Kamis, 30 Maret 2017

Opini_Judgement Day



Judgement Day
Oleh Aji Muhammad Said




via freepic



Pernah membayangkan akhir dari sebuah era? Atau pernah membayangkan akhir dari kehidupan manusia dan seluruh mahluk di muka bumi ini? Sebuah kenyataan yang pasti terjadi, dan tidak bisa terhindarkan lagi. Hari akhir dari segala kehidupan, ketika membayangkannya, yang terbesit dipikiran adalah kapan waktunya? Tidak pernah tahu bukan, tapi tanda-tanda kedekatannya telah dijelaskan dalam Al-Qur’an. Sebagai sebuah peristiwa yang pasti terjadi, Kiamat merupakan salah satu rukun iman, yang wajib untuk diimani bagi setiap muslim.
 Hari akhir atau Kiamat ini adalah proses kejadian yang luar biasa bagi manusia. Kehancuran yang terjadi tidak hanya merusak satu atau dua bagian kehidupan, tetapi keseluruhan kehidupan yang ada pada manusia. Hari Akhir adalah kehidupan yang kekal sesudah kehidupan dunia fana berakhir, termasuk juga semua peristiwa di mana proses yang terjadi pada hari itu, mulai dari kehancuran alam semesta dan seluruh isinya, serta berahkirnya seluruh kehidupan (Qiyamah). Istilah hari akhir dalam dunia barat dikenal dengan The Judgement Day, yakni hari di mana kiamat terjadi di kala manusia berada dalam ujung tanduk. Manusia berada dalam puncak kebobrokan, kerusakan, kekufuran, dan kekejaman. Atas dasar itu semua, kemudian Allah sebagai Pencipta Alam Semesta memerintahkan Malaikat Israfil untuk meniup sangka kala sebagai tanda hari Kiamat. Tiupan sangka kala ini akan terdengar tidak hanya di barat, tetapi di seluruh alam semesta dari timur hingga ke barat. Ketika ini sudah di bunyikan, maka tidak akan ada satu pun mahluk hidup yang dapat bertahan dari dahsyatnya kiamat ini.
Kiamat ini, terbagi menjadi dua macam, yakni Kiamat Sughra dan Kiamat Kubra. Dalam QS. Ali Imran dijelaskan bahwa:“Tiap-tiap yang bernyawa (pasti) akan mengalami mati.” Inilah Kiamat Sughra, yakni Kiamat kecil, seperti terjadinya kematian, terjadinya musibah banjir, gempa bumi, gelombang tsunami. Tanda-tanda dari Kiamat kecil ini, ditandai dengan beberapa hadits sahih;”Di antara tanda-tanda kiamat adalah lenyapnya ilmu pengetahuan ,meluasnya  kebodohan, banyak diminumnya khamar dan perzinahan terjadi secara terang-terangan”(HR. Bukhari). Lalu”Tidak akan datang kiamat hingga dua kelompok besar berperang. Antara keduanya terjadi peperangan besar, padahal dakwah keduanya sama...”(Hadits Muttafaqun ‘alaihi). Lalu “akan datang suatu masa bagi manusia seseorang berkeliling menawarkan emas, tidak ada yang mau mengambilnya. Dan terlihat seorang laki-laki diikuti empat puluh wanita yang ingin besenang-senang dengannya, karena sedikitnya laki-laki dan banyak wanita”(Hadits Mutafaqun ‘alaihi).
Kiamat Sughra dan Kiamat Kubra dalam sebuah kehidupan itu seperti sebuah episode pada sebuah film. Di mana ketika episode pertama selesai, maka akan berlanjut kepada episode berikutnya. Berlanjut pada Kiamat Kubra, yakni merupakan Kiamat besar, saat rusaknya jagad raya dengan segala isinya tanpa terkecuali, setelah sangka kala dibunyikan oleh Malaikat Israfil. Pada (QS. Al-Zalzalah: 1-3) menyebutkan “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat) dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandungnya dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini)?”penekanan mengenai Kiamat Kubra ini juga diterangkan dalam (QS. Al-Waqi’ah: 4-6) bahwa “Apabila bumi digoncangkan dengan dahsyatnya dan gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya maka jadilah ia debu yang beterbangan.”
