Selasa, 10 September 2019

Opini_Pesan Nabi Khidir





Pesan Nabi Khidir
Oleh: Aji Muhammad Said

foto dok. pribadi


Dalam Al-quran hubungan antara Nabi Khidir dan Nabi Musa tergambar melalui sebuah ayat. Yakni “Dan bagaimana kamu dapat bersabar atas sesuatu yang belum kamu mempunyai pengetahuan yang cukup tentang itu?” (Qs. Al- Khafi:68). Sebuah pesan yang disampaikan diawal dan disetiap perbincangan antara Nabi Khidir dengan Nabi Musa. Kuncinya adalah bagaimana mengendalikan diri untuk senantiasa bersabar. Kesabaran menuntun pada sikap kehati-hatian, sikap kesiapan untuk waspada terhadap apa yang akan terjadi.

Proses bertemunya Nabi Khidir dan Nabi Musa itu merupakan sebuah nilai yang memang harus dipelajari secara mendalam. Didalamnya ada pemaknaan ilmu. Pemahamannya tidak dipelajari seketika begitu saja. Ilmu itu bermacam-macam. Penyampaiannya dilakukan melalui bahasa isyarat, bahasa gerak, bahasa kias, bahasa simbolis. Ada yang memakai bahasa qalbu disampaikan melalui mimpi, setengah sadar. Pelajaran seperti itu memang tidak bisa disampaikan melalui lisan kepada orang yang belum bisa memahaminya. Sehingga dalam pencariannya, ada yang melalui berbagai pintu, dan pintu itu bisa dibuka dengan masuk ke dalam, dan dibuka untuk keluar. Maka dari itu mulailah berdzikir untuk mempelajari itu semua. Hal ini untuk menghidupkan perasaan lahiriah, perasaan akal, dan perasaan qalbu.

Pesan Nabi Khidir kepada Nabi Musa menjadikan proses pembelajaran yang dapat menjadi bekal. Sebaik-baiknya bekal adalah ilmu yang bermanfaat. Pesan Nabi Khidir yang memiliki makna mendalam adalah, suatu hari, kita sebagai manusia tidak dapat mengelak dari kesalahan karena pada saat-saat tertentu akal pasti melanggar larangan-Nya, maka pintalah ridha Allah dengan melakukan perbuatan baik.

Selain itu Nabi Khidir a.s. memperingatkan Nabi Musa a.s. dengan nada kontroversial. Pada satu sisi, ia menyuruh Nabi Musa a.s. untuk menjalankan kebaikan, namun dalam sisi yang lain, ia memvonis bahwa kesalahan harus terjadi. Sampai kapan pun, akal manusia tidak akan mampu mencapai kehendak Allah swt. Bila sudah pada tahapan ini jangan gunakan akal manusia, tapi gunakan akal kalbu. Bahkan jika perlu redam akal kalbu, sehingga yang muncul adalah kehendak-Nya. Apabila masih dalam pemikiran akal/otak manusia, sesuatu yang menjadi rahasia-Nya tidak akan ditampakkan.

Ilmu yang disampikan Nabi Khidir, tidak hanya menjadi ilmu di dunia saja. Namun ilmu tersebut bisa menjadi bekal sesudah mati, bentuknya adalah sabar lahir dan batin, menjalankan kehidupan yang tidak lepas dari kehidupan manusia, yaitu kehidupan lahir dan batin. Dalam rangka menyiapkan bekal untuk hidup setelah kematian, hidup dalam kematian, dan menderaskan aliran ma'ul hayat.

Aliran ma’ul hayat ini, mewujud menjadi  empat tempat dalam diri manusia yang ditempati yaitu raga, qalbu, roh, dan Nur Muhammad.
a. Ma'ul Hayat dalam raga: berpengaruh pada kesehatan manusia, sepanjang manusia itu menjalankan dzikir lisan/dzikir nafas. Pengaruhnya berupa meningkatkan kekebalan tubuh, mengokohnya daya tahan tubuh, semakin cepat daya sembuh, semakin kuat daya tangkap pikiran, mantap dalam berpikir. Pengaruh tersebut akan menjadi lebih kuat apabila diterapkan ke seluruh tubuh, dzikir merasuk dan menggerakkan badan.
b. Ma'ul Hayat dalam qalbu: jika ma'ul hayat telah masuk qolbu, maka membuka ilmu-ilmu yang bermanfaat di dunia dan di akhirat, juga ilham yang datang dari Allah swt. Ma'ul Hayat ini mengubah cahaya iman menjadi cahaya ketakwaan, dan cahaya penerimaan ilmu menjadi cahaya penyampaian ilmu. Hal ini memberikan kemudahan, ketika awalnya sulit menyampaikan sesuatu, menjadi diberikan kemudahan dalam menyampaikan sesuatu.
c. Ma'ul Hayat dalam roh: berlandaskan pada dzikir lisan/dzikir napas, berkembang ke dzikir qalbu, dan terdengar dzikir roh. Setelah sampai pada roh barulah ma'ul hayat dalam roh mempengaruhi penyucian roh, menjadi fitrah. Merambat dan mempengaruhi organ-organ tubuh.
d. Ma'ul Hayat pada Nur Muhammad: fungsinya untuk menemani, menunggu kedatangan ma'ul hayat dalam roh. Roh dijemput setelah disucikan lewat dzikir, setalah itu roh dibawa untuk menghadapNya.

Mati dalam Kehidupan
Dalam falsafah jawa menyebutkan bahwa "urip sajeroning pati". Kematian menjadi jalan terhapusnya diri, yakni ketiadaan yang sebenarnya serta sepenuhnya lebur dalam kefanaan. Sebagai seorang yang bermagrifat, dirinya akan mengalami kefanaan dalam diri mereka sendiri, serta bangkit kembali ketika menghadap Allah swt. Dalam kefanaan tersebut, tidak akan ditemui ketiadaan, karena mereka tidak melihat kehadiran mereka sendiri. Mati dalam kehidupan berarti hidup dengan mematikan hawa nafsu, seakan-akan tidak berhawa nafsu. Semua keinginan dimatikan, seakan-akan tidak berkeinginan. Hidup menjadi pasif, tetapi tidak menjadi pasif karena masih menjalankan kehidupan, peribadatan, dan urusan rumah tangga, dll. Dalam mempelajarinya harus matang sebagai manusia, karena bagaimanapun manusia hidup dalam kematian.

