab ketika seseorang tidak menderita, tidak gila, dan tidak merindukan sesuatu, niscaya ia tidak akan pernah sampai kepadaNya. Sesuatu tidak akan didapat dengan mudah tanpa adanya derita, entah itu kesuksesan di dunia maupun kesuksesan di akhirat, kekayaan maupun kekuasaan, maupun ilmu atau bintang gemintang. Seandainya Maryam tak merasakan derita saat melahirkan, maka ia tak akan pernah sampai pada pohon yang penuh berkah.

Dijadikanlah indah pada (pandangan) manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)."(Qs.Ali 'Imran: 14). Kata-kata "dijadikan indah" Dalam firman Allah diatas mengindikasikan bahwa semua hal tersebut tidaklah indah, sebab segala keindahan yang tersimpan di dalam semua itu berasal dari tempat yang lain. Laksana uang palsu yang disepuh dengan emas; dunia merupakan gelembung buih ini adalah uang palsu yang tak berharga dan tak bernilai, sementara kitalah yang menyepuh uang palsu itu dengan emas, dan kemudian kita jadikan perhiasan yang tampak indah di mata manusia.

Sesungguhnya kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tapi semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan menghianatinnya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (Qs.al-ahzab:72).

Istikomah itu seperti tongkat musa, dan godaannya seperti penyihir fir'aun: ketika istiqomah muncul, ia akan menelan segala tipu daya firaun itu. Jika kamu teguh pada jalan lurus ini, maka kamu sama saja menyelamatkan dirimu sendiri.Sebab dengan keteguhan itu kamu sampai kepada Allah.

Renungkankah hal ini baik-baik, akan kalian dapati bahwa asal segala sesuatu adalah diri kalian sendiri, dan segala sesuatu yang lain adalah tadi adalah cabang dari diri kalian sendiri. Jika cabang itu memiliki banyak perincian, keajaiban , dan bentuk-bentuk luar biasa yang tak berujung, maka renungkanlah apa yang kalian miliki karena kalian adalah asal dari segala sesuatu itu.

Ketika cabang-cabang itu mengalami ketimpangan, kemerosotan, kebahagiaan, dan ketidak beruntungan, renungkanlah dirimu yang menjadi asal dari semua itu; apa saja yang membuat dunia spiritual (roh) kalian mengalami semua itu. Roh seseorang memiliki karakteristik seperti itu, dan akan melahirkan hal-hal seperti itu juga. Karena memang pada dasarnya seorang manusia suda seharusnya seperti ini.


  *Apabila mengutip tulisan ini, mohon sertakan sumber yang lengkap dari penulis, dan gunakan pengutipan yang baik dan benar, terima kasih.






Kamis, 03 Oktober 2019

Opini_Hidup Kembali


Hidup Kembali

Oleh Aji Muhammad Said

dok. foto pribadi

Setelah hidup terus mati, setelah mati terus hidup, kehidupan manusia prosesnya seperti ini. Memahami kematian dengan mata mautun, yang berarti mati itu adalah momentum. Karena pada dasarnya Kholidina fiha abada, kita hidup abadi tapi kita harus siap perubahannnya, transformasinya. Melalui kematian kita bisa hidup kembali, menjalani proses yang memang benar-benar Allah gariskan kepada kita.

Persiapan dalam kematian tentunya tidak luput dari pengolahan kehidupan. Sebagaimana manusia harus senantias tafakur, tadabur, dan dzikir. Dimana tafakur itu merupakan, olah pikir ke dalam atas ketauhidan, tadabur adalah pengejawantahan Al-quran dalam hidup, dan dzikir adalah olah pikir ke luar dalam diri manusia. Karena pada dasarnya, hidup itu keluar masuk, keluar masuk. Hal ini dimaksudkan agar terjadi keseimbangan. Manusia harus seimbang dalam kehidupannya kalau tidak hidupnya bisa kacau, hidup dengan keragu-raguan, ketidak jelasan.

Dalam hidup ini, manusia menemui berbagai proses, yang tidak luput dari sesuatu yang buruk. Beberapa hal yang sering kita sebut negatif, sebagai contoh : gagal, kemudorotan, keapesan, kerugian. Itu menjadi sumber energi, apabila kita syukuri momentumnya, ada istilah ‘alhamdulillahi’, yang berarti itu merupakan wujud penerimaan atas apa yang Allah kehendaki. Itu akan menjadi sumber cahaya bagi kehidupan kita. Sebagai momentum bagaimana kita bermesraan kepada Allah. Momen kita mengenal tajali Allah.Karena sesungguhnya kehidupan ini merupakan proses yang tak berkesudahan, pencarian terus-menerus, sampai kembali kepada Allah (Magrifatullah).

Awali semuanya dengan sudut pandang milik Allah, posisi anda disebuah tempat pun karena Allah. Kata kematian jangan jadikan sebagai kata untuk memutus segalanya. Jangan jadikan sebagai kata informasi yang kaku. Kematian harus kita terima dengan sudut pandang informatif. Sehingga ketika kita menerima informasi, tidak terpaku pada teknisnya saja, kata bakunya saja. Hal ini dikarenakan setiap kata memiliki rasa, dan makna, bergantung keadaan, yakni situasi dan momentumnya. Jangan dilihat literal, jangan dianggap secara teknis tapi harus logis. Semuanya berkaitan, jadi jangan ambil satu sisi saja dalam sebuah ilmu, tapi ambilah ilmu dari lingkar pandang, bukan sudut pandang. Hal ini sama konsepnya ketika tawaf, kita tidak berdiri pada satu posisi saja, melainkan mengelilinginya memutarinya. Hal ini untuk memperoleh sudut yang tak terhingga, sisi yang tak terhingga. Itulah hakekat kehidupan.