Kejadian hari akhir itu merupakan kejadian yang cepat, tetapi diikuti dengan rangkaian proses sebagai jalan menuju akhirat. Dalam Al-Quran dijelaskan proses dan peristiwa tentang hari akhir, dalam potongan-potongan ayat berikut ini; (Az-Zumar 39:60), (Ar-Rum 30:56), (Al-Mukmin 40:27), (Al-Fatihah 1:3), (As-Sajadah 32:29), (Al-Mukmin 40:15-16), (At-Taghabun 64:9), (Qaf 50:34). Apabila hal ini telah terjadi, proses yang akan dilalui manusia adalah dibangkitkan dari alam kubur (Ba’ats) lalu dikumpulkan di padang masyhar (Hasyr) dalam kelompok yang besar. Kemudian amalan-amalan, dan tindakan manusia mulai dihitung (Hisab). Apabila sudah selesai dalam penghitungannya, maka manusia akan memasuki tahapan penimbangan amal (Wazn). Penimbangan amalan dan perbuatan manusia ini akan menempatkan kedudukan manusia itu ke dalam dua ujung, yakni surga? Ataukah neraka.
            Namun, manusia sebelum ditempatkan ke dalam Surga atau pun Neraka, mereka akan melalui beberapa tahapan fase kehidupan atau alam yang akan dilalui. Pertama adalah alam kandungan (fase persaksian), kedua alam dunia (sebuah fase di mana manusia mencari bekal dengan beribadah untuk kehidupan di akhirat kelak), ketiga adalah alam barzakh atau alam kubur (fase penantian), keempat adalah alam akhirat (merupakan fase pertanggung jawaban segala amal perbuatan manusia di dunia).
Kita mengimani adanya Surga dan Neraka, dua kehidupan yang nantinya akan ditempati oleh setiap manusia, itu adalah janji Allah yang pasti akan terjadi. Tanda-tanda yang menjelaskan dan menggambarkan tentang keadaan surga dan neraka secara jelas digambarkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya, di mana gambaran-gambaran tersebut sulit dibandingkan dengan keadaan alam dunia. Oleh karena itu pengambaran Surga-Neraka dalam Al-quran dan Hadits kiranya tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan, kesengsaraan yang ada di dunia.
Sebagai seorang manusia biasa, iman kepada hari akhir menjadi sebuah keyakinan terhadap kebesaran Tuhan. Sebuah kepercayaan bahwa datangnya hari akhir itu nyata. Orang yang percaya adanya hari akhir, hati dan pikirannya akan benar-benar memfokuskan diri untuk senantiasa beriman kepada hari kiamat, dan benar-benar menjaga segala bentuk tindakannya. Hati dan pikirannya menjadi bersatu padu untuk berahlakul kharimah, dan manusia tersebut akan cenderung lebih dekat kepada Sang Penciptanya.
Kehidupan di dunia hanyalah kehidupan yang sementara. Kehidupan di mana kita sebagai manusia lahir, tumbuh menjadi manusia dewasa, kemudian meninggal dunia. Hal semacam itu merupakan suatu sunnatullah yang pasti terjadi kepada semua manusia di muka bumi. Tiada yang kekal dan abadi selama kita hidup di dunia. Kehidupan yang kekal hanyalah kehidupan akhirat. Di sanalah kita akan dikumpulkan dan dimintai semua pertanggungjawaban, atas apa yang telah di kerjakan sewaktu kita hidup di dunia. Di sana orang-orang sholeh dan beriman hidup bahagia di dalam Surga. Sebaliknya, orang yang munkar dan fasik sengsara di dalam Neraka. Mereka kekal di dalamnya.
Kiamat, Surga-Neraka sudah banyak penjelasan dan penggamabarannya, dalam Al-qur’an dan Hadits. Maka wajib bagi orang mukmin untuk mengimani semua perkara-perkara ghaib ini. Janganlah menolaknya dengan berdasarkan pada apa yang disaksikannya di dunia, sebab masalah-masalah ahkirat tidak dapat dikiaskan dengan masalah-masalah dunia, dikarenakan ada perbedaan-perbedaan besar yang menyolok diantara keduanya. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.