Hidup dalam kematian
Sebuah hadits rasull berbunyi; "Bekerjalah untuk mendapatkan duniamu seolah-olah kamu tidak akan mati atau hidup selama-lamanya. Bekerjalah untuk mendapatkan akhiratmu seolah-olah kamu akan mati atau menjadi mayat esok hari". Makna dari hadits tersebut adalah apa yang harus kita kerjakan adalah menghidupkan roh dan kalbu. Kalbu dihidupkan melalui zikir lisan/napas. Penyalurannya adalah darah melalui saluran nadi. Sementara itu, roh dihidupkan melalui dzikir qalbu yang masuk kedalaman qolbu, menerobos ke jiwa, lalu masuk kedalaman roh. Roh pun diajak berdzikir. Dengan demikian, untuk menghidupkan roh, kita harus menghidupkan qalbu terlebih dahulu.
Kehidupan roh dengan dzikirnya akan menghidupkan organ tubuh yang bersifat ghaib, misalnya hawa nafsu. Menghidupkan disini menggerakkan kearah kebaikan. Dalam keadaan baik itu semua organ tubuh yang bersifat lahir maupun ghaib berzikir memuji kebesaran Allah. Mereka menjadi satu kesatuan memuji kebesaran Allah, berjamaah sangat besar, dan berjumlah banyak. Tak terhitung dalam ucapan suara, waktu, anggota tubuh yang menyatu.

Dengarkanlah dzikir rohmu, karena rohmu sudah bertasbih kepadaNya. Dengan mendengarkan dzikir rohmu, hiduplah seluruh pemikiran, perasaan, penglihatan, dan sebagainya. Di akhirat nanti, roh bertanggung jawab atas semua perbuatan, sedangkan seluruh anggota tubuh, baik lahir maupun gaib, hanya akan menjadi saksi. Dalam perjalanannya manusia akan menemui berbagai macam hal. Mereka akan sadar, bahwa orang yang berkeinginan tidak akan mendapatkan apa-apa, tetapi orang yang tidak berkeinginan akan mendapatkan apa yang ia tidak sangka-sangka. Oleh karena itu hilangkanlah keinginan, jalankanlah kehendakNya. Karena pada dasarnya hidup ini menerima, dan menghamba pada apa yang Allah beri dan amanahkan kepada kita.

Kesederhanaan
Dengan hidup sederhana, ingatan akan selalu tertuju pada Allah swt., hidup dalam kemewahan akan mengakibatkan lupa diri terhadap Allah. Hal ini disebabkan diri yang hanya akan mengingat harta yang mempunyai kecenderungan ke arah bakhil. Banyak orang yang berhasil ketika diuji dengan kemelaratan. Sedikit yang berhasil ketika diuji dengan kekayaan. Kuncinya adalah hidup mengutamakan kententraman hati, bukan kehidupan lahiriah. Dalam hati hanya selalu diisi oleh Allah, tiada yang lain, keridhaan Allah lah yang utama.

Dalam filosofi jawa ada istilah tapa ngrame (bertapa dalam keramaian). Melakukan apapun atas dasar perintah Allah. Di dunia yang ramai ini, jika ada orang yang meminta pertolongan dalam bentuk apapun maka tolonglah dengan ikhlas walaupun diri dalam keadaan fakir. Selain itu dengan sholat dan menginggat Allah menjadi kunci dari setiap masalah. Hal ini sesuai dengan surat Al Ankubat ayat 45, yakni, " Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Alkitab (Alquran) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya, salat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar. Dan, sesungguhnya, mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah lain). Dan, Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Melalui jalan menginggat Allah kita akan dengan mudah menahan dan menyingkirkan sifat-sifat yang kurang baik. Adanya berzikir menjadikan ketentraman dan ketenangan hati, landasi setiap hal dengan itu semua, insyaallah kemudahan yang kita dapat. Berdzikir menjadi pintu rahmat, menjadikan diri mempunyai sikap yang terbuka pula. Maka kita harus senantiasa sadar, mawas diri. Menutup kekurangan diri sendiri sama dengan menutup diri, tidak mau menerima apa pun yang datang dari luar diri. Jika begitu, kebodohanlah yang diperoleh. Sebaliknya sifat terbuka terhadap segala hal akan membuka hal-hal yang tersembunyi, termasuk ilmu Allah.

Imam Al Ghazali menyebutkan bahwa seandainya kita memandang ke ara ilmu, niscaya kita melihatnya begitu lezat sehingga mempelajarinya karena manfaatnya. Kitapun niscaya mendapatkannya sebagai sarana menuju akhirat serta kebahagiaan juga sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah swt., Hal yang tinggi peringkatnya, seagai hak manusia, adalah kebahagiaan abadi. Sementara itu hal yang paling baik adalah sarana ilmu tersebut, yakni amal yang mengantarkan kita pada kebahagiaan tersebut. Jadi, kebahagiaan mustahil tercapai tanpa ilmu serta amal. Amal pun tidak akan tercapai, kecuali dengan ilmu. Jadi, asal kebahagiaan dunia dan akhirat itu sebenarnya adalah ilmu (Abu al Wafa':182).

Ilmu kita harus tepat dengan hati kita dengan aqidah kita dengan ahlak kita. Untuk apa punya ilmu tidak tepat dengan aqidah. Untuk apa dunia yang tidak menyatu dengan Allah di dalam diri kita. Untuk apa kita beriman tapi tidak dapat mengolah dunia kita. Beriman itu ada supaya diri kita punya pijakan punya pegangan, agar dunia ini aman, itulah prinsip hidup manusia. Islam itu ya, mengamankan. Carilah temuilah kuasailah dirimu lalu arantsementlah seluruh akal pikiran hati dan potensi untuk hal-hal baik.



*Apabila mengutip tulisan ini, mohon sertakan sumber yang lengkap dari penulis, dan gunakan pengutipan yang baik dan benar, terima kasih.


Repost_www.blog.wonosobomuda.com_Opini_Nasib Wayang di Era Generasi Milenial




Nasib Wayang di Era Generasi Milenial

Oleh: Aji Muhammad Said, S.I.Kom.


dok.pribadi.

Beranjak di Era serba digital ini, Indonesia menjadi sebuah negara yang tidak luput dari perkembangan budaya dan teknologi. Banyak sekali kegiatan, gaya hidup yang berkembang secara dinamis. Mulai dari pekerjaan konvensional menjadi pekerjaan yang praktis, ringkas dikerjakan. Sebagai contoh, pembuatan karya seni lukis, pembuatannya dikerjakan secara manual, dengan kuas, cat air, yang dilukiskan pada canvas, namun kini sebuah lukisan tidak memerlukan berbagai media dalam pembuatannya, cukup dengan satu komputer, dalam beberapa menit bisa membuat lukisan secara digital tanpa waktu yang lama. Kehadiran komputer tidak hanya memudahkan, namun memberi ruang bagi pelukis gaya baru untuk berkarya. Karyanya berupa vektor ataupun artwork digital, selain itu komputer mampu menyuguhkan berbagai hiburan secara digital. Memberikan kemudahan akses bertukar informasi, hobi, hingga kompetisi.

