Minggu, 15 Maret 2020

Opini_Samudra Hikmah Dibalik Keluhan Dunia


Samudra Hikmah Dibalik Keluhan Dunia
Oleh: Aji Muhammad Said

via unsplash


Jadi apabila sesuatu telah ditentukan bagimu, tentu sesuatu itu akan datang padamu, suka atau tidak suka. Maka dari itu, sungguh tidak patut, kekuranglayakan dan kerasukan terwujud padamu, kedua-duanya tertolak oleh akal dan ilmu. Jika sesuatu itu ditakdirkannya bagi orang lain, mengapa kita bersusah payah meraih sesuatu yang tidak bisa kita raih? Jika sesuatu tidak diturunkannya kepada siapa pun, hanya sebagai cobaan, bagaimana mungkin seorang arif menyukainya dan berupaya keras meraih itu? Terbuktilah bahwa seluruh kebaikan dan keselamatan terletak pada menghargai keadaan yang ada. Memaksa diri untuk bahagia adalah cara mengimani qadha dan qadar. Jangan sampai karena terlalu sering mengeluh menyebabkan kita tidak percaya takdir. Terpaksa bahagia juga merupakan sebuah keberkahan, karena kita mampu menerima keadaan, ridha dengan apa yang Allah kasih dan apa yang Allah berikan pada kita pada keadaan kita.

Jangan berupaya menjarah suatu rahmat dan jangan pula berupaya menangkis datangnya suatu bencana. Rahmat Allah akan datang kepada kita jika ia sudah ditakdirkan bagi kita, baik kita suka ataupun tidak suka. Bencana akan menimpa kita jika itu takdir bagi kita, tangkislah semuanya dengan doa atau menghadapinya dengan kesabaran dan keteguhan hati demi mendapatkan keridaan-Nya. Coba rasakanlah rahmat-Nya di dalam bencana atau menyatulah sedapat mungkin dengan-Nya, lewat segala sarana spiritual yang kita miliki. Sebuah bencana yang menimpa seseorang bukanlah untuk menghancurkannya, tetapi itu adalah cobaan untuk kita. Cobaan untuk mengukuhkan iman kita. Menguatkan pilar-pilar keyakninan yang kita miliki, dan memberikan kabar baik secara rohani kabar baik dari-Nya tentang kehendak-Nya atasmu. Allah berfirman;
“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian, agar kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antaramu; dan agar Kami nyatakan hal ihwal kalian.” (QS. Muhammad : 31).

Kita adalah korban segala yang kita lihat. Jadilah orang yang terlepas dari ciptaan, nafsu duniawi, dan kedirian. Dengan demikian mereka jadikan taat dan pemujaan sebagai kewajiban mereka dan kukuh dalam keduanya dengan bantuan-Nya tanpa mengalami kesulitan. Kepatuhan dapat dikatakan menjadi jiwa dan keseharian orang-orang yang saleh. Akhirnya dunia menjadi rahmat dan menyenangkan bagi mereka. Sebab, bila mereka melihat sesuatu, mereka melihat di balik sesuatu itu penciptaan-Nya. Maka, orang-orang ini memberi daya kepada bumi dan langit untuk menyenangkan bagi yang mati dan yang hidup.

Apabila ilmu hikmah kita tinggi, keyakinan kita teguh, hati kita tercerahkan, maqam hati kita makin dekat dengan-Nya, kita diberiNya kemampuan “melihat ke depan”, sebagai tanda kerelaan dan sebagai penghargaan atas harkat kita. Ini hanyalah sebagian dari keridaan-Nya sebagai rahmat dan petunjuk-Nya.

Ketahuilah, bahwa para guru amal dan guru ilmu akan menunjukkan engkau jalan menuju Allah. Langkah tahap pertama yaitu dengan perkataan. Pada tahap kedua, yaitu dengan mengamalkannya. Dengan cara ini, engkau akan bertemu dengan Allah. Jangan mengharapkan balas meskipun itu Pahala, tapi fokuskan hati kita pada Allah. Pahala yang sebenarnya adalah keridaan-Nya kepadamu dan kedekatanmu kepada-Nya dunia dan akhirat.

Barang siapa di antara manusia yang ingin menghidupkan hatinya, hendaklah dia membiasakan berzikir kepada Allah di dalam hatinya itu dan hendaklah dia merasakan ketentraman bersama-Nya. Wahai hamba, berdzikirlah engkau kepada Allah dengan hatimu sebanyak seribu kali dan dengan lisanmu sekali. Zikir adalah zikir hati dan zikir batin, kemudian zikir lisan. Berzikirlah, sehingga itu bisa melebur dosa-dosa kita. Dengan demikian, dosa sama sekali.