*Apabila mengutip tulisan ini, mohon sertakan sumber yang lengkap dari penulis, dan gunakan pengutipan yang baik dan benar, terima kasih.



Opini_Fitrah Manusia



Fitrah Manusia
Oleh Aji Muhammad Said

via unsplash


Pandangan mengenai manusia secara prespektif dibagi menjadi dua. Pertama menurut agama, dijelaskan melalui Al-Qur’an, kedua berdasarkan pakar yang disampaikan ke dalam beberapa dasar teori ilmu pengetahuan. Membahas mengenai manusia berdasarkan sudut pandang agama, dasarnya adalah keyakinan, di mana adanya manusia selalu ada kaitannya dengan Tuhan Yang Mahaesa. Namun ketika membahas manusia dari sudut pandang pakar, maka asalnya adalah dari buah pemikiran manusia itu sendiri.
Pada perspektif pakar, terdapat pemikiran yang mengambarkan pemahaman mengenai peran manusia. Linnasus menyebutkan bahwa manusia itu merupakan mahluk yang rasional, menggunakan logikanya dalam berpikir, sehingga disebut sebagai Homo Sapiens/Animal Rasional. Kemudian manusia sebagai mahluk yang pandai berbahasa, cakap dalam berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya, sehingga manusia dikenal sebagai Homo Laquen, ini menurut Revez. Ada juga yang menyebut manusia sebagai Homo Faber, Berqsan menjelaskan bahwa manusia sebagai mahluk tukang, manusia digambarkan mampu membangun gedung yang tinggi, mampu membuat kendaraan, mampu menciptakan teknologi. Kemudian Aristoteles menerangkan bahwa manusia adalah Zoon Politicon, manusia erat kaitannya dengan bidang politik. Huizinga menambahkan bahwa manusia sebagai Homo Ludens yakni mahluk yang suka bermain. Selain itu AJ Barnet K. menuturkan bahwa manusia adalah Homo deleqans, mahluk yang mewakili, di bumi manusia mewakili mahluk yang tinggal di dalamnya, di mana perananya adalah mewakili mahluk-mahluk lain yang tinggal di bumi.
Apa yang disampaikan pakar tersebut sebenarnya, telah dijelaskan telebih dahulu dalam Al-Qur’an. Manusia dalam Al-Qur’an mempunyai nilai yang berbeda jika dibandingkan dengan mahluk Allah yang lainnya. Pada surat (At-tin:4) diterangkan, manusia sebagai makhluk dengan konstruksi terbaik, kemudian pada surat (Al-Jatsiyah:13) manusia digambarkan, sebagai mahluk yang mampu mengolah alam, bumi dengan segala isinya. Sejumlah pakar menyebutkan manusia sebagai Homo Sapiens/Animal rasional (Linnasus), Homo Laquen/Pandai berbahasa (Revez), Homo Faber/ Makhluk tukang (Berqsan), Zoon Politicon (Aristotels), Homo Ludens/suka main (Huizinga),  semua itu telah ada dalam Al-Qur’an surat (Al-Alaq:4), bahwa manusia itu sebenarnya adalah makhluk yang berilmu dan berbudaya. Pada (Al-Ahzab:72) manusia mempunyai peran sebagai pengemban amanat dan (Al-Mudatsir:38) manusia akan dimintai pertanggung jawaban, itu semua merupakan hal-hal yang melekat bagi manusia sebagai seorang pemimpin yang mewakili. Ini telah disampaikan dalam Al-Qur’an sebelum Homo deleqans (AJ Barnet K).
Lalu bagaimana manusia hadir di dunia ini? Dalam Al-Qur’an menyebutkan mengenai proses penciptaan manusia dengan dua tahapan, yaitu tahapan pertama, penciptaan Nabi Adam disebut dengan tahapan primordial. Manusia diciptakan dari al-tin (tanah), al-turob (tanah debu), min shal (tanah liat), min hamain masnun (tanah lumpur hitam yang busuk) yang dibentuk Allah dengan seindah-indahnya, kemudian Allah meniupkan ruh dari-Nya ke dalam diri (manusia) tersebut (Q.S, Al An’aam (6):2, Al Hijr (15):26,28,29, Al Mu’minuun (23):12, Al Ruum (30):20, Ar Rahman (55):4).
Selanjutnya yang kedua, tahapan biologi. Penciptaan manusia adalah melalui proses biologi, manusia diciptakan dari inti sari tanah yang dijadikan air mani (nuthfah) yang tersimpan dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian nuthfah itu dijadikan darah beku (‘alaqah) yang menggantung dalam rahim. Darah beku tersebut kemudian dijadikan-Nya segumpal daging (mudghah) dan kemudian (izam dan lahm) pembentukan tulang yang mendahului pembentukan oto-otot. Apabila tulang belulang telah dibentuk, otot-otot akan membungkus rangka, menjadi janin (Khalqan akhar) lalu kepadanya ditiupkan ruh (Q.S, Al Mu’minuun (23):12-14).