Perumpamaan selanjutnya adalah kakbah, setelah kakbah anda kelilingi itu menjadi puncak energi yang akan kita dapatkan, puncak kehidupan yang kita dapatkan. Kakbah secara administrasi Tuhan letaknya adalah di Makkah dan Madinah, namun secara spiritual, kabah letaknya berada di dalam hati dan kesadaran diri.  Kakbah yang sejati adalah kabah yang kau dirikan didalam hidup kita, karena sejatinya Allah berada di dalam dirimu, dalam cintamu, ada dalam jiwamu.

Jangan melihat sesuatu itu dengan mata sendiri melihatlah sesuatu karena Allah, dengan mata Allah. Manusia akan hidup rukun karena memiliki tujuan yang sama untuk Allah. Manusia itu hanya sebatas tahu saja tentang kebenaran, yang tahu kebenaran pastinya hanyalah Allah. Kebenaran ada tempatnya dan kejujuran ada tempatnya, semua itu ada hitungannya.Yakinlah pada keyakinanmu, tanpa menyalahkan orang lain. Aurotkanlah sesuatu yang harus kamu aurotkan, benar belum tentu bagus, dan bagus belum tentu benar. Hidup itu ada yang cair ada juga yang padat. Posisi manusia hanya pada ia merasakan semuanya. Setelah ia merasa ia akan tahu ilmu apa yang akan ia dapat. Ilmu itu adalah jawaban dari apa yang kita percaya, dan yakini. Kunci itu semua adalah bagaimana kita meletekkan kebenaran, sama seperti kejujuran. Kunci kesehatan adalah pada kejujuran, dan ketulusan hati.

Namnu zaman ini mulai muncul sebuah kehidupan hologram. Kehidupan yang tidan mencerminkan kehidupan aslinya. Kehidupan yang dipenuhi kepura-puraan. Kehidupan yang dibangun dengan tema kesenangan duniawi. Tataran yang menjebak manusia. Zaman ini, mulai dibuat bentuk-bentuk kepalsuan. Nomor satunya adalah pencitraan. Seperti halnya, contoh bahwa, di dunia ini yang terpenting bukan ayam, tapi rasa ayam. Kita direkayasa untuk ditutupi disembunyikan. Kepalsuan itulah, yang menjadi makna aslinya, misal apabila ada satu, kemudian penyebutannya dijadikan dua.

Manusia dalam mencari kebenaran dibekali ilmu-ilmu, pada proses pengalaman qolbu dan sepiritualnya, diantarkan pada istilah taqwa dan bekal keyakinan. Dalam filosofi hidup orang jawa, ada ilmu yang dapat membaca hal-hal demikian. Ilmu katuranggan menjadi, ilmu dalam melihat sebuah keadaan. Di mana pada intinya manusia diajarkan untuk jangan tertipu oleh barang yang terlihat. Jangan dibohongi oleh hal yang tampak. Lihatlah sorot matanya, lihatlah urat-urat wajahnya. Wajah yang mencerminkan momentum, wajah yang mencerminkan keadaan, bagaimana karakter suasana, hingga mimik ekspresi yang ditampilkan.  Setiap keadaan memiliki makna, dan setiap kata memiliki rasa.

Sebagai contoh adalah orang yang takut tapi berkata-kata bahwa dirinya tidak takut. Orang yang demikian sebenarnya adalah orang yang membesar-mbesarkan dirinya supaya, ia tidak takut. Ia membesar-besarkan hatinya. Padahal di dalam dirinya terdapat ketakutan. Hal ini sama seperti menipu daya diri. Orang yang berani bukan berarti ia tidak takut, tapi ia tidak sadar ia berani.  Apabila kita paham, ketakutan itu wajar, apabila ketakutan tersebut ditujukkan pada tempatnya. Setiap manusia pun akan diuji dengan dua hal, pertama yakni kerinduan yang dahsyat atas harapan nikmat yang diberikan. Kedua yakni, dengan ancaman yang keras melalui siksa yang mengerikan. Hidup-hiduplah setelah mati, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.” ―QS. 3:173.


 *Apabila mengutip tulisan ini, mohon sertakan sumber yang lengkap dari penulis, dan gunakan pengutipan yang baik dan benar, terima kasih.





Selasa, 10 September 2019

Opini_Pesan Nabi Khidir





Pesan Nabi Khidir
Oleh: Aji Muhammad Said

foto dok. pribadi


Dalam Al-quran hubungan antara Nabi Khidir dan Nabi Musa tergambar melalui sebuah ayat. Yakni “Dan bagaimana kamu dapat bersabar atas sesuatu yang belum kamu mempunyai pengetahuan yang cukup tentang itu?” (Qs. Al- Khafi:68). Sebuah pesan yang disampaikan diawal dan disetiap perbincangan antara Nabi Khidir dengan Nabi Musa. Kuncinya adalah bagaimana mengendalikan diri untuk senantiasa bersabar. Kesabaran menuntun pada sikap kehati-hatian, sikap kesiapan untuk waspada terhadap apa yang akan terjadi.