Inilah kemudian diikuti kelahiran generasi-generasi yang melek akan media, generasi yang tanggap terhadap teknologi, dan perubahan yang bersifat dinamis. Banyak media masa/ media sosial membentuk generasi dengan julukkan baru, yakni generasi milenial. Ciri-cirinya ketika mengamati adalah paham terhadap gadget, selalu ter-update terhadap berbagai informasi, problem sosial-politik, hingga trend yang ada di masyarakat. Generasi ini, lahir di era dunia yang serba instan, segalanya dituntut untuk cepat nan praktis, sehingga apapun yang dibutuhkan haruslah cepat terpenuhi. Terbukti dengan kemunculan platfrom media sosial, maupun forum jual beli online (fjb) yang memberikan aksesibilitas data yang mudah dalam penggunaannya.

Kehadiran generasi milenial bukan tanpa problem yang mengikuti ketika generasi ini berkembang. Ketika informasi yang sifatnya baru muncul, dianggap oleh generasi ini sebagai hal yang menarik, populer, dan memiliki kecenderungan disukai, itu akan berdampak pada berbagai situasi lanjutan dan tindakan lanjutan. Situasi-situasi dimana mereka akan menerima hal tersebut, menirunya, meyakini sebagai cara pandang, sebagai motivasi diri, hingga sesuatu yang dapat dimodifikasi, dapat dikatakan menciptakan karya-karya baru. Generasi ini juga menjadi generasi yang sangat kreatif dan memiliki pola pikir yang terbuka. Media massa sosial menjadi platform mereka untuk berkereasi menunjukkan eksistensi masing-masing dari diri mereka.

Jangan kaget zaman digital ini, banyak karya-karya dari generasi milenial muncul mewarnai seni dan kebudayaan Indonesia. Kemunculan dengan berbagai konten kreatif, menunjukkan hegemoni dan dominasi generasi ini di eranya. Seperti pepatah atau selogan yang mengatakan bahwa “Sebuah kreativitas lahir tanpa batas”. Kemunculan kreasi-kreasi ini berasal dari berbagai segi dan platfrom, tidak jarang juga mampu menarik perhatian masyarakat global. Kemunculannya menjadi api pemantik bagi kemunculan karya-karya lainnya. Seperti tongkat estafet yang selalu berpindah-pindah dari para pelari, generasi milenial adalah pelari yang tidak pernah kehabisan energi (karya).

Konten dan kreativitas merupakan dua makna yang berbeda yang digabungkan menjadi satu. Istilah konten kreatif merujuk pada karya-karya anak muda, yang mampu menghasilkan kreativitas out of the box (tidak biasa). Sebagai contoh tren sekarang yang digemari, adalah hiburan digital berupa video blog (vlog di youtube), banyak karya yang muncul dengan konten secara digital audio visual menampilkan pertunjukkan, konten video bercerita dengan berbagai tema anak muda. Ini tidaklah menjadi acara pertunjukkan semata, namun menjadi karya yang telah teroganisir, dan ter-eksplorasi, yang bisa menghasilkan ladang uang yang menguntungkan, dan itulah keunikannya.

Mencermati sejarah di masa lalu, Indonesia juga memiliki hiburan yang cukup apik di era kerajaan Demak (Raden Patah). Munculnya sebuah pertunjukkan wayang yang tidak kalah dengan pertunjukan digital di masa generasi milenial ini. Kemunculan Wayang Kulit Purwa menjadi tahapan awal sebuah seni pertunjukkan wayang Indonesia, dimana peran Raja Demak, dan Wali Sanga menjembatani kemunculan pagelaran pertunjukkan wayang berwujud seni dan dakwah ini.

Di masa kemuculan wayang ini kreativitas yang dimotori pedalang, pesiden (penyanyi), niaga (penabuh gamelan) memberikan efek seni hiburan, dan pendidikan yang berpengaruh pada sistem kepercayaan, tindakan berlandas nilai dan norma yang berbudi luhur. Ide yang muncul dalam  merupakan kreativitas pada kala itu yang juga luar biasa, karena dalam satu pertunjukkan saja bisa menampilkan berbagai seni maupun atraksi. Seni pertunjukan ini tidak hanya menampilkan wayang sebagai seni lukis, seni tatah, seni mengambar saja, tetapi ada seni suara, seni musik, hingga seni bercerita dan berdakwah dari top leadernya si pedalang.

Pada masa kemunculan wayang, tidak ada istilah event organizer  seperti sekarang ini, yang berorientasi pada pertunjukan bayaran. Pertunjukkan wayang dilaksanakan memiliki orientasi sebagai media penyebaran agama, dan pembangunan moral yang berbudi. Bahkan pementasan wayang ditujukan karena ada tasyakuran/hajatan, yang terlaksana dengan sinergi yang kuat antara pemerintah (Raja Demak), Seniman (Para Wali), hingga masyarakat (rakyat). Bersama bergotong royong, menampilkan konsep hiburan yang dibudidayakan melalui pengenalan tokoh, penyampaian cerita, diperkaya dengan tradisi masyarakat yang beragam. Dari sinilah mental dan watak masyarakat Indonesia terbentuk. Selain itu peran sentral dalang dalam pementasan wayang mampu menampilkan pertunjukkan komunikatif-informatif. Ini karena tema-tema kehidupan yang diangkat sangatlah dekat dengan kehidupan sosial masyarakat. Hal ini menegaskan juga bahwa wayang merupakan sebuah alat pendekatan masyarakat secara sosio-cultural.

Memperbandingkan konten kreatif wayang dengan konten kreatif budaya digital zaman sekarang sanggat jauh berbeda. Dimana dalam konten story telling wayang memberikan penegasan pada penyampaian dan penanaman budi pekerti, menuai dampak membentuk budaya dan karakter bangsa Indonesia, dengan salah satu contoh falsafah hidup seperti Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani (di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberikan daya kekuatan).

Sedangkan konten-konten kreatif zaman sekarang cenderung berkiblat pada budaya luar. Semisal budaya dance-fashion ala K-POP (Korea), cosplayer ottaku anime (Jepang), hingga film Box Office Hollywood (Barat). Memang tidak seperti wayang, budaya luar ini memiliki kecenderungan pada profit, dan penghasilan yang bersifat kapitalis. Itu memang bagus, patut diapresiasi, namun muncul kemudian pertanyaan seperti; Apakah budaya itu penting ? Dan bagaimana karakter sebuah bangsa dibangun oleh bangsanya sendiri? Lalu bagaimana nasib Wayang?