Pada mulanya manusia terlahir ke dunia dengan kedaan suci, namun melalui berbagai proses dan perkembangan kehidupan manusia mengalami beberapa problematika, hingga menjadikannya mahluk yang tidak pernah luput dari kesalahan. Fenomena yang terjadi di zaman ini telah menampilkan sebuah krisis bagi manusia yang zaman modern. Beberapa tokoh bidang pendidikan menuturkan kendala-kendala yang dihadapi manusia modern. Tokoh terkenal Peter L. Berger salah satunya, menuturkan bahwa “manusia modern mengalami anomi, di mana, manusia sekarang ini (kehilangan ikatan, perasaan aman, dan arti kehidupan).” Hal ini juga disampaikan oleh Ali Syari’ati, bahwa “fenomena modernitas merupakan kebahagiaan semu yang telah membawa kemrosotan dan kehancuran kemanusiaan.” Bahkan Emile Durkheim mempunyai istilah dunia tanpa norma, menurut beliau “Kehidupan modern normlesnes (tanpa acuan norma), menggeser nilai spiritual kepada material.” Jalaluddin Rahmat, bahkan mempunyai istilah chimera monstery, “Modernitas telah melahirkan chimera monstery (mahluk bertubuh manusia berperilaku binatang, perilakunya seperti robot dan tidak memiliki jati diri).”
Padahal sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa manusia itu merupakan mahluk yang ber-Tuhan. Dalam Dalil Naqli, menyebutkan “Alastu birabbikum, Qaaluu balaa syahidnaa “(Bukankah Aku ini Tuhanmu ?)” ( Al-A’raf: 172). Kemudian Dalil Aqli, menerangkan bagaimana kondisi manusia, saat manusia memikirkan tentang eksistensi diri, di dalam hatinya muncul pertanyaan seperti; siapa saya sebenarnya, dan dari mana saya berasal, mengapa saya ada, dan siapa yang menciptakan saya, apa tujuan hidup saya sebenarnya, saat ditimpa musibah baru memikirkan Tuhannya. Maka sudah menjadi hal yang mendasar bahwa manusia adalah mahluk beragama. Fitrah manusia itu memerlukan agama sebagai tiang hidupnya. Manusia memiliki fitrah yang berarti suci atau bersih, dimana itu menjadi potensi dasar dalam bertauhid (beragama), karena kedudukan manusia itu adalah sebagai ciptaan dimana harus addien (patuh) kepada Sang Penciptanya.
Menjadi baik atau buruk itu merupakan sebuah pilihan seorang manusia. Pilihan tersebut didasari sesuatu yang terletak dari dalam diri, yakni hati. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila daging itu baik maka baiklah tubuh manusia itu, akan tetapi bila daging itu rusak maka rusak pula tubuh manusia itu. Ketahuilah bahwa sesungguhnya segumpal daging itu adalah hati.”[HR. Bukhari-Muslim].
Berbicara mengenai hati, terdapat berbagai macam klasifikasinya. Menurut Ibnul Qoyyim Al-jauzi, hati manusia itu dibedakan menjadi tiga jenis; Pertama, Qalbun Shahih yaitu hati yang sehat dan bersih (hati yang sehat) dari setiap nafsu yang menentang perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan dari setiap penyimpangan yang menyalahi keutamaan-Nya. Sehingga ia menggabdikan diri hanya kepada Allah, dan mencari penyelesaian hukum dengan pedoman dari rasul-Nya. Karenanya, hati ini murni pengabdiannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik pengabdian secara iradat (kehendak), mahabbah (cinta), tawakkal (berserah diri), takut atas siksa-Nya dan mengharapkan karunia-Nya. Kedua, Qalbun Maridl (hati yang sakit) adalah hati yang sebenarnya memiliki kehidupan, namun di dalamnya tersimpan benih-benih penyakit berupa kejahiliahan. Hati yang sedang di cekam sakit akan mudah menjadi parah apabila tidak diobati dengan hikmah dan maud’izah. Firman Allah SWT: “Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan setan, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang keras hatinya.”[QS. Al-Hajj:53]. Ketiga, Qalbun Mayyit (hati yang mati) adalah kebalikan dari hati yang sehat, hati yang mati tidak pernah mengenal Tuhannya, tidak mencintai atau ridha kepada-Nya. Ia berdiri berdampingan dengan syahwatnya dan memperturutkan keinginan hawa nafsunya, walaupun hal ini menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala marah dan murka akan perbuatannya. Ia tidak peduli lagi apakah Allah ridha atau murka terhadap apa yang dikerjakannya, sebab ia memang telah mengabdi kepada selain Allah. Jika mencintai didasarkan atas hawa nafsu, begitu pula dengan membenci, dan memberi berlandaskan nafsu pula.
Lalu bagaimana posisi kita sebagai manusia, sebagai muslim untuk menjaga hati agar menjadi hati yang suci adalah dengan kalimah toyyibah sangatlah diutamakan, di samping itu rajin istigfar juga penting. Menjadi Ihsan yang mempunyai semangat dan mimpi yang besar dalam menggapai cita-cita menjadi hal yang baik untuk masa depan. Kemudian selalu fokus terhadap rasa syukur dan nikmat Allah yang tiada batas. Membangun komitmen ilahiyah senantiasa menjalankan segala perintah dan menjauhi segala bentuk larangan-Nya. Membangun alat proteksi diri secara otomatis, sadar akan dosa. Terakhir adalah selalu bertaubat ketika mengetahui berbuat kesalahan atau dosa, serta memohon ampunan-Nya.