Proses bertemunya Nabi Khidir dan Nabi Musa itu merupakan sebuah nilai yang memang harus dipelajari secara mendalam. Didalamnya ada pemaknaan ilmu. Pemahamannya tidak dipelajari seketika begitu saja. Ilmu itu bermacam-macam. Penyampaiannya dilakukan melalui bahasa isyarat, bahasa gerak, bahasa kias, bahasa simbolis. Ada yang memakai bahasa qalbu disampaikan melalui mimpi, setengah sadar. Pelajaran seperti itu memang tidak bisa disampaikan melalui lisan kepada orang yang belum bisa memahaminya. Sehingga dalam pencariannya, ada yang melalui berbagai pintu, dan pintu itu bisa dibuka dengan masuk ke dalam, dan dibuka untuk keluar. Maka dari itu mulailah berdzikir untuk mempelajari itu semua. Hal ini untuk menghidupkan perasaan lahiriah, perasaan akal, dan perasaan qalbu.

Pesan Nabi Khidir kepada Nabi Musa menjadikan proses pembelajaran yang dapat menjadi bekal. Sebaik-baiknya bekal adalah ilmu yang bermanfaat. Pesan Nabi Khidir yang memiliki makna mendalam adalah, suatu hari, kita sebagai manusia tidak dapat mengelak dari kesalahan karena pada saat-saat tertentu akal pasti melanggar larangan-Nya, maka pintalah ridha Allah dengan melakukan perbuatan baik.

Selain itu Nabi Khidir a.s. memperingatkan Nabi Musa a.s. dengan nada kontroversial. Pada satu sisi, ia menyuruh Nabi Musa a.s. untuk menjalankan kebaikan, namun dalam sisi yang lain, ia memvonis bahwa kesalahan harus terjadi. Sampai kapan pun, akal manusia tidak akan mampu mencapai kehendak Allah swt. Bila sudah pada tahapan ini jangan gunakan akal manusia, tapi gunakan akal kalbu. Bahkan jika perlu redam akal kalbu, sehingga yang muncul adalah kehendak-Nya. Apabila masih dalam pemikiran akal/otak manusia, sesuatu yang menjadi rahasia-Nya tidak akan ditampakkan.

Ilmu yang disampikan Nabi Khidir, tidak hanya menjadi ilmu di dunia saja. Namun ilmu tersebut bisa menjadi bekal sesudah mati, bentuknya adalah sabar lahir dan batin, menjalankan kehidupan yang tidak lepas dari kehidupan manusia, yaitu kehidupan lahir dan batin. Dalam rangka menyiapkan bekal untuk hidup setelah kematian, hidup dalam kematian, dan menderaskan aliran ma'ul hayat.

Aliran ma’ul hayat ini, mewujud menjadi  empat tempat dalam diri manusia yang ditempati yaitu raga, qalbu, roh, dan Nur Muhammad.
a. Ma'ul Hayat dalam raga: berpengaruh pada kesehatan manusia, sepanjang manusia itu menjalankan dzikir lisan/dzikir nafas. Pengaruhnya berupa meningkatkan kekebalan tubuh, mengokohnya daya tahan tubuh, semakin cepat daya sembuh, semakin kuat daya tangkap pikiran, mantap dalam berpikir. Pengaruh tersebut akan menjadi lebih kuat apabila diterapkan ke seluruh tubuh, dzikir merasuk dan menggerakkan badan.
b. Ma'ul Hayat dalam qalbu: jika ma'ul hayat telah masuk qolbu, maka membuka ilmu-ilmu yang bermanfaat di dunia dan di akhirat, juga ilham yang datang dari Allah swt. Ma'ul Hayat ini mengubah cahaya iman menjadi cahaya ketakwaan, dan cahaya penerimaan ilmu menjadi cahaya penyampaian ilmu. Hal ini memberikan kemudahan, ketika awalnya sulit menyampaikan sesuatu, menjadi diberikan kemudahan dalam menyampaikan sesuatu.
c. Ma'ul Hayat dalam roh: berlandaskan pada dzikir lisan/dzikir napas, berkembang ke dzikir qalbu, dan terdengar dzikir roh. Setelah sampai pada roh barulah ma'ul hayat dalam roh mempengaruhi penyucian roh, menjadi fitrah. Merambat dan mempengaruhi organ-organ tubuh.
d. Ma'ul Hayat pada Nur Muhammad: fungsinya untuk menemani, menunggu kedatangan ma'ul hayat dalam roh. Roh dijemput setelah disucikan lewat dzikir, setalah itu roh dibawa untuk menghadapNya.

Mati dalam Kehidupan
Dalam falsafah jawa menyebutkan bahwa "urip sajeroning pati". Kematian menjadi jalan terhapusnya diri, yakni ketiadaan yang sebenarnya serta sepenuhnya lebur dalam kefanaan. Sebagai seorang yang bermagrifat, dirinya akan mengalami kefanaan dalam diri mereka sendiri, serta bangkit kembali ketika menghadap Allah swt. Dalam kefanaan tersebut, tidak akan ditemui ketiadaan, karena mereka tidak melihat kehadiran mereka sendiri. Mati dalam kehidupan berarti hidup dengan mematikan hawa nafsu, seakan-akan tidak berhawa nafsu. Semua keinginan dimatikan, seakan-akan tidak berkeinginan. Hidup menjadi pasif, tetapi tidak menjadi pasif karena masih menjalankan kehidupan, peribadatan, dan urusan rumah tangga, dll. Dalam mempelajarinya harus matang sebagai manusia, karena bagaimanapun manusia hidup dalam kematian.