Janganlah kita sebagai manusia mengeluh tentang sesuatu bencana yang menimpa kita kepada siapapun, baik pada kawan maupun kepada lawan. Jangan pula menyalahkan Tuhanmu atas semua takdir-Nya kepadamu, dan atas ujian yang ditimpakan-Nya atasmu. Berikanlah semua kebaikan yang dilimpahkan-Nya kepadamu dan segala puji syukurmu atas semua itu. Kedustaanmu menyatakan puji syukurmu atas suatu rahmat yang sesungguhnya belum datang kepadamu lebih baik ketimbang cerita-ceritamu perihal kepedihan hidup. “Dan jika kamu hitung nikmat-nikmat Allah, kamu tidak akan sanggup menghitungnya.”(QS. Ibrahim: 34).

Betapa banyak nikmat yang telah kita terima dan tidak kita sadari. Jangan merasa senang dengan ciptaan, jangan menyenanganginya, dan jangan menceritakan hal ihwalmu kepada siapa pun. Cintamu harus kita tujukan hanya kepada-Nya, merasa senanglah dengan-Nya, dan mengeluhlah hanya kepada-Nya. Jika Allah berkehendak menimpakan keburukan untukmu, tidak seorangpun sanggup mencegahnya, selain ia sendiri. Jika ia berniat melimpahkan kebaikan, tidak seorang pun sanggup menahan turunnya rahmat-Nya.

Jika kita mengeluh terhadap-Nya, padahal kita nimati rahmat-Nya, kita tamak, dan menutup mata atas yang apapun yang kita milik, Allah murka kepada kita, mencabut kembali nikmat-Nya dari kita. Mewujudkan segala keluhan kita, melipatgandakan kesusahan kita, dan memperhebat hukuman, kemurkaan, dan kebencian-Nya kepada kita.

Sesungguhnya sebagian besar musibah yang menimpa anak Adam dikarenakan oleh keluhan-keluhan mereka terhadapNya. Kenapa menyalahkan-Nya. Padahal ia Maha Pengasih, Maha Adil, Maha Sabar, Maha Penyayang, dan yang lemah lembut terhadap hamba-hamba-Nya. Dapatkah kita temui suatu kesalahan pada diri seorang ayah atau ibu yang berhati mulia? Nabi Muhammad bersabda: “Allah lebih penyayang terhadap hamba-hamba-Nya ketimbang seorang ibu terhadap anaknya.”

Nabi Muhammad saw. bersabda: “Campakanlah segala yang menimbulkan keraguan di benakmu, tentang yang halal dan yang haram, ambilah segala yang tak menimbulkan keraguan pada dirimu.” Bila sesuatu yang meragukan berbaur dengan segala sesuatu yang tidak meragukan, ambilah jalan yang didalamnya tidak ada sedikitpun keraguan. Nabi bersabda: “Dosa menciptakan kekacauan dalam hati.” Tunggulah bila dalam keadaan begini perintah batin. Bila kau diperintahkan untuk mengambilnya, lakukanlah sesukamu. Apabila dilarang, jauhilah, anggaplah itu tidak pernah terwujud (maujud) dan berpalinglah ke pintu Allah, serta mintalah pertolongan dari Tuhanmu.

*Apabila mengutip tulisan ini, mohon sertakan sumber yang lengkap dari penulis, dan gunakan pengutipan yang baik dan benar, terima kasih.


Rabu, 11 Maret 2020

Opini_Rahmat Tuhan itu adalah Waktu


Rahmat Tuhan itu adalah Waktu
Oleh: Aji Muhammad Said

via unsplash

"Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan hanyalah satu ilusi saja." (Qs. Al-Adid [57:20)". Sesungguhnya, jika seseorang itu dapat melihat kebenaran melalui mata hatinya, sama dengan yang dilihatnya masih hidup ataupun sudah mati, maka kebenaran itu tetap tidak akan hilang. Syekh Abdul Qadir Jaelani berwasiat bahwa apabila kamu belum bisa menjadi musuh terhadap kesendirianmu, janganlah kamu berharap menjadi orang yang saleh. Yang dimaksud dengan menjadi musuh terhadap kesendirianmu, yaitu bahwa kamu benar-benar melepas segala kemaujudan, baik gerak-gerikmu, diammu, pendengaranmu, pembicaraanmu, perilakumu, pikiranmu, dan segala sesuatu yang muncul dari dalam dirimu.

Berbagai warna cahaya di dunia ini berasal dari cahaya matahari sebagai pusat cahaya dunia, sedangkan cahaya di dalam diri manusia itu berpusat di hati. Perhatikanlah dengan sungguh-sungguh bahwa kehormatan seseorang itu terletak pada ucapannya dan kebaikan raganya itu terletak pada kesopanannya dalam berbusana. Lain warna lain pula harapan. Orang yang memiliki harapan dan dipenuhi dengan harap akan senantiasa terus mencari, sementara orang yang penuh ketakutan akan melarikan diri. Kehidupan memiliki mata pisau dua sisi, tidak ada hidup yang kejam, kecuali manusia yang malas. Kejam itu konsep dari pikiranmu. Jangan malas menelaah segalanya. Tuhan dengan sengaja menciptakan ‘malas’ agar kita hindari, bukan turuti. Agar kita bisa ridha dengan segala ketentuan-Nya, mulai sekarang kita harus mulai belajar menyiapkan ridha pada apa yang kita sangat tidak setuju. Allah tidak berjanji hidup ini mudah, tapi Allah berjanji setelah kesulitan ada kemudahan, jadi jangan menyerah.