*Apabila mengutip tulisan ini, mohon sertakan sumber yang lengkap dari penulis, dan gunakan pengutipan yang baik dan benar, terima kasih.


Rabu, 22 Februari 2017

Review: Film Batman VS Superman The Dawn of Justice

Pahlawan Super yang Filmnya Belum Mempunyai Kekuatan Super

comingsoon.net





Melihat beberapa tahun terahkir belakangan ini, mulai dari awal tahun 2008 sampai sekarang 2016 banyak sekali film bergenre action dengan tema superhero muncul ke dalam ranah masyarakat dunia. Hollywood menjadi pusat berkumpulnya sineas film yang memunculkan film yang menarik untuk ditonton bahkan menjadi  Box Office dunia. Film superhero mulai menghiasi bioskop dan televisi masyarakat, di seluruh dunia. Muncul film seperti trilogi Batman The Dark Knight, kemudian X-man Wolvrine, Ironman, Avanger, bahkan yang terbaru adalah Batman Vs Superman The dawn of Justice.
Menarik ketika melihat film-film superhero muncul, adanya aksi dengan bumbu grafis yang tinggi, hingga tampilan aktor yang berakting dengan kostum keren menjadi bagian penting dalam tampilan film. Batman Vs Superman menjadi film yang sanggat fenomenal, tidak ada orang yang tidak mengenal tokoh-tokoh dalam film ini. Batman dan Superman menjadi dua tokoh yang sanggat legendaris bagi pecinta komik DC. Ketika melihat cerita yang diidentikan dalam komik, Batman digambarkan sebagai manusia biasa yang tidak mempunyai kekuatan super, namun dapat menjadi pahlawan super dengan kecerdasan, kemampuan bela dirinya, hingga kekayaan, dan teknologi yang menjadikannya pahlawan super. Hal yang berlawan, digambarkan dalam diri Superman, ia digambarkan menjadi pahlawan super karena pada dasarnya memiliki kekuatan super diluar kemampuan manusia biasa, bisa dilihat dalam serial carton, maupun komik keluaran DC.
Pada film-film sebelumnya yakni, film trilogi Batman The Dark Knight dengan Kesan dark hero, mengedapankan karakter Batman dengan pahlawan super yang misterius yang mampu membius dengan aksi dan jalan cerita yang tidak di sangka-sangka, apalagi begitu memukaunya tokoh antagonis seperti Bean, Joker yang menghadirkan kesan kuat tersendiri sebagai tokoh antagonis dengan karakter jahat mengagumkan. Ketika menyaksikan film Batman Vs Superman The dawn of Justice, banyak ekspetasi besar bahwa film ini akan memukau, mengingat begitu luar biasanya film trilogi DC sebelumnya mengenai Batman The Dark Knight. Unsur yang terbangun dalam film, mulai dari peran aktor, kostum, ide cerita benar-benar mengagumkan sebagai film superhero. Namun kenyataannya setelah menyaksikan film Batman Vs Superman ini, terasa ada sesuatu yang mengganjal. Harapan besar dalam film Batman Vs Superman : The Down of Justice ini akan seperti film-film sebelumnya, tidak terjadi. Mengapa demikian?, karena apa yang terjadi di film tidak menghadirkan kesan yang istimewa.