Generasi sekarang sebagai milenial tentunya tidak kekurangan bahan, apabila mau mengkaji, mengenal, bagaimana konsep wayang sebagai budaya sendiri. Hal inilah yang sebenarnya perlu dilakukan. Mencintai dan memberdayakan budaya sendiri. Ironis apabila konten kreatif yang disajikan, hanya berkiblat pada budaya milik bangsa lain. Konten-konten masa kini dibuat sekilas hanya bertujuan hanya berlandaskan keuntungan pribadi saja, mengenyampingkan unsur berkarakter Indonesia. Mau jadi apa ketika kelak budaya hanya menjadi timbunan materi. Uang bisa habis dan dicari, namun ilmu tidak bisa habis dapat dibagi dari generasi ke generasi inilah nilai budaya itu sendiri.

Informasi dan perubahan yang terjadi di dunia memang tidak bisa dihindari atau ditolak. Apalagi percampuran budaya semisal asimilasi, alkulturasi atau dalam bentuk yang lainnya. Tetapi sebagai bagian dari sebuah generasi, lucu saja apabila berpangku tangan, dan tidak peduli dengan budaya sendiri. Bukankah generasi milenial mempunyai sikap terbuka, mampu membawa perubahan, menjadi pelopor. Sehingga selalu ada solusi-solusi yang ditawarkan.

Harus ada tindakan nyata, misalnya memanfaatkan segala sumber daya secara kolektif maupun bernilai positif, demi merawat kebudayaan Indonesia. Tambahan era digitalisasi tidak akan menyempitkan pandangan. Justru inilah kesempatan emas memunculkan ide, gagasan baru dengan menampilkan wajah wayang Indonesia di pentas dunia. Celah selalu ada, untuk menuangkan ide-ide brilian. Manusia sebagai mahluk berbudaya pastinya bersifat dinamis, berubah namun jangan sampai hilang atau meninggalkan karakter keIndonesiaannya. Dengan era digital, selalu ada peralihan yang terjadi, wayang bisa dikonversi. Semisal menghadirkan wayang dengan ciri digital, entah itu pertunjukkannya, pembuatannya, atau wayang jenis baru. Konversi wayang dengan medium berbeda, yakni wayang bergaya milenial misalnya.

Apabila digambarkan pada tokoh dunia pewayangan generasi ini harus mantap dan kuat seperti Karakter Bima, cerdas dan cerdik seperti Krisna, jangan hanya mbebeki (mengekor budaya luar). Semua berada pada pilihan ditangan masing-masing. Menjadi generasi emas tidaklah sulit, hanya perlu mencatatkan sejarah sebagai generasi yang mengharumkan nama Indonesia. Dari ketokohan wayang kita bisa belajar bagaimana sebuah watak ideal seorang kesatria. Kemudian dari segi alur cerita seperti Ramayana, kita bisa belajar bahwa kita harus berjuang untuk apa yang kita cintai, berjuang dan tidak menyerah untuk mencapai sesuatu.

Bangsa Indonesia terlahir berdasarkan rasa integritas dan persatuan-kesatuan yang tinggi. Membangun sebuah generasi artinya membangun juga pendidikannya. Pendidikan yang bagaimana ? tentunya adalah pendidikan yang mampu meningkatkan kebudayaan itu sendiri, dengan adanya pendidikan budaya bisa ditransfer dari generasi ke generasi. Manusia sebagai mahluk berakal tentunya juga harus berevolusi untuk meningkatkan kualitas hidup, melakukan perubahan bernilai guna. Nilai-nilai yang sama seperti tujuan pendidikan nasional yang juga berasaskan pada Pancasila. Pendidikan yang memiliki tingkatan, dan bernilai kemanusiaan.

Perlu dipahami juga, bahwa budaya merupakan sumber nilai pendidikan karakter bangsa. Sebuah bangsa dikenali berdasarkan karakternya. Indonesia memiliki wayang, adanya wayang bisa menumbuhkan sikap empati, dan kepemilikan, bisa juga kemudian berkembang menjadi support system yang baik dalam menyelenggarakan pendidikan maupun kebudayaan. Jangan sampai kalah dengan budaya-budaya yang menjadi trend belakangan ini. Kita perlu menunjukkan dan membuktikan, bahwa Indonesia memiliki wayang sebagai ciri khas dan harta karun yang mampu menguncangkan dunia. Wayang milik kita generasi milenial, dan kita adalah Indonesia. Wayang merupakan budaya nasional, bukan budaya Impor. Pengindonesiaan dengan pementasan dan memperluas jangkauan budaya wayang penting dilaksanakan. Alasannya, karena kehadiran wayang merepresentasikan pendidikan, psikologi, filsafat, dan watak hidup bangsa Indonesia.




*Apabila mengutip tulisan ini, mohon sertakan sumber yang lengkap dari penulis, dan gunakan pengutipan yang baik dan benar, terima kasih.

Kamis, 04 Juli 2019

Repost_www.mjscolombo.com_Opini_Pengajian Kampung

 