Kita terjauhkan dari segala sesuatu, kecuali kehendak Allah. Pada maqam ini, keajaiban akan menimpa kita. Segala sesuatunya tampak seolah-olah dari kita, padahal sebenarnya dari Allah. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman kepada Nabi Muhammad saw; “Hamba-Ku yang beriman senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku, dengan mengerjakan salat-salat sunah yang diutamakan, sehingga Aku mencintainya, dan apabila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi telinganya, dengannya ia mendengar, dan menjadi matanya, dengannya ia melihat, dan menjadi tangannya, dengannya ia bekerja, dan menjadi kakinya, dengannya ia berjalan.”

Pemilik otoritas sejati adalah Allah SWT. Kita akan salah besar apabila memiliki otoritas akan sesuatu. Karena sebenar-benarnya yang berhak atas sesuatu tersebut adalah Allah SWT. Ya Al-Yahdi Man Yasya. Jangan berpikir bahwa hidayah Allah itu terbatas. Dalam keadaan apa saja, Allah senantiasa memberikan pentunjuk dan rizqi, maka Allah disebut sebagai Al-Yahdi. Allah sebagai penguasa alam semesta Allah sebagai Al Malikul Haqqul Mubin. Semua tempat di bumi merupakan saksi bagi kita dalam melakukan segala amal perbuatan.

Take for granted, Allah senantiasa memberikan rahmat, tapi jangan jadikan itu otomatis, jika tidak diimbangi dengan perbuatan baik. Jangan menunggu rahmat, tapi siapkan diri bahwa setiap kesempatan dan keadaan yang ada adalah rahmat, itulah yang disebut kesadaran rahmat. Setiap rahmat yang diberikan Allah itu merupakan cinta yang Ia beri. Seperti sebuah cinta yang Allah ajarkan kepada manusia, setiap rasa atau cinta yang diberi itu kadang hanya meminta kita membayar dengan kesanggupan tanpa syarat. Kehidupan ini seakan tidak pernah adil tapi keajaiban akan selalu ada di dalamnya, karena tidak ada satu orang pun yang luput dari perhatian dan rencana sang pencipta. Sesungguhnya Allah memberi dunia pada orang yang Allah cintai maupun tidak. Sedangkan iman hanya diberikan kepada orang yang Allah cintai.

Proses pencerahan rohani dalam diri manusia hanya akan diketahui oleh manusia yang mengalaminya itu sendiri. Cerahnya rohani akan membawa rahmat bagi pelakuknya, sedangkan rahmat tersebut akan menyelamatkan dirinya. Wujud rahmat tersebut berupa hidayah, untuk menangkap hikmah-hikmah yang terkandung dalam kehidupan sehari-hari, semua peristiwa yang kita alami akan mampu kita ambil dan selami maksud kandungannya yang kemudian akan menjadikan kita semakin dekat dengan Tuhan, lebih pasrah dan sabar.

Waktu
Dunia ini seperti ular terasa halus apabila dilihat namun terasa kasar dan beracun apabila dipegang. Waspadalah pada dunia yang berisikan sesuatu yang cepat pergi dan cepat datang. Masa lalu telah lewat, masa depan akan terjadi, dan masa sekarang adalah kesempatan untuk menjadi yang terbaik. Jika engkau melembut, waktu tampak olehmu. Jika engkau merengang membesar, engkau paham kebesaran ruang. Keluasan tidak ada batasannya dan tak terjangkau olehmu. Maka kuda-kuda terbaik bagi setiap mahluk, apalagi manusia, adalah kerendahan hati. Itulah “kesadaran debu”. Waktu tidak berarti bagi orang yang dipenuhi cinta, jika kita bersama cinta maka waktu akan tidak terasa dan mudah untuk di lewati.

Betapapun tinggi ilmu seseorang, kalau penerapannya dengan cara yang tidak benar, maka tidak akan memberi manfaat kepadanya. Ilmu yang dipelajarinya justru tidak menjadikan ia dekat dengan Tuhan, bahkan malah bertambah jauh. Maka dapat diketahui sejauh mana seseorang dalam mendalami agama, dapat diketahui dari budi pekertinya. Agama tidak hanya dijadikan bahan pembicaraan saja, namun agama sesungguhnya merupakan aturan yang diberikan kepada manusia agar manusia dapat hidup menurut aturan kesopanan dan tata krama yang benar. Dan seutama-tamanya seorang yang beriman adalah orang yang paling bagus ahlaknya. Sebagaimana pembawa risalahnya sendiri, yaitu Rasullulah saw, sebagai suri teladan umat, uswatun hasanah, mengajarkan secara nyata kehidupan yang sakinah, mawaddah, warahmah, dan rahmatan lil’alamin.