Film ini mulai tayang di Indonesia tanggal 23 Maret 2016. Mulai dari judulnya sudah terlihat apa yang bakal disampaikan dalam film, yaitu pertempuran Batman melawan Superman. Alur awal cerita film di mulai dari mimpi buruk Bruce Wyne akan kehancuran kota dan kisah masa lalu keluarganya. Ketika cerita mulai berjalan, ditengah-tengah muncul, kisah masa lalu Superman bertarung dengan musuhnya, tiba-tiba lagi karakter Lex Luthor hadir dengan menciptakan monster sebagai karakter antagonis dalam film, lalu muncul juga karakter Wonder Woman. Apabila melihatnya tampilan film ini menampilkan tokoh-tokoh dengan cerita masing-masing. Film ini menjadi mempunyai kesan yang gemuk, segalanya dipadatkan dalam sebuah kisah. Sehingga tidak seperti film sebelum-sebelumnya yang menghadirkan cirikhas yang kuat,  karakter tersendiri. Ambilah contoh trilogi Batman The Dark Knight film dengan karakter dark hero, kemudian Film trilogi Ironman dengan karakter superhero kaya yang memiliki teknologi canggih. Penonton akan dengan mudah mengenali, dan menempatkan mindset dibenak mereka, mengenai karakter film apa yang mereka tonton. Film ini menjadi film super hero yang tidak mempunyai kekuatan super karena karakter film yang tidak begitu kuat.
Kejanggalan ketika menonton film juga ditambah dengan pertempuran Batman Vs Superman. Batman menggenakan kostum baja mirip hulk blaster pada film Avanger Age of Ultron namun ukurannya kecil, bertarung dengan Superman, tampilan Batman menjadi terlihat gemuk, ditambah lagi senjatanya adalah tongkat kryptonite (kelemahan superman). Pertempuran terjadi cukup menarik kekuatan senjata dan teknologi canggih digunakan Batman, sedangkan Superman menggunakan kekuatan supernya. Ketika pertempuran seru berlangsung muncul monster ciptaan Lex Luthor yang menghancurkan kota, dan anehnya pertempuran Batman Vs Superman terhenti karena nama ibu mereka sama yakni Martha. Terasa canggung sekali dua tokoh kuat bertarung, dan yang melemahkan mereka adalah rasa cinta mereka kepada Ibu masing-masing. Mereka kemudian berkerjasama, ditambah Wonder Woman mengalahkan Monster dari Lex Luthor tersebut.
Di luar karakter film, patut diapresiasi bahwa film ini mampu menghadirkan karakter Batman dengan aktor baru yaitu Ben Affleck yang mengantikan Cristian Bale sebagai aktor pemeran Batman sebelumnya dalam film Batman The Dark Knight. Sosok Batman muncul dengan kemasan baru yang menjadi penyegaran dalam film. Jika melihatnya, film ini kemudian menjadi bukan hanya sekedar film pertempuaran pahlawan super, namun film ini menjadi film pematik film-film selanjutnya. Film Batman Vs Superman : The Dawn of Justice menjadi film pematik untuk film yang mungkin dimunculkan oleh pihak DC dengan mengangkat cerita Justice League, Wonder Woman, Flash, atau Film dengan Tokoh utama tunggal. Lalu yang menjadi pertanyaan, apakah kemudian kekuatan super akan benar-benar muncul dalam film selanjutnya ? hanya menonton film selanjutnyalah, kita akan tahu, karakter seperti apa yang berusaha dibangun DC dalam seri film-film superheronya. (Aji Muhammad Said_Ilkom_12321053_2012_In Majalah_Red_aksi_2016)

*Apabila mengutip tulisan ini, mohon sertakan sumber yang lengkap dari penulis, dan gunakan pengutipan yang baik dan benar, terima kasih.