Hidup dalam kematian
Sebuah hadits rasull berbunyi; "Bekerjalah untuk mendapatkan duniamu seolah-olah kamu tidak akan mati atau hidup selama-lamanya. Bekerjalah untuk mendapatkan akhiratmu seolah-olah kamu akan mati atau menjadi mayat esok hari". Makna dari hadits tersebut adalah apa yang harus kita kerjakan adalah menghidupkan roh dan kalbu. Kalbu dihidupkan melalui zikir lisan/napas. Penyalurannya adalah darah melalui saluran nadi. Sementara itu, roh dihidupkan melalui dzikir qalbu yang masuk kedalaman qolbu, menerobos ke jiwa, lalu masuk kedalaman roh. Roh pun diajak berdzikir. Dengan demikian, untuk menghidupkan roh, kita harus menghidupkan qalbu terlebih dahulu.
Kehidupan roh dengan dzikirnya akan menghidupkan organ tubuh yang bersifat ghaib, misalnya hawa nafsu. Menghidupkan disini menggerakkan kearah kebaikan. Dalam keadaan baik itu semua organ tubuh yang bersifat lahir maupun ghaib berzikir memuji kebesaran Allah. Mereka menjadi satu kesatuan memuji kebesaran Allah, berjamaah sangat besar, dan berjumlah banyak. Tak terhitung dalam ucapan suara, waktu, anggota tubuh yang menyatu.

Dengarkanlah dzikir rohmu, karena rohmu sudah bertasbih kepadaNya. Dengan mendengarkan dzikir rohmu, hiduplah seluruh pemikiran, perasaan, penglihatan, dan sebagainya. Di akhirat nanti, roh bertanggung jawab atas semua perbuatan, sedangkan seluruh anggota tubuh, baik lahir maupun gaib, hanya akan menjadi saksi. Dalam perjalanannya manusia akan menemui berbagai macam hal. Mereka akan sadar, bahwa orang yang berkeinginan tidak akan mendapatkan apa-apa, tetapi orang yang tidak berkeinginan akan mendapatkan apa yang ia tidak sangka-sangka. Oleh karena itu hilangkanlah keinginan, jalankanlah kehendakNya. Karena pada dasarnya hidup ini menerima, dan menghamba pada apa yang Allah beri dan amanahkan kepada kita.

Kesederhanaan
Dengan hidup sederhana, ingatan akan selalu tertuju pada Allah swt., hidup dalam kemewahan akan mengakibatkan lupa diri terhadap Allah. Hal ini disebabkan diri yang hanya akan mengingat harta yang mempunyai kecenderungan ke arah bakhil. Banyak orang yang berhasil ketika diuji dengan kemelaratan. Sedikit yang berhasil ketika diuji dengan kekayaan. Kuncinya adalah hidup mengutamakan kententraman hati, bukan kehidupan lahiriah. Dalam hati hanya selalu diisi oleh Allah, tiada yang lain, keridhaan Allah lah yang utama.

Dalam filosofi jawa ada istilah tapa ngrame (bertapa dalam keramaian). Melakukan apapun atas dasar perintah Allah. Di dunia yang ramai ini, jika ada orang yang meminta pertolongan dalam bentuk apapun maka tolonglah dengan ikhlas walaupun diri dalam keadaan fakir. Selain itu dengan sholat dan menginggat Allah menjadi kunci dari setiap masalah. Hal ini sesuai dengan surat Al Ankubat ayat 45, yakni, " Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Alkitab (Alquran) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya, salat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar. Dan, sesungguhnya, mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah lain). Dan, Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Melalui jalan menginggat Allah kita akan dengan mudah menahan dan menyingkirkan sifat-sifat yang kurang baik. Adanya berzikir menjadikan ketentraman dan ketenangan hati, landasi setiap hal dengan itu semua, insyaallah kemudahan yang kita dapat. Berdzikir menjadi pintu rahmat, menjadikan diri mempunyai sikap yang terbuka pula. Maka kita harus senantiasa sadar, mawas diri. Menutup kekurangan diri sendiri sama dengan menutup diri, tidak mau menerima apa pun yang datang dari luar diri. Jika begitu, kebodohanlah yang diperoleh. Sebaliknya sifat terbuka terhadap segala hal akan membuka hal-hal yang tersembunyi, termasuk ilmu Allah.

Imam Al Ghazali menyebutkan bahwa seandainya kita memandang ke ara ilmu, niscaya kita melihatnya begitu lezat sehingga mempelajarinya karena manfaatnya. Kitapun niscaya mendapatkannya sebagai sarana menuju akhirat serta kebahagiaan juga sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah swt., Hal yang tinggi peringkatnya, seagai hak manusia, adalah kebahagiaan abadi. Sementara itu hal yang paling baik adalah sarana ilmu tersebut, yakni amal yang mengantarkan kita pada kebahagiaan tersebut. Jadi, kebahagiaan mustahil tercapai tanpa ilmu serta amal. Amal pun tidak akan tercapai, kecuali dengan ilmu. Jadi, asal kebahagiaan dunia dan akhirat itu sebenarnya adalah ilmu (Abu al Wafa':182).

Ilmu kita harus tepat dengan hati kita dengan aqidah kita dengan ahlak kita. Untuk apa punya ilmu tidak tepat dengan aqidah. Untuk apa dunia yang tidak menyatu dengan Allah di dalam diri kita. Untuk apa kita beriman tapi tidak dapat mengolah dunia kita. Beriman itu ada supaya diri kita punya pijakan punya pegangan, agar dunia ini aman, itulah prinsip hidup manusia. Islam itu ya, mengamankan. Carilah temuilah kuasailah dirimu lalu arantsementlah seluruh akal pikiran hati dan potensi untuk hal-hal baik.



