Kamis, 12 Desember 2019

Opini_Cinta dan Pesan Maulana Rummi

Cinta dan Pesan Maulana Rummi
oleh: Aji Muhammad Said
dok. pribadi
Setiap kalimat itu memiliki bias. Dalam setiap kata tidaklah selalu mengikat dalam agama. Sibuk mencari dunia, sampai lupa mencari akhirat, hidup tidak hanya singgah untuk minum, tapi berbagi disaat haus. Cinta menjadikan sesuatu menjadi tampak menawan, tapi segala sesuatu yang menawan tak selalu memiliki cinta. 

Kalau kamu mau senang masuklah penderitaan cinta. Ingatan kepada cinta menyegarkan hati si pecinta. Momentum cinta muncul dari kesulitan yang dialami. Ribuan orang berbakat cemerlang, tapi asing terhadap cinta. Telah lenyap tanpa meninggalkan riwayat atau peninggalan yang mengabadikan namanya.  Engkau bisa mencoba 100 hal, tapi cinta yang akan membebaskanmu dari dirimu sendiri. Maka jangan melarikan dirimu dari cinta, sekalipun dari cinta dalam samaran duniawi.

Level cinta pada tahapan awal adalah artifisial yakni belajar mencintai dulu. Hatimu lunakkan dulu dengan cinta, karena itu persiapan tertinggi dari kebenaran, bahwa dasar cinta itu bermuara pada Allah. Yang harus dilakukan adalah belajar pada apapun, dan belajar mencintai apapun. Latihan jatuh cinta, hiduplah dengan alur yang penuh cinta. Nanti batinmu terlatih dengan penuh cinta.

Walaupun Allah telah berjanji akan memberikan balasan atas perbuatan baik dan buruk di hari kiamat kelak, akan tetapi contoh dari balasan tersebut telah Allah kirimkan