Waktu memiliki rahasia di dalamnya. Melalui waktu dapat membunuh seseorang secara perlahan, tapi di sisi lain juga memberikan penyembuhan dengan perlahan. Syekh Abdul Qadir Jaelani juga berwasiat berkaitan dengan waktu. “Semua ada waktunya. Tahukah engkau bahwa setiap kejadian pada diri manusia itu ada waktunya, dan setiap musibah ada akhirnya? Keduanya tidak bisa dimajukan atau dimundurkan”. Berbekallah pada ilmu, iman, dan ketaqwaan, waktu bukan untuk dilawan, tapi dipersiapkan.

Saat Allah membatasi rezekimu boleh jadi itu untuk menjaga agamamu. Asy-syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan; “Betapa kita menyaksikan langsung bahwa kekayaan dapat jadi penyebab seseorang rusak, wal’iyaadzu billah. Ada orang yang kamu lihat saat dia masih susah, taat pada Allah, selalu kembali kepada-Nya, hatinya halus, dan ia tidak angkuh. Namun ketika Allah beri padanya harta yang lebih wal ‘iyaadzu billah lantas ia jadi sombong dan angkuh karena hartanya.

Dalam doa pun ada waktu-waktu, kapan doa-doamu terkabul. Ketika doamu belum dikabulkan, ketahuilah bahwa Allah menaruh rasa sayangnya padamu, melalui proses panjangnya, makanya sebelum Allah memberikan kelebihan kepadamu, pertama yang harus dilakukan adalah persiapkanlah dirimu agar menjadi orang yang layak untuk mendapatkan kelebihan itu. Selain doa manusia bergantung juga pada nasib. Allah sudah menentukan nasib manusia, tetapi takdir adalah negosiasi antara harapan manusia dengan kehendak Allah. Allah menasibkan padi, manusia menakdirkan nasi. Dalam waktu, doa, dan nasib, setiap manusia pastilah menemukan jodohnya. Tuhan menciptakan jodoh. Jadi kalau kita berbuat baik, jodohnya adalah berkah, kalau kita zalim, jodohnya adalah azab. Jadi jangan sampai gampang melakukan keburukan karena nanti akan ketemu jodohnya. Jangan takut terhadap nasib kita di dunia, karena kita semua tidak bergantung pada nasib. Semua nasib kehidupan kita ada di Allah, maka kunci utamanya mendekatlah kepada Allah. Jika Allah dapat membuat kita kehilangan sesuatu yang tak terduga, Ia pun dapat memberikan kita sesuatu yang tidak terduga pula.
Ada batas di mana kita harus mengikuti ketentuan Allah, ada batas di mana kita merdeka menentukan langkah kita sendiri. Sebuah opini yang dapat memberikan pengaruh yang luar biasa, adalah anggapan bahwa pandangan bahwa besok-besok yang kita setorkan ke Tuhan bukan kepintaran, kekayaan, kekuasaan. Yang ditunggu Tuhan dari kita hanya sejarah cinta kita kepada-Nya, kasih sayang kepada manusia, dan alam.


 *Apabila mengutip tulisan ini, mohon sertakan sumber yang lengkap dari penulis, dan gunakan pengutipan yang baik dan benar, terima kasih.

Selasa, 11 Februari 2020

Review_Financial Planning

Financial Planning

via unsplash

1.    Apabila kita sudah membahas pengeluaran bersama tapi hasilnya pengeluaran lebih besar dari pada pemasukan karena adanya pengeluaran-pengeluaran yang tak terduga. Ini berarti Penghasilan-Pengeluaran berjumlah sama dengan yang ditabung. Jika tidak bisa menabung, artinya keuangan tidak sehat. Apabila merasa ada keperluan mendadak, maka perlu disiapkan Dana Darurat agar semua kondisi darurat sudah disiapkan dana dan tidak mengganggu Cashflow bulanan.
2.    Didalam keluarga, istri yang mengelola keuangan. Mengatur keuangan biasanya dilakukan istri karena perempuan cenderung lebih detail. Tapi tidak selalu harus demikian. Jika memang sepakat suami yang lebih terampil silakan saja.
3.    Apakah penghasilan suami di serahkan semua kepada istri?. Cara mengelola keuangan itu macam-macam dan tergantung kesepakatan antar suami istri. Mau berikan 100% ke istri atau sebagian saja diserahkan ke istri atau semua dipegang sendiri atatu istri dapat mingguan untuk belanja sayur atau urus masing keuangan dipisah. Boleh saja, tergantung hasil diskusi dengan pasangan.
4.    Apa yangg harus dilakukan istri bila suami belum ada penghasilan tetap. Harusnya bukan tanya apa yang harus dilakukan istri. Apa yang harus dilakukan suami untuk memastikan penghasilan lebih stabil.
5.    Rumus mengelola keuangan didalam keluarga? Rumus pengeluaran bulanan. Penghasilan jika diterima bulanan, dapat dibagi menjadi beberapa kategori besar.
  • a.    CICILAN UTANG.
  • Maks 30% dari penghasilan.
  • b.    RUTIN.
  • Semua yang dukung operasional rumah tangga. Termasuk transportasi, makan, dll.
  • Biasanya antara 40-60%. Anggap ini sebagian besar nafkah sehingga porsinya besar.
  • c.    MENABUNG/INVESTASI.
  • Ini juga nafkah, tapi nafkah untuk masa depan seperti uang sekolah anak di masa datang, persiapan pensiun, dll. Biasanya min. 10%.
  • d.    SOSIAL.
  • Urusan tolong menolong. Ada yang zakat (wajib, dengan syarat haul dan nishab, juga ada aturan penerima), ada juga sedekah.
  • e.    LIFESTYLE / GAYA HIDUP
  • Semua yang asyik. Bukan gak boleh. Kita batasi saja maks. 20%