Pengajian Kampung

Oleh Aji Muhammad Said 

via www.mjscolombo.com

Menapaki tradisi kebudayaan Indonesia, dapat dijumpai berbagai kearifan lokal, budaya, dan tingkat peradaban yang tinggi. Kebudayaan tradisional terlahir sebagai watak dasar sebuah peradaban, sebab tidak dipungkiri bahwa kebudayaan itu merupakan hasil budi dan daya manusia terhadap kondisi kehidupan dan lingkungannya. Hal itu terbentuk menjadi dua sifat yang dapat dikenali—ambil contoh istilah hardware dan software. Dalam budaya mungkin bisa mewujud pada karakter manusia dan karya (artefak; kerajinan tangan). Namun yang namanya peradaban budaya tidak hanya itu saja, tradisi, kebiasaan, nilai dan sistem kemasyarakatan juga termasuk di dalamnya.
Perpaduan budaya tidak hanya berhenti pada satu pola, peradaban memunculkan kebudayaan baru, teknologi, dan perkembangan zaman, menjadikan sebuah peradaban berkembang secara dinamis. Tidak luput juga bidang sejarah, politik, ekonomi, dan agama yang ikut berkaitan di dalamnya. Menjadi naluri harfiah bahwa manusia memiliki kemampuan berpikir dan mengolah kehidupan berserta isinya. Budaya memiliki andil, dan membawa hal-hal tersebut.
Ada istilah “Gotong-royong”, mungkin istilah inilah yang menunjukkan wajah-wajah Indonesia apabila didefinisikan dalam ranah kebudayaan yang beradab. Ciri ini mudah ditemui di pedesaan, kampung-kampung, pondokan, yang mengajarkan nilai-nilai luhur. Ambillah contoh bersih desa/merti desa, ruatan, syukuran, maulidan, yasinan, tahlilan, simakan, sholawatan hingga pengajian kampung. Di dalamnya ada ibadah, doa, dan penyampaian syukur kepada Sang Pencipta. Lebih pas lagi adalah pengajian kampung, berangkat dari kata mengkaji/mengaji (mendalami/belajar), dimana memiliki kecenderungan dalam belajar agama. Sedangkan kampung merujuk pada tempat di pedesaan yang syarat makna tradisional, mengemban nilai-nilai kedekatan sosial. Biasanya pengajian kampung dilaksanakan di tempat terbuka yang lapang atau masjid/mushola/langgar diisi dengan majelis taklim yang dipimpin tokoh masyarakat, alim-ulama, atau kiai yang menjadi panutan masyarakat.
Di mana manusia berkumpul, naluri perdagangan pun akan muncul sebagai penggerak roda ekonomi masyarakat. Dari segi ekonomi, pengajian kampung menjadikan masyarakat berkumpul dan memiliki pengaruh pada komoditi perdagangan. Pengajian-pengajian kampung ini tidak hanya dihadiri para orang tua saja, remaja, anak-anak, hingga balita juga ikut hadir didalamnnya. Barang dagangan yang disajikan memiliki keragaman jenis. Selain itu pesona utama yang digemari semua orang adalah makanan, ada makanan tradisional, juga ada makanan modern. Ragam jualan jajanan, semisal bakso, mie ayam, sate Madura, cilok, kacang rebus, kebab, sosis menjadi daya tarik. Hal ini menjadikan geliat perdagangan dalam kemandirian ekonomi yang tergerakkan melalui pengajian kampung.
Di sinilah kemudian terbentuk fungsi masyarakat sebagai tempat berkumpul, berinteraksi, bersilaturahmi, berkegiatan secara bersama. Merujuk konsep Pancasila pada sila keempat, yakni Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dalam kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan. Apabila dimaknai menjadi sebuah usaha bermusyawarah dalam pencarian hikmah. Pencarian tentang kebenaran, kebaikan, dan keindahan, dimana itu menjadi jalan manusia mengenali Tuhannya. Jalan bagi manusia dalam merumuskan solusi dalam kehidupan bermasyarakat dan sosial. Membentuk kemandirian dalam asas berjamaah dan persatuan-kesatuan. Menitikberatkan pada pilihan yang jujur, adil, dan terbuka terhadap berbagai kesempatan.
Ketika hikmah muncul, maka akan menimbulkan kesadaran sosial yang tinggi dalam berbuat baik, menciptakan kepedulian tinggi terhadap sesama, maupun alam semesta. Mulailah disusun sebuah konsep “Gotong-royong”. Bentuk nyatanya ada dalam pengajian kampung, dilihat, dengan partisipasi masyarakat, ada yang menjadi panitia, ada yang menjadi koordinator, ada yang sukarela memberikan bantuan tenaga-materi, ada yang kebagian jatah memberikan jaburan (jajan pasar/santapan saat pengajian), ada yang memainkan rebana, sholawatan. Semua bersatu padu dalam nilai “Gotong-royong” kebersamaan.
Atmosfir seperti inilah yang membuat sistem kekerabatan yang ada pada masyarakat menyatu, dalam pencarian kebaikan, kebenaran, dan keindahan. Masyarakat berkumpul pada satu tempat secara bersama-sama. Menjadi pemaknaan keindahan dan bekal menuju akhirat. Tidak akan sempat seseorang berprasangka buruk, berbuat zalim atau mencelakai sesamanya, ketika fokus mereka, hanya pada penghambaan kepada Tuhannya. Satu sama lain saling mengamankan sesamanya, yakni saudara, teman, tetangga, keluarga. Mengaji bersama dengan nilai persuasif yang baik, tanpa menebar amarah maupun ketakutan. Orang-orang yang mengikuti pun tenggelam dalam ketenangan dan samudra kebajikan, mengikuti dari awal sampai akhir. Tidak luput juga pujian sholawat dan suluk sebagai hiburan di sela-sela hikmah dan ilmu yang disampaikan para kiai.
Selain itu, konsep pengajian juga menjadi wadah dan bekal bagi lahirnya negara dan bangsa. Adanya faktor peradaban dan kebudayaan, menjadi bekal berdirinya sebuah negara, yang berasal dari nilai-nilai kebudayaan, dan nilai-nilai spiritual, mewujud sesuatu yang tidak tergoyahkan.
Syaikhona Kholil, sesepuh ulama di Indonesia, membekali muridnya dalam dakwah. Wejangan dakwah beliau untuk Indonesia adalah dengan memerintahkan muridnya berdakwah-belajar agama, sekaligus membangun nilai dan moral masyarakat. Dua murid dibekali kitab, sebagai simbolisasi ilmu, hingga terlahirlah dua organisasi besar NU (KH. Hasyim Asy’ari) & Muhammadiyah (KH. Muhammad Darwis/KH. Ahmad Dahlan). Dua murid yang lain ke Jombang, satu KH. Romly Tamim dibekali pisang, bertujuan membenahi ekonomi masyarakat (ekonomi kerakyatan) mewujud ekonomi dalam ranah pangan, kebutuhan sehari-hari. Satu lagi KH. Imam Zahid dibekali cincin, sebagai simbol persatuan-kesatuan, meredam konflik dengan menciptakan persatuan dan kesatuan. Berdasarkan hal tersebut, pengajian-pengajian kampung menjadi penting, apalagi dalam membangun negara.
Sama seperti cerita para ulama-kiai terdahulu, kiai kampung juga tidak kalah penting dalam pengajian-pengajian di masyarakat. Pintu-pintu berkah masuk melalui peran para kiai dalam membuka pengajian, keberkahan masuk lewat doa-doa beliau-beliau ini. Sikap taqdzim (adab untuk selalu menghormat), ikram (memuliakan), dan khidmaht (khusyuk dan fokus) seseorang terbentuk dari pengajian-pengajian ini. Kiai-kiai kampung juga tidak sembarangan memberikan dakwah. Malahan menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan halus, diikuti dengan sedikit canda, syarat kritik sosial, menunjukkan pemaknaan yang kaya simbolisasi. Tak luput juga memberikan optimisme hidup dengan prinsip “Urip mung mampir ngombe”, dimana target akhirnya adalah kesejatian hidup di akhirat. Sehingga ahklak berupa watak dan karakter masyarakat terbentuk dari nilai-nilai yang disampaikan, menjadikan wajah-wajah bangsa Indonesia berbudi dan beradab.