*Apabila mengutip tulisan ini, mohon sertakan sumber yang lengkap dari penulis, dan gunakan pengutipan yang baik dan benar, terima kasih.


Repost_www.blog.wonosobomuda.com_Opini_Nasib Wayang di Era Generasi Milenial




Nasib Wayang di Era Generasi Milenial

Oleh: Aji Muhammad Said, S.I.Kom.


dok.pribadi.

Beranjak di Era serba digital ini, Indonesia menjadi sebuah negara yang tidak luput dari perkembangan budaya dan teknologi. Banyak sekali kegiatan, gaya hidup yang berkembang secara dinamis. Mulai dari pekerjaan konvensional menjadi pekerjaan yang praktis, ringkas dikerjakan. Sebagai contoh, pembuatan karya seni lukis, pembuatannya dikerjakan secara manual, dengan kuas, cat air, yang dilukiskan pada canvas, namun kini sebuah lukisan tidak memerlukan berbagai media dalam pembuatannya, cukup dengan satu komputer, dalam beberapa menit bisa membuat lukisan secara digital tanpa waktu yang lama. Kehadiran komputer tidak hanya memudahkan, namun memberi ruang bagi pelukis gaya baru untuk berkarya. Karyanya berupa vektor ataupun artwork digital, selain itu komputer mampu menyuguhkan berbagai hiburan secara digital. Memberikan kemudahan akses bertukar informasi, hobi, hingga kompetisi.

Inilah kemudian diikuti kelahiran generasi-generasi yang melek akan media, generasi yang tanggap terhadap teknologi, dan perubahan yang bersifat dinamis. Banyak media masa/ media sosial membentuk generasi dengan julukkan baru, yakni generasi milenial. Ciri-cirinya ketika mengamati adalah paham terhadap gadget, selalu ter-update terhadap berbagai informasi, problem sosial-politik, hingga trend yang ada di masyarakat. Generasi ini, lahir di era dunia yang serba instan, segalanya dituntut untuk cepat nan praktis, sehingga apapun yang dibutuhkan haruslah cepat terpenuhi. Terbukti dengan kemunculan platfrom media sosial, maupun forum jual beli online (fjb) yang memberikan aksesibilitas data yang mudah dalam penggunaannya.

Kehadiran generasi milenial bukan tanpa problem yang mengikuti ketika generasi ini berkembang. Ketika informasi yang sifatnya baru muncul, dianggap oleh generasi ini sebagai hal yang menarik, populer, dan memiliki kecenderungan disukai, itu akan berdampak pada berbagai situasi lanjutan dan tindakan lanjutan. Situasi-situasi dimana mereka akan menerima hal tersebut, menirunya, meyakini sebagai cara pandang, sebagai motivasi diri, hingga sesuatu yang dapat dimodifikasi, dapat dikatakan menciptakan karya-karya baru. Generasi ini juga menjadi generasi yang sangat kreatif dan memiliki pola pikir yang terbuka. Media massa sosial menjadi platform mereka untuk berkereasi menunjukkan eksistensi masing-masing dari diri mereka.

Jangan kaget zaman digital ini, banyak karya-karya dari generasi milenial muncul mewarnai seni dan kebudayaan Indonesia. Kemunculan dengan berbagai konten kreatif, menunjukkan hegemoni dan dominasi generasi ini di eranya. Seperti pepatah atau selogan yang mengatakan bahwa “Sebuah kreativitas lahir tanpa batas”. Kemunculan kreasi-kreasi ini berasal dari berbagai segi dan platfrom, tidak jarang juga mampu menarik perhatian masyarakat global. Kemunculannya menjadi api pemantik bagi kemunculan karya-karya lainnya. Seperti tongkat estafet yang selalu berpindah-pindah dari para pelari, generasi milenial adalah pelari yang tidak pernah kehabisan energi (karya).

Konten dan kreativitas merupakan dua makna yang berbeda yang digabungkan menjadi satu. Istilah konten kreatif merujuk pada karya-karya anak muda, yang mampu menghasilkan kreativitas out of the box (tidak biasa). Sebagai contoh tren sekarang yang digemari, adalah hiburan digital berupa video blog (vlog di youtube), banyak karya yang muncul dengan konten secara digital audio visual menampilkan pertunjukkan, konten video bercerita dengan berbagai tema anak muda. Ini tidaklah menjadi acara pertunjukkan semata, namun menjadi karya yang telah teroganisir, dan ter-eksplorasi, yang bisa menghasilkan ladang uang yang menguntungkan, dan itulah keunikannya.

Mencermati sejarah di masa lalu, Indonesia juga memiliki hiburan yang cukup apik di era kerajaan Demak (Raden Patah). Munculnya sebuah pertunjukkan wayang yang tidak kalah dengan pertunjukan digital di masa generasi milenial ini. Kemunculan Wayang Kulit Purwa menjadi tahapan awal sebuah seni pertunjukkan wayang Indonesia, dimana peran Raja Demak, dan Wali Sanga menjembatani kemunculan pagelaran pertunjukkan wayang berwujud seni dan dakwah ini.