6.    Suami ideal untuk istri ,berapa sih minimal penghasilan suami per hari itu? Gak ada rumus ideal. Tiap daerah beda biaya hidup. Tiap org beda gaya hidup. Kenali gaya hidup masing-masing pasangan.
7.    Bagaimana hukum dan pengelolaan waris dari orang tua untuk pasangan suami istri yang akan membangun rumah tangga? Hukum waris Islam. Jika suami dapat warisan, maka itu milik dia seorang. Dia berhak membagi kepada istri, menggunakannya untuk kebaikan keluarga, atau simpan sendiri.
8.    Bagaiamana menghadapi perkara yang syubhat dalam finansial keluarga? Sebagian orang mengatakan bahwa selama masih ada khilaf (perselisihan ulama), maka engkau boleh memilih pendapat mana saja yang engkau suka. Kami katakan, “Tidak demikian”. Khilaf ulama tidak menjadikan kita seenaknya saja memilih pendapat yang kita suka. Namun hendaknya kita pilih mana yang halal atau haram yang kita yakini. Karena jika sikap kita semacam tadi, dapat membuat kita terjatuh dalam keharaman. Lihat penjelasan yang amat baik dari Syaikh Sholih Al Fauzan dalam Al Minhah Ar Robbaniyah fii Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, hal. 107. Sedangkan Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Jika perkaranya syubhat (samar), maka sepatutnya ditinggalkan. Karena jika seandainya kenyataan bahwa perkara tersebut itu haram, maka ia berarti telah berlepas diri. Jika ternyata halal, maka ia telah diberi ganjaran karena meninggalkannya untuk maksud semacam itu. Karena asalnya, perkara tersebut ada sisi bahaya dan sisi bolehnya.” (Fathul Bari, 4: 291)
9.    Apa hukumnya apabila suami tidak memberikan nafkah lahir dan batin kepada istri dalam jangka waktu tertentu? simisal ada pertengkaran diantara suami-istri yang mengakibatkan demikian. Dari sisi finansial Islami, suami bertanggung jawab memberikan nafkah kepada istri tanpa syarat. Jadi kemampuan besar kecil itu bukan syarat. Tapi harus memberikan kepada istri dan anak artinya prioritas nafkah ini tinggi sekali. Dalam Islam, prosesi menikah itu bukan janji cinta setia antara 2 sejoli. Melainkan janji mempelai pria kepada wali mempelai wanita, serah terima tanggung jawab bahagia si perempuan. Jadi jangan sampai berani gak ngasih nafkah.
10.  Bagaiamana peran orang tua secara finansial baik sebelum dan setelah menikahkan anaknya ? Peran orang tua sebelum anak menikah: tanggung jawab menafkahi. Setelah menikah tanggung jawab itu sudah berhenti, berpindah menjadi tanggungan suami. Setahu saya gak ada kewajiban anak menafkahi orang tua. Bantu-bantu tentu tidak salah. Tapi bukan menafkahi. Kasih sayang itu harusnya gak dibalas dengan uang.
11.  Siapa yang harus diprioritaskan ketika seorang laki-laki menjadi tulang punggung bagi orang tua dan istrinya? setelah menikah tugas seorang suami itu pada istri dan anaknya. Kalau memang orang tua dalam keadaan kemiskinan maka bantulah orang tua. Alangkah bijak jika istri tidak perlu harus bersaing dg mertuanya. Kalau memang secara finansial terbatas. Izinkan lah istri bekerja juga.
12.  Kebutuhan apa saja yang harus dipenuhi suami kepada istri dan kebutuhan apa saja yang harus dipenuhi istri kepada suami? Kebutuhan finansial itu wajib suami kepada istri dan anak. Tidak ada kewajiban finansial istri kepada keluarga. Istri modern masa kini biasanya mau ikut membantu. Sehingga jangan larangan istri bekerja, harus dibarengi juga dengan menerima konsekuensi gaji cuma dari suami. Dengan memberikan keleluasaan istri untuk bekerja, menghasilkan uang juga sehingga penghasilan keluarga dari 2 sumber. Jadi ayo bahas bersama. Lihat apa saja pengeluaran bersama. Kalau memang tidak ada lg yg bisa dihemat, ya sudah waktunya pasangan turut bekerja.
13.  Bagaimana baiknya ketika menjalankan kegiatan bisnis dengan antar keluarga? Dalam ekonomi dan keuangan Islami tentu harus menghindari riba, gharar, maksiat dll. Tapi selain itu perlu 3 elemen penting: jelas, tercatat, transparan. Berlaku saat berbisnis maupun utang piutang dengan siapapun. Contoh; Sepakat berbisnis dengan istri. Modal 50:50. Artinya kepemilikan 50:50. Jika berpisah atau meninggal juga 50:50.
a.    JELAS.
Jelas bisnisnya apa. Siapa perannya apa. Yang tidak jelas itu kalau suami kerjakan semua, cuma katanya owner juga, surat bisnis atas nama adik istri. Giliran ada apa-apa status kepemilikan: tidak jelas.
b.    TERCATAT.
Ada surat secara hukum.
c.     TRANSPARAN.
Tidak ada yang disembunyikan.
14.  Bagaimana mengatur hutang-piutang dalam keluarga?
Contoh; Utang kepada mertua 100 juta. Untuk beli rumah. Dicicil bulanan tanpa bunga untuk 5 tahun.
a.    JELAS.
Jelas untuk apa, siapa yang melakukan, bagaimana pembayarannya.
b.    TERCATAT
Ada surat minimal diketik dan tanda tangan di atas materai. Justru dengan mertua harus seperti ini, supaya anak-anak yang lain plus mantu gak bisa bunyi komentar negative.
c.     TRANSPARAN.
Kepada mertua ada jelas pembayaran kapan saja, saldo terbayar VS saldo utang belum terbayar. Kalau ada apa-apa, semua informasi mudah didapat.
15.  Bagaimana memberikan pemahaman financial planing kepada anak? Tentukan Tujuan Keuangan, Ajari tentang Konsep Uang dan Menabung, Mengatur uang tak ubahnya seperti sebuah permainan, Membuat Daftar Pekerjaan ini menjadi bentuk transparansi. Selain itu financial planning pada anak memiliki empat pilar yakni MBBM yang berarti;