Repost: https://mjscolombo.com/2019/07/05/pengajian-kampung/ 


*Apabila mengutip tulisan ini, mohon sertakan sumber yang lengkap dari penulis, dan gunakan pengutipan yang baik dan benar, terima kasih.

Selasa, 04 Juni 2019

Opini_ Menuju Ketaqwaan



Menuju Ketaqwaan

Oleh: Aji Muhammad Said



ilustrasi by author



Islam tidak hanya berdiri sebagai sebuah aqidah, namun ahlaq juga. Pengejawantahannya, apabila merujuk tokoh pewayangan. Menjelma menjadi sosok Bima, simbol keteguhan hati, Arjuna, keluesan hati, Puntadewa kelembutan hati, dan Nakula-Sadewa wujud keseimbangan hati. Sebagai manusia tidaklah hanya memiliki satu dari makna karakter sifat salah satu tokoh pewayangan tersebut. Namun harus menanam nilai dari tiap-tiap masing tokohnya. Allah menyediakan semua tempat dengan ragam hikmah (wisdom)-Nya masing-masing. Lita'arufu (saling mengenal). Mereka mampu mengenal hikmah yang beragam untuk mencapai ketaqwaan. 


Posisi manusia tidak di "adalah", tapi di "semoga", tidak di "pasti", tapi di "insya Allah". Manusia terletak pada ketidak pastian, dalam perjalanannya diliputi penderitaan, kepura-puraan, dan penyingkapan kebenaran. Kenyataan yang terjadi tentulah tidak sama bagi manusia, yang terpenting adalah kenyataan yang Allah perlihatkan, itulah yang terpenting. Kalau dalam teori barat kebenaran, kebaikan, keindahan itu memiliki wilayah sendiri-sendiri. Jika kebenaran itu urusan intelektual di sekolah dan pendidikan formal. Jika kebaikan itu urusan kiyai, ulama, dll. Sedangkan keindahan itu urusan Seniman. Akhirnya manusia itu dibagi-bagi, maka jadilah manusia menjadi manusia sepertiga semuanya. 


Intropeksi diri menjadi jalur pembuka, melihat kekurangan diri dalam menapaki hidup. Apa yang belum dikuasai, apa kesalahan yang jangan sampai terulang lagi. Belajar dari masalah yang dihadapi. Menjaga diri, menjaga ahlaq. Niat baik dengan kesiapan lahir-batin yang cukup, menjadikan seseorang tangguh secara mental dan hati dalam mengurai masalah kehidupan. Pahami dalam menghadapi masalah uraian medan dan petanya. Tidak memutuskan sesuatu secara sepihak, melihat secara terukur dan sebab-akibatnya. 


Tidak lupa juga konsep kaya dalam Islam. Taqwa dan Tawakal itu mewujud menjadi keberkahan. Islam menentang memiskinkan/pemiskinan kepada orang lain. Sehingga munculah istilah kekayaan, namanya kekayaan adalah orang yang mampu memberikan kebaikan kepada orang lain juga. Memberikan apa yang ia miliki untuk orang lain, dengan memiliki kekayaan yang mampu bermanfaat berguna tidak hanya bagi dirinya, tapi orang lain juga. Islam itu memiliki cinta juga yang harus dibagi, Bukan kata-kata yang membuat cinta diterima, tapi ketulusan di dalam dada agar cinta diterima. Allah memberikan perintah jangan selalu dipahami dengan akal-pikiran, namun maknailah itu dengan nurani-ketaqwaan yang menuntun pada jalan keberkahan. Sehingga orang yang kaya hati senantiasa berbagi cinta, orang yang kaya materi senantiasa berbagi dengan sodaqoh, orang yang kaya ilmu senantiasa berbagi dengan dakwah.






Dakwah 


Dakwah menjadi bagian iman, ilmu, dan amal yang kita bagi dengan yang lain. Menyeru, memanggil, dan menjamu,menjadikan Islam ramah bukan marah, mengajak bukan memaksa, pengambaran sebagai contoh, bukan hanya pembiasan normatif. Dakwah jangan dipersempit memunculkan kekerasan. Dakwah meliputi dua hal, pertama kepada sesama manusia, kedua kepada Allah mewujud permintaan berupa doa. Doa kepada Allah adalah bentuk cinta, penghambaan diri. Penyampaian dakwah berdasarkan apa yang kita tahu merujuk pada penghambaan dan ketaqwaan. Melalui konsep Tadabur yang menjadi ouput manfaat bagi semua, yakni pencarian ilmu dalam Al-quran, diimbangi dengan Tafakur yakni perenungan mendalam dan berefleksi, pencarian ilmu dalam alam semesta. Kemudian diterapkan menjadi Tadzkir yakni pemanfaatan dan pengetahuan atas alam dan kehidupan.


Pemahaman Islam harus direkonstruksikan, segala sesuatu itu berbeda, ada sekalanya, perspektif pandang, sudut pandang, resolusi pandang. Tugas pedakwah adalah memberikan alternatif-alternatif solusi. Masalah ada yang mustahil diselesaikan, ada yang pasti bisa selesaikan, ada yang mungkin bisa diselesaikan. Semua ibadah itu adalah kebahagiaan, temukan Allah dimanapun kita berada. Pada tahap praktis, manusia bukan hanya sekadar harus makin rajin-rajin sembahyang dan puasa, tapi juga menerjemahkan segala kearifan agama-agama ke dalam sistem nilai pengelolaan sejarah, kebudayaan, dan peradabannya. Kemudian kembali pada Allah (ilaihi raji'un). 


Taqwa


Rupanya selalu ada pertentangan dalam merumuskan apa yang disebut baik, jujur, mulia, benar, konstitusional, edukatif, atau apa saja. Bergantung mata siapa yang memandangnya. Bergantung hati siapa yang merasakannya. Bergantung mulut siapa yang mengucapkannya. Bergantung siapa yang punya kepentingan, siapa yang berkuasa. Lantas kita menanti kemana? Dunia adalah kontestasi paradok dua anggapan yang bertentangan, dimana sebenarnya ujungnya menjadi satu kesatuan bertauhid. Jawabannya melihat segala sesuatu dengan mata Allah, maka apa hak manusia yang tidak bisa bikin matanya sendiri untuk tidak melihat sesuatu secara Allah.