Di masa kemuculan wayang ini kreativitas yang dimotori pedalang, pesiden (penyanyi), niaga (penabuh gamelan) memberikan efek seni hiburan, dan pendidikan yang berpengaruh pada sistem kepercayaan, tindakan berlandas nilai dan norma yang berbudi luhur. Ide yang muncul dalam  merupakan kreativitas pada kala itu yang juga luar biasa, karena dalam satu pertunjukkan saja bisa menampilkan berbagai seni maupun atraksi. Seni pertunjukan ini tidak hanya menampilkan wayang sebagai seni lukis, seni tatah, seni mengambar saja, tetapi ada seni suara, seni musik, hingga seni bercerita dan berdakwah dari top leadernya si pedalang.

Pada masa kemunculan wayang, tidak ada istilah event organizer  seperti sekarang ini, yang berorientasi pada pertunjukan bayaran. Pertunjukkan wayang dilaksanakan memiliki orientasi sebagai media penyebaran agama, dan pembangunan moral yang berbudi. Bahkan pementasan wayang ditujukan karena ada tasyakuran/hajatan, yang terlaksana dengan sinergi yang kuat antara pemerintah (Raja Demak), Seniman (Para Wali), hingga masyarakat (rakyat). Bersama bergotong royong, menampilkan konsep hiburan yang dibudidayakan melalui pengenalan tokoh, penyampaian cerita, diperkaya dengan tradisi masyarakat yang beragam. Dari sinilah mental dan watak masyarakat Indonesia terbentuk. Selain itu peran sentral dalang dalam pementasan wayang mampu menampilkan pertunjukkan komunikatif-informatif. Ini karena tema-tema kehidupan yang diangkat sangatlah dekat dengan kehidupan sosial masyarakat. Hal ini menegaskan juga bahwa wayang merupakan sebuah alat pendekatan masyarakat secara sosio-cultural.

Memperbandingkan konten kreatif wayang dengan konten kreatif budaya digital zaman sekarang sanggat jauh berbeda. Dimana dalam konten story telling wayang memberikan penegasan pada penyampaian dan penanaman budi pekerti, menuai dampak membentuk budaya dan karakter bangsa Indonesia, dengan salah satu contoh falsafah hidup seperti Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani (di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberikan daya kekuatan).

Sedangkan konten-konten kreatif zaman sekarang cenderung berkiblat pada budaya luar. Semisal budaya dance-fashion ala K-POP (Korea), cosplayer ottaku anime (Jepang), hingga film Box Office Hollywood (Barat). Memang tidak seperti wayang, budaya luar ini memiliki kecenderungan pada profit, dan penghasilan yang bersifat kapitalis. Itu memang bagus, patut diapresiasi, namun muncul kemudian pertanyaan seperti; Apakah budaya itu penting ? Dan bagaimana karakter sebuah bangsa dibangun oleh bangsanya sendiri? Lalu bagaimana nasib Wayang?

Generasi sekarang sebagai milenial tentunya tidak kekurangan bahan, apabila mau mengkaji, mengenal, bagaimana konsep wayang sebagai budaya sendiri. Hal inilah yang sebenarnya perlu dilakukan. Mencintai dan memberdayakan budaya sendiri. Ironis apabila konten kreatif yang disajikan, hanya berkiblat pada budaya milik bangsa lain. Konten-konten masa kini dibuat sekilas hanya bertujuan hanya berlandaskan keuntungan pribadi saja, mengenyampingkan unsur berkarakter Indonesia. Mau jadi apa ketika kelak budaya hanya menjadi timbunan materi. Uang bisa habis dan dicari, namun ilmu tidak bisa habis dapat dibagi dari generasi ke generasi inilah nilai budaya itu sendiri.

Informasi dan perubahan yang terjadi di dunia memang tidak bisa dihindari atau ditolak. Apalagi percampuran budaya semisal asimilasi, alkulturasi atau dalam bentuk yang lainnya. Tetapi sebagai bagian dari sebuah generasi, lucu saja apabila berpangku tangan, dan tidak peduli dengan budaya sendiri. Bukankah generasi milenial mempunyai sikap terbuka, mampu membawa perubahan, menjadi pelopor. Sehingga selalu ada solusi-solusi yang ditawarkan.

Harus ada tindakan nyata, misalnya memanfaatkan segala sumber daya secara kolektif maupun bernilai positif, demi merawat kebudayaan Indonesia. Tambahan era digitalisasi tidak akan menyempitkan pandangan. Justru inilah kesempatan emas memunculkan ide, gagasan baru dengan menampilkan wajah wayang Indonesia di pentas dunia. Celah selalu ada, untuk menuangkan ide-ide brilian. Manusia sebagai mahluk berbudaya pastinya bersifat dinamis, berubah namun jangan sampai hilang atau meninggalkan karakter keIndonesiaannya. Dengan era digital, selalu ada peralihan yang terjadi, wayang bisa dikonversi. Semisal menghadirkan wayang dengan ciri digital, entah itu pertunjukkannya, pembuatannya, atau wayang jenis baru. Konversi wayang dengan medium berbeda, yakni wayang bergaya milenial misalnya.

Apabila digambarkan pada tokoh dunia pewayangan generasi ini harus mantap dan kuat seperti Karakter Bima, cerdas dan cerdik seperti Krisna, jangan hanya mbebeki (mengekor budaya luar). Semua berada pada pilihan ditangan masing-masing. Menjadi generasi emas tidaklah sulit, hanya perlu mencatatkan sejarah sebagai generasi yang mengharumkan nama Indonesia. Dari ketokohan wayang kita bisa belajar bagaimana sebuah watak ideal seorang kesatria. Kemudian dari segi alur cerita seperti Ramayana, kita bisa belajar bahwa kita harus berjuang untuk apa yang kita cintai, berjuang dan tidak menyerah untuk mencapai sesuatu.