  1. a. Menghasilkan,
  2. b. Berbelanja,
  3. c. Berbagi,
  4. d. Menabung Investasi.
Anak harus diajari menabung agar memahami 4 konsep tersebut. 
Contoh kasus: Seorang anak membeli HP dengan cara menabung uang agpaw dan ultah.
1. Menghasilkan: Uang didapat dari hasil pemberian angpaw dan hadiah saat ultah,
2. Berbelanja: Si anak membeli HP,
3. Berbagi: Sebagian angpaw disedekahkan,
4. Menabung: 2 tahun uang angpaw dan uang saku ditabung dengan rajin

Berdasarkan hal tersebut anak akan menghargai makna kerja keras, dan apa yang didapat/dimilikinya (termasuk juga dengan uang).
16. Apakah idealnya pasangan suami dan istri bekerja semua dalam memenuhi kebutuhan keluarga? Tentunya sesuai kesepakatan antar suami dan istri. Apabila penghasilan suami rendah, tapi istri tidak diperbolehkan bekerja dengan alasan tugas perempuan dirumah saja itu tidak seimbang secara perencanaan keuangan. Banyak profesi yang bisa dilakukan oleh perempuan, dan yang paling mudah adalah berdagang. Apabila istri mengalami kesuksesan, seorang suami juga harus siap mendukung, karena keharmonisan itu juga penting. 
17. Menyeimbangkan keadilan terhadap orang tua, mertua, dan istri. Adil itu bukan sama rata, melainkan adil itu sesuai porsi. Semisal seorang istri memikirkan antara orang tua dan mertua, namun seorang suami akan memikirkan anak dan istrinya terlebih dahulu. Idealnya adalah tentu saja orang tau dan mertua mandiri, sehingga kewajiban kepada anak dan istri tidak dilanggar. Namun kebanyakan kasus dan kenyataannya tidak begitu. Kalau pada kasus tertentu (masalah) kesusahan, maka semua harus bekerja. Orang tua, mertua, kakak-adik, suami-istri. Kerja semua supaya tidak memberatkan salah satu.
18. Finansial plan itu selalu memiliki biaya yang harus dibayarkan. Proses setiap finansial plan itu selalu harus ada datanya. Ada konsekuensi yang terjadi saat kita punya aset yang besar. Semua itu harus diukur karena permainannya angka. Apa yang kita hasilkan tidak hanya hidup pada hari itu, namun ada ukuran dan sekala pada jangka waktu tertentu, semuanya terukur dengan menyeimbangkan. Interpretasi bisa bikin bohong, namun angka tidak. Terbiasalah punya ukuran, terbiasalah punya mimpi yang bisa dibawa ke bumi, dan terbiasalah punya tujuan yang jelas. Ini seperti langkah-langkah tindakan yang akan dilakukan dalam melakukan sesuatu. 
19. Isue finansial problemnya kebanyakan adalah pada responsibility. Karena setiap hutang-piutang harus ada bukti yang jelas, dan si penghutang punya tanggung jawab untuk bertanggung jawab terhadap hutangnya.
20. Dalam mengatur finansial planning, perhatikan 
a. Masa pakai/tingkat penyusutannya.
b. Apabila hutang harus jelas tujuannya.
c. Barang jelas. Dalam finansial planning gadget jangan dicicil. 
d. Tercatat dengan jelas.
e. Aset adalah barang bertumbuh, dan bisa menghasilkan uang.
f. Hadapi konsekuensi dari setiap tindakan yang diputuskan, dengan mengetahui risiko terburuk.
g. Ketika terjebak dalam hutang, menghentikan semua pengeluaran life style, dimana tujuan utamanya adalah melunasi hutang dan pengeluaran rutin