Hidup penuh kejutan, pemaknaan tertingginya adalah dengan bersyukur. Juga keinginan tidak terbatas, dengan usaha untuk mengendalikan, menjadi wajah hidup untuk berpuasa. Berlatihlah untuk sumeleh, melatih diri sendiri untuk merelakan segala hal yang takut untuk merasa kehilangan. Yang sebenarnya menjadi milik kita itu hanya pinjaman, dari Allah. Kita diberikan kesempatan untuk mencicipi dunia, karena sesungguhnya diri kita pun adalah milik Allah. Apapun yang kita minta kepada Allah maka akan diberikannya, tapi dibalik itu semua ada timbal baliknya, Allah akan mengambil sesuatu dari hidup kita, yang disukai/cintai, sebagai imbalan dari apa yang kita minta, jadi intinya segala urusan dunia dan akhirat tidak ada yang GRATIS! wajib bayar. Bayar itu dengan niat baik, doa, ketulusan, cinta, dan usahamu.


Apa saja yang menimpa kita pasti menghadirkan makna meskipun sering kali sulit dicerna. Dalam kitab kehidupan, setiap halaman memiliki dua sisi. Di sisi pertama kita menuliskan rencana, impian dan harapan kita. Di sisi sebaliknya terisi takdir, yang ketetapannya jarang sesuai dambaan. Sering kita mengalami perbedaan, jangan jadikan itu masalah. Pendapat orang lain bisa saja menjadi cakrawala pandangan kita, dan pendapat kita bisa menambahkan pandangan orang lain, kepercayaan yang kita miliki tetap menjadi milik kita, dan kepercayaan orang lain tetap menjadi kepercayaannya, dan kita berdaulat atas diri kita sendiri. 


Sampailah pada titik bahwa kita sadar diri kita itu tidak berdaya sama sekali. Jadikanlah kemudian doa menjadi senjata yang selalu dipanjatkan kepada Allah. Inilah hidup, banyak sekali harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan, banyak kenyataan yang tidak diinginkan, maka kemudian ada konsep taqwa dan tawaqal, yang selalu pasrah apapun kepada Tuhan. Meskipun tangga itu licin, kita harus terus berjuang menaiki tangga tersebut, meskipun harus jatuh dan terpeleset, tangga itu harus dinaiki sampai puncaknya, inilah esensi hidup itu.






Kesibukan insan khamil adalah mencurahkan dan menciptakan ketenangan bagi mahluk: mereka adalah para pencari sekaligus pemberi. Mereka mencari sesuatu dari karunia Allah dan rahmatNya. Lalu mereka memberikannya untuk kepentingan kemanusiaan, sehingga keberadaan mereka mempengaruhi setiap yang ada. Manunggal adalah menyatunya sifat, asma, af'al manusia dengan sifat, Asma, dan af'al Allah, atau menyatunya kodrat dan Iradat manusia dengan kodrat dan iradat Allah. Semua ini menunjukkan arti dari makna posisi manusia sebagai khalifatulloh. Untuk menjadi khalifatulloh dibutuhkan pengetahuan langsung apa yang menjadi kehendak dan ketetapanNya. Tanpa itu manusia hanya akan menuhankan dirinya sebagai budak hawa nafsu. 


Seringkali ada istilah mujahadah, itu merupakan sarana dekat pada Allah. Mujahadah adalah menyediakan waktu khusus untuk mengasingkan diri dari keramaian, dengan tujuan melatih diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui aktivitas dzikrullah total. Semua hal keduniawian disingkirkan dari segenap aktivitas, pikiran, hati dan fisik. Waktu yang diambil khusus untuk Allah semata. Jenis perbuatan yang bisa dilakukan meliputi sholat, doa, wirid, dzikir, dan ibadah lainya. Mujahadah dianjurkan bersih secara lahir dan batin. Inilah kesempatan-kesempatan yang ada menuju taqwa sendari bekal menuju rumah kita kembali kelak.


Pengabdian diri


Dalam bahasa Sufistik, seperti yang dirumuskan Hasan-Rabiah, yang ada ibadah bukan hanya pengabdian, melainkan kerinduan untuk secara tak berselang sedikit pun kepada Tuhan, ainama tuwallu fatsamma wajh Allah. Secara sederhana orang membagi agama dalam dua wilayah kerja analisis, yakni wahyu yang berwajah ilahiah dan serangkaian perilaku (tindakan) pemeluk yang meyakini-dan memiliki keharusan untuk menerjemahkannya dalam kehidupan yang nyata. Hubungan antara keduanya bukanlah kausalitas yang patuh pada hukum yang tetap, namun bersifat kesesuaian (afinity) dalam kolektivitas maupun personal 'ruang terbuka' untuk ditafsirkan masing-masing oleh pemeluknya, dikutip dari Bisri Effendy.


Al-Qur'an tidak hanya bunyi dan tulisan, tapi ada ritme polanya. Dalam Alquran itu terdapat informasi sebagai ilmu dan metodologi sebagai cara membedah ilmu. Sedangkan ayat dalam Al-Qur'an terdiri atas; ayat hukum, ayat mengajak diskusi, ayat budaya dan komunikasi. Dari Al-quran, kita bisa belajar bahwa Allah membukakan pintu rahmat, berkah, dan hidayah, kitalah yang masuk pintu-pintu kotanya Allah. Kita sebagai manusia haruslah mencari jalan lewat pintu-pintu tersebut, juga kenikmatan-kenikmatan dalam setiap peristiwa-peristiwa yang Allah ciptakan. Sehingga dalam rangka pencarian jalan pulang (akhirat), kita jangan sampai lupa pada takdir kita di dunia. Ingatlah juga bahwa, kebaikan itu abadi, meskipun waktu melampauinya. Siapa saja yang tabah terhadap penderitaan di dunia, ia akan bergembira dan hidup mulia, insyaallah.


Letak kebaikan atau keburukan tidak terletak pada objeknya atau perasangka orang. Baik dan buruk tergantung bagaimana hati dan akal kita menyikapinya. Sebuah pencarian kebaikan akan mengantarkan kita pada ilmu-ilmu baru, seperti istilah “Ngelmu Sangkan Parang Ing Dumadi” yakni ilmu tentang alam semesta dan kehidupan yang sejati. Orang memiliki banyak ilmu, maka akan memiliki kesadaran pada dirinya dan menjalani laku muhasabah, yang merupakan tindakan memperhitungkan perbuatan dan pikiran menemukan perjalanan menuju Allah, dan segalanya tercatat. Pencarian keseimbangan antara kepentingan dunia dan ukhrawi, Qs. Al-Baqarah / 2:201, Dan diantara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan pelihara lah kami di akhirat”. 


Syekh Abdul Al-Qadir Al-Jaelani menyebutkan "Pemahaman lisan tanpa pengalaman hati tidak akan mengantarkan kepada Allah selangkah pun. Sebab, perjalanan itu adalah perjalanan hati: amal itu adalah amal dalam makna dengan menjaga batas-batas syari'at melalui anggota-anggota badan dan sikap yang tawadhu' kepada hamba-hamba-Nya karena Allah. Siapa saja yang menjadikan dirinya suatu timbangan, maka tidak ada timbangan apapun bagi dirinya. Siapa saja yang menampakkan amalanya kepada manusia, berarti tidak ada amal pada dirinya. Amal itu mesti selalu ada dalam khalawat (kesendirian). Tidak akan tampak dalam khalawat kecuali hal-hal yang fardlu yang memang wajib untuk ditempatkan. " (Al-Fath al-Rabbani, hlm. 29).