Bangsa Indonesia terlahir berdasarkan rasa integritas dan persatuan-kesatuan yang tinggi. Membangun sebuah generasi artinya membangun juga pendidikannya. Pendidikan yang bagaimana ? tentunya adalah pendidikan yang mampu meningkatkan kebudayaan itu sendiri, dengan adanya pendidikan budaya bisa ditransfer dari generasi ke generasi. Manusia sebagai mahluk berakal tentunya juga harus berevolusi untuk meningkatkan kualitas hidup, melakukan perubahan bernilai guna. Nilai-nilai yang sama seperti tujuan pendidikan nasional yang juga berasaskan pada Pancasila. Pendidikan yang memiliki tingkatan, dan bernilai kemanusiaan.

Perlu dipahami juga, bahwa budaya merupakan sumber nilai pendidikan karakter bangsa. Sebuah bangsa dikenali berdasarkan karakternya. Indonesia memiliki wayang, adanya wayang bisa menumbuhkan sikap empati, dan kepemilikan, bisa juga kemudian berkembang menjadi support system yang baik dalam menyelenggarakan pendidikan maupun kebudayaan. Jangan sampai kalah dengan budaya-budaya yang menjadi trend belakangan ini. Kita perlu menunjukkan dan membuktikan, bahwa Indonesia memiliki wayang sebagai ciri khas dan harta karun yang mampu menguncangkan dunia. Wayang milik kita generasi milenial, dan kita adalah Indonesia. Wayang merupakan budaya nasional, bukan budaya Impor. Pengindonesiaan dengan pementasan dan memperluas jangkauan budaya wayang penting dilaksanakan. Alasannya, karena kehadiran wayang merepresentasikan pendidikan, psikologi, filsafat, dan watak hidup bangsa Indonesia.




*Apabila mengutip tulisan ini, mohon sertakan sumber yang lengkap dari penulis, dan gunakan pengutipan yang baik dan benar, terima kasih.

Kamis, 04 Juli 2019

Repost_www.mjscolombo.com_Opini_Pengajian Kampung

 