Kombinasi itu penting antara kreatifitas dan struktural, maka harus ada balance-nya.
21. Basic dalam keuangan harus mendasar dan kuat sehingga tersuktrur arus keluar dan masuk, simpannya jelas. Ketika keuangan jelas maka itu tidak berantakan dalam mendalami hidup.
22. Meminimalisir kehidupan dalam lifestyle kita itu penting, karena itu mengantarkan pada kesederahaan, dan hidup berkecukupan. Meminimalisis barang-barang dalam kehidupan kita.
23. Tanggung jawab itu budaya yang rendah dalam budaya Indonesia, namun tinggi akan gotong-royong. Lebih parah lagi adalah budaya patriarki, bahwa anggapan akan ada menolong ketika mengambil keputusan terkait finacial.
24. Kita bebas melakukan apa saja terhadap keuangan kita, namun tidak pada konsekuensi dari pengaturan uangnya. 
25. Cara memisahkan emosi dengan sebuah barang adalah dengan di foto saja, itu akan memudahkan segala sesuatunya. Apabila teringat lagi maka tinggal lihat fotonya.
26. Nafkah wajib tanpa syarat kepada istri.
27. Masalah umum dalam financial keluarga adalah budaya patriarki, kesenjangan pendapatan antara istri yang lebih besar dari suami.
28. Caranya kaya adalah memiliki penghasilan besar, dan meningkat.
29. Bersenang-senang boleh asalkan maksimal hanya 20% dari pendapatan.
30. Realtionship transaksional itu tedak sehat. Didiklah perempuan untuk bisa menghasilkan uang, itu juga akan menghargai keuangan yang ada dalam keluarga.
31. Apabila seseorang tidak pernah menghasilkan uang, maka akan kesulitan dalam mengelolanya.
32. Kecerdasan emosional juga berpengaruh dalam pengelolaan keuangan keluarga, maka pilihlah pasangan yang tepat.
33. Berbelanja itu adalah sebuah pilihan bagaimana kita mengambil keputusan. Kita harus memahami bagaimana cara berbelanja seperti kita memahami investasi.
34. Pemahaman paling penting kepada anak. Memberikan pemahaman bagaimana prosesi mendapatkan uang, dan tidak semua hal bisa dibeli dengan uang.

Kesimpulan: intinya semua itu kembali kepada diri kita masing-masing. Selain itu juga harus paham karakter pasangan, mertua. Sehingga kedepannya paham benar konsekuensi di kemudian hari. Jika ada yang ingin dirubah dan diperbaiki, maka jalannya adalah dengan berbicara. Pandangan perempuan dalam islam itu, semua tindakan apapun itu ikut (manut) suami. Maka suami memiliki uang atau tidak kita harus paham konsekuensinya. Logis apa tidak apabila suami tidak punya uang, sebagai istri tidak diperkenankan bekerja, sehingga menjadikan hidup menderita miskin di dunia?
Pengalaman hidup yang sering terjadi adalah Drama dalam keluarga. STOP DRAMA BAHAS SEMUA DENGAN BAIK. Pasangan yang tidak mau membahas permasalahan dengan baik-baik bukanlah pasangan yang baik. Apabila seseorang tidak memiliki uang, kalau memiliki ahlak yang baik, maka keduanya akan saling bekerjasama. Namun apabila dia tidak memiliki uang, sok tahu, tidak bisa memberikan solusi dan hanya melarang-larang saja, bersiaplah menghadapi kehidupan yang tidak menyenangkan. 