Allah selalu membuat jarak diantara kita, dengan begitu merupakan cara berdekatan dengan Allah. Kewajiban itu diterapkan pada manusia, pada kecenderungan manusia tidak mau melakukannya. Lalu kekhusyukan, itu ditemukan sendiri yang landasannya adalah rasa syukur. Manusia selalu punya sifat dinamis. Jati diri adalah apa adanya dirimu. Identitas itu adalah bikinan manusia. Personalitas itu adalah bikinan Allah. Jarak agar menjadi dekat, maka perlu perantara Nabi. Ada istilah Gondelan Klambine Kanjeng Nabi, yakni dengan sholawat, menjadikan segala hal yang menyangkut dirinya dalam dunia ciptaan dan dalam dunia Kehendak Ilahi, dan seluruh Nabi, rasul, malaikat, dan hamba Allah, berhubungan dengan beliau. Maka sholawat dilimpahkan bagi mereka pula, dengan serentak, wujud dan esensi Nabi Muhammad SAW telah terhubung kepada mereka semua sebagai bentuk Nur Muhammad dalam Arsy dan di dalam dada hati Insan Khamil. Kanjeng nabi menjadi sosok ideal dalam menjadi perantara ide dan perilaku menuju ketaqwaan. Sholu ala Nabi....










*Apabila mengutip tulisan ini, mohon sertakan sumber yang lengkap dari penulis, dan gunakan pengutipan yang baik dan benar, terima kasih.










Rabu, 27 Maret 2019

Catatan_Kidung & Suluk


Bismillahirrahmanirrahim
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang



1.      KIDUNG

Kidung adalah karya sastra Jawa zaman abad Pertengahan masa kerajaan Majapahit akhir, yang banyak menggunakan bahasa Jawa Tengah berbentuk tembang, baik nama maupun metrum yang dianut seperti halnya Tembang Macapat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kidung berarti nyanyian, lagu (syair yang dinyanyikan), serta puisi.

Kidung-kidung di bawah ini diambil dari tradisi historis mengenai kerajaan Majapahit. Adapun lingkupnya ialah: peristiwa-peristiwa yang menyebabkan jatuhnya kerajaan Singasari serta didirikannya kerajaan baru untuk sebagian meneruskan kerajaan sebelumnya.

Pertikaian-pertikaian di dalam tubuh kerajaan baru selama puluhan tahun pertama sejak berdirinya kerajaan Singasari. Informasi berikut menjadi pendapat dan analisis yang menyatakan bahwa kisah-kisah-kisah ini berakar pada kenyataan sejarah. Sastra Kidung juga merupakan sumber informasi penelitian sejarah kebudayaan bangsa.  diantaranya adalah; Kidung Harsawijaya, Kidung Ranggalawe, Cerita-cerita Panji, Kidung Sorandaka, Kidung Waseng (Sari)

2.      SULUK

Sebuah kitab bernama Kanzul Hum karya Ibnu Bathutah yang sekarang disimpan di museum Istana Turki di Istanbul menyebutkan bahwa Walisongo datang ke Indonesia atas perintah Sultan Muhammad I untuk menyebarkan agama Islam. Dalam mengembangkan Agama Islam dan budaya Jawa, tercatat Sunan Giri, mengajarkan ke orang dewasa tembang-tembang Jawa yang beliau ciptakan sendiri. Meliputi, Asmarandana dan Pucung, dua  tembang dari macapat.  Yang pertama berarti api asmara, biasanya untuk mengungkapkan rasa cinta kasih. Tembang ini terdiri dari tujuh  baris dan guru lagu (jumlah suku kata)  dan guru swara (bunyi akhir bait).

Untuk anak-anak, beliau menciptakan beberapa permainan, seperti, “jentungan” atau permainan bersama disertai lagu dolanan  seperti, “jamuran”,”cublak cublak suweng”,“jilumper,” dan, ”gula ganti” serta masih banyak lagi permainan lainnya yang sebenarnya mempunyai makna tersirat, yaitu mengajarkan mencintai Allah, tidak buta akan kecintaannya pada dunia. Alasan Sunan Giri berdakwah dengan membuat dolanan dan tembang adalah karena pada zaman itu, di daerah jawa masih kental denga pengaruh indu budha. Budaya yang terkenal adalah tembang dan wayang, sehingga Sunan Giri memiliki inisiatif mrmbuat tembang macapat yang kanugannya mengajarkan tentang ketauhidan dan nasihat – nasihat agar tidak terlalu cinta terhadap dunia.

Tidak cukup sampai di situ, Sunan Bonang pun membuat salah satu perangkat gamelan yang merupakan perangkat krusial dalam gamelan, Bonang. Pada masa lampau, alat musik mini sering diigunakan untuk gamelan pengiring pertunjukan wayang  kulit, juga digunakan oleh aparat desa untuk menyebarkan woro-woro (al amri, muhammad wildan dalam Akulturasi Budaya Jawa dengan Islam).
Selain itu, Maulana Malik Ibrahim menciptakan tembang suluk, gundul-gundul pacul, Sunan Drajat (Raden Qosim) dengan tembang pangkur, sunan kalijaga (raden mas syahid); babad alas wonomerto, tembang dandanggula,  sunan kudus (jakfar sadiq); tembang maskumambang dan mijil, dan  sunan muria; tembang sinom dan kinanti. Wayang kulit dikembangkan sunan kalijaga sebagai pengganti wayang beber, wayang yang pada masa Majapahit terbuat dari kertas yang lebar (portal kisah dunia). Dari gambaran singkat di atas, kita bisa membayangkan bahwasanya budaya di tanah Jawa atau pun nusantara tidak terlepas dari pengaruh Islam dan Kekhilafahan Islam Utsmani. Hal ini datang dari spirit kewajiban untuk menyebarkan dakwah Islam ke seluruh manusia.

Refrensi:

·         (al amri, muhammad wildan dalam Akulturasi Budaya Jawa dengan Islam).
·         (portal kisah dunia).
·     http://www.nu.or.id/post/read/91005/kidung-kawedar-sunan-kalijaga-kaji-asal-dan-tujuan-manusia



*Apabila mengutip tulisan ini, mohon sertakan sumber yang lengkap dari penulis, dan gunakan pengutipan yang baik dan benar, terima kasih.