Pengajian Kampung

Oleh Aji Muhammad Said 

via www.mjscolombo.com

Menapaki tradisi kebudayaan Indonesia, dapat dijumpai berbagai kearifan lokal, budaya, dan tingkat peradaban yang tinggi. Kebudayaan tradisional terlahir sebagai watak dasar sebuah peradaban, sebab tidak dipungkiri bahwa kebudayaan itu merupakan hasil budi dan daya manusia terhadap kondisi kehidupan dan lingkungannya. Hal itu terbentuk menjadi dua sifat yang dapat dikenali—ambil contoh istilah hardware dan software. Dalam budaya mungkin bisa mewujud pada karakter manusia dan karya (artefak; kerajinan tangan). Namun yang namanya peradaban budaya tidak hanya itu saja, tradisi, kebiasaan, nilai dan sistem kemasyarakatan juga termasuk di dalamnya.
Perpaduan budaya tidak hanya berhenti pada satu pola, peradaban memunculkan kebudayaan baru, teknologi, dan perkembangan zaman, menjadikan sebuah peradaban berkembang secara dinamis. Tidak luput juga bidang sejarah, politik, ekonomi, dan agama yang ikut berkaitan di dalamnya. Menjadi naluri harfiah bahwa manusia memiliki kemampuan berpikir dan mengolah kehidupan berserta isinya. Budaya memiliki andil, dan membawa hal-hal tersebut.
Ada istilah “Gotong-royong”, mungkin istilah inilah yang menunjukkan wajah-wajah Indonesia apabila didefinisikan dalam ranah kebudayaan yang beradab. Ciri ini mudah ditemui di pedesaan, kampung-kampung, pondokan, yang mengajarkan nilai-nilai luhur. Ambillah contoh bersih desa/merti desa, ruatan, syukuran, maulidan, yasinan, tahlilan, simakan, sholawatan hingga pengajian kampung. Di dalamnya ada ibadah, doa, dan penyampaian syukur kepada Sang Pencipta. Lebih pas lagi adalah pengajian kampung, berangkat dari kata mengkaji/mengaji (mendalami/belajar), dimana memiliki kecenderungan dalam belajar agama. Sedangkan kampung merujuk pada tempat di pedesaan yang syarat makna tradisional, mengemban nilai-nilai kedekatan sosial. Biasanya pengajian kampung dilaksanakan di tempat terbuka yang lapang atau masjid/mushola/langgar diisi dengan majelis taklim yang dipimpin tokoh masyarakat, alim-ulama, atau kiai yang menjadi panutan masyarakat.
Di mana manusia berkumpul, naluri perdagangan pun akan muncul sebagai penggerak roda ekonomi masyarakat. Dari segi ekonomi, pengajian kampung menjadikan masyarakat berkumpul dan memiliki pengaruh pada komoditi perdagangan. Pengajian-pengajian kampung ini tidak hanya dihadiri para orang tua saja, remaja, anak-anak, hingga balita juga ikut hadir didalamnnya. Barang dagangan yang disajikan memiliki keragaman jenis. Selain itu pesona utama yang digemari semua orang adalah makanan, ada makanan tradisional, juga ada makanan modern. Ragam jualan jajanan, semisal bakso, mie ayam, sate Madura, cilok, kacang rebus, kebab, sosis menjadi daya tarik. Hal ini menjadikan geliat perdagangan dalam kemandirian ekonomi yang tergerakkan melalui pengajian kampung.
Di sinilah kemudian terbentuk fungsi masyarakat sebagai tempat berkumpul, berinteraksi, bersilaturahmi, berkegiatan secara bersama. Merujuk konsep Pancasila pada sila keempat, yakni Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dalam kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan. Apabila dimaknai menjadi sebuah usaha bermusyawarah dalam pencarian hikmah. Pencarian tentang kebenaran, kebaikan, dan keindahan, dimana itu menjadi jalan manusia mengenali Tuhannya. Jalan bagi manusia dalam merumuskan solusi dalam kehidupan bermasyarakat dan sosial. Membentuk kemandirian dalam asas berjamaah dan persatuan-kesatuan. Menitikberatkan pada pilihan yang jujur, adil, dan terbuka terhadap berbagai kesempatan.
Ketika hikmah muncul, maka akan menimbulkan kesadaran sosial yang tinggi dalam berbuat baik, menciptakan kepedulian tinggi terhadap sesama, maupun alam semesta. Mulailah disusun sebuah konsep “Gotong-royong”. Bentuk nyatanya ada dalam pengajian kampung, dilihat, dengan partisipasi masyarakat, ada yang menjadi panitia, ada yang menjadi koordinator, ada yang sukarela memberikan bantuan tenaga-materi, ada yang kebagian jatah memberikan jaburan (jajan pasar/santapan saat pengajian), ada yang memainkan rebana, sholawatan. Semua bersatu padu dalam nilai “Gotong-royong” kebersamaan.
Atmosfir seperti inilah yang membuat sistem kekerabatan yang ada pada masyarakat menyatu, dalam pencarian kebaikan, kebenaran, dan keindahan. Masyarakat berkumpul pada satu tempat secara bersama-sama. Menjadi pemaknaan keindahan dan bekal menuju akhirat. Tidak akan sempat seseorang berprasangka buruk, berbuat zalim atau mencelakai sesamanya, ketika fokus mereka, hanya pada penghambaan kepada Tuhannya. Satu sama lain saling mengamankan sesamanya, yakni saudara, teman, tetangga, keluarga. Mengaji bersama dengan nilai persuasif yang baik, tanpa menebar amarah maupun ketakutan. Orang-orang yang mengikuti pun tenggelam dalam ketenangan dan samudra kebajikan, mengikuti dari awal sampai akhir. Tidak luput juga pujian sholawat dan suluk sebagai hiburan di sela-sela hikmah dan ilmu yang disampaikan para kiai.
Selain itu, konsep pengajian juga menjadi wadah dan bekal bagi lahirnya negara dan bangsa. Adanya faktor peradaban dan kebudayaan, menjadi bekal berdirinya sebuah negara, yang berasal dari nilai-nilai kebudayaan, dan nilai-nilai spiritual, mewujud sesuatu yang tidak tergoyahkan.
Syaikhona Kholil, sesepuh ulama di Indonesia, membekali muridnya dalam dakwah. Wejangan dakwah beliau untuk Indonesia adalah dengan memerintahkan muridnya berdakwah-belajar agama, sekaligus membangun nilai dan moral masyarakat. Dua murid dibekali kitab, sebagai simbolisasi ilmu, hingga terlahirlah dua organisasi besar NU (KH. Hasyim Asy’ari) & Muhammadiyah (KH. Muhammad Darwis/KH. Ahmad Dahlan). Dua murid yang lain ke Jombang, satu KH. Romly Tamim dibekali pisang, bertujuan membenahi ekonomi masyarakat (ekonomi kerakyatan) mewujud ekonomi dalam ranah pangan, kebutuhan sehari-hari. Satu lagi KH. Imam Zahid dibekali cincin, sebagai simbol persatuan-kesatuan, meredam konflik dengan menciptakan persatuan dan kesatuan. Berdasarkan hal tersebut, pengajian-pengajian kampung menjadi penting, apalagi dalam membangun negara.
Sama seperti cerita para ulama-kiai terdahulu, kiai kampung juga tidak kalah penting dalam pengajian-pengajian di masyarakat. Pintu-pintu berkah masuk melalui peran para kiai dalam membuka pengajian, keberkahan masuk lewat doa-doa beliau-beliau ini. Sikap taqdzim (adab untuk selalu menghormat), ikram (memuliakan), dan khidmaht (khusyuk dan fokus) seseorang terbentuk dari pengajian-pengajian ini. Kiai-kiai kampung juga tidak sembarangan memberikan dakwah. Malahan menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan halus, diikuti dengan sedikit canda, syarat kritik sosial, menunjukkan pemaknaan yang kaya simbolisasi. Tak luput juga memberikan optimisme hidup dengan prinsip “Urip mung mampir ngombe”, dimana target akhirnya adalah kesejatian hidup di akhirat. Sehingga ahklak berupa watak dan karakter masyarakat terbentuk dari nilai-nilai yang disampaikan, menjadikan wajah-wajah bangsa Indonesia berbudi dan beradab.

Repost: https://mjscolombo.com/2019/07/05/pengajian-kampung/ 


*Apabila mengutip tulisan ini, mohon sertakan sumber yang lengkap dari penulis, dan gunakan pengutipan yang baik dan benar, terima kasih.