Sumber: Kelas Nikah Institue Jallaludin Rumi 10

 *Apabila mengutip tulisan ini, mohon sertakan sumber yang lengkap dari penulis, dan gunakan pengutipan yang baik dan benar, terima kasih.

Review_Mendidik dengan Cinta

Mendidik Dengan Cinta 
(Meminimalisir Konflik)

via unsplash

1.       Komitmen (buatlah komitmen sedini mungkin)
a.       Model siapa yang akan kita contoh dalam mendidik anak.
b.       Siapa yang lebih dominan mendidik anak.
c.       Bagaimana mengasuh dan mendidik anak.
d.       Apakah akan langsung punya anak?
e.       Apakah diperkenankan orang lain ikut mendidik anak
f.        Bolehkah apabila setelah menginjak masa dan umur beberapa tahun, istri melakukan aktualisasi diluar lingkungannya. Dalam artian bisa melanjutkan pendidikan atau berkarir.
g.       Dimana akan menyekolahkan anak
h.       Bagaimana apabila bertemu dengan mantan?

2.       Saat anak dalam kandungan
a.       Biasakanlah beraktivitas secara bersama bagi calon bapak maupun calon ibu, dengan kebersamaan akan membangkitkan bibit yang kuat bagi calon anak.
b.       Ajak anak dalam kandungan untuk senantiasa berkomunikasi dan berinteraksi, terutama mengajaknya dalam melaksanakan ibadah.
c.       Seimbangkan peran suami dan istri.

3.       Pahami pola pendidikan yang diterapkan oleh Sayyidinna Ali
a.       Usia pendidikan 0-7 perlakukan anak dengan tulus jadikan ia sebagai raja
-          Sering temani anak untuk bermain.
-          Lakukan kegiatan secara bersama-sama.
-          Sering temani tidur bacakan bacaan alfatihah dan usap ubun-ubunnya.
-          Jangan luapkan emosi dihadapannya, biasakan sabar.
-          Sering jawab pertanyaan. Jangan jawab dengan intonasi tinggi.
-          Ketika anak mendapat kekerasan fisik, maka itu akan melekat secara psikis, mewaris dan sulit dihilangkan.
-          Ketika seorang istri hamil, maka istimewakan, jangan sampai terjadi perubahan psikis, jangan sampai tidak percaya diri. Pendidikan anak ketika masih dalam bayi luar biasa pengaruhnya. Apalagi setelah melahirkan peran ibu muda sangatlah banyak, dan banyak tekanan. Alasannya 40 hari semasa bayi yang lahir, ia akan tetap terjada 40 hari kedepan, bayi tersebut tidak tidur, maka dari itu suami harus tahu dan sigap.

b.       Usia pendidikan 8-14 perlakukan anak sebagai seorang tawanan
-          Pada fase tawanan ini kita sebagai orang tua lebih sering memberikan penjelasana kepada anak; bahwa  anak mendapat hak dan memiliki kewajiban secara proposional
-          Tidak menuntut anak tetapi juga mengajak anak juga.
-          Membiasakan ibadah bersama.
-          Perlu kerjasama.
-          Menjelaskan konsekuensi yang dibuat bersama-sama.
-          Tidak mengatur dan menekan.
-          Buatlah sebuah pertanyaan pilihan ketika mengobrol bersama.

c.       Usia Pendidikan 15-21 perlakukan anak sebagai seorang sahabat.
-          Jadikan anak sebagai teman untuk mengobrol. Buat dirinya merasa nyaman sebagai seorang sahabat. Temani ia untuk tumbuh dan berkembang.
-          Pada usia ini anak menginjak aqil baligh. Biasakan pada masa ini anak diberikan contoh dan keteladanan. Jangan didekte.
-          Pada usia ini secara psikis dan fisik anak mengalami perubahan. Maka dari itu sering-seringlah berdialog dari hati ke hati, dengarkan ia berdiskusi dalam sehari minimal 30 menit.
-          Berikan ia ruang untuk tumbuh, dan melakukan aktivitas yang diminati.
-          Berikan anak amanah dan tanggung jawab. Pada masa ini pendidikan diarahkan untuk mandiri dan cekatan, dan mampu menjadi wakil dari orang tua.

Sebagai tambahan dalam memberikan pendidikan parenting dalam rumah tangga, ada beberapa kiat yang bisa digunakan yakni peran sentral seorang istri yang juga ibu. Rumah itu tergantung kondisi istri. Bersinarnya istri dalam rumah, maka berakibat bersinarnya juga rumah tersebut. Semakin matangnya istri, maka akan semakin cinta istri tersebut pada suami, begitu juga sebalinya.

Sumber: Kelas Nikah Institue Jallaludin Rumi 10

 *Apabila mengutip tulisan ini, mohon sertakan sumber yang lengkap dari penulis, dan gunakan pengutipan yang baik dan benar, terima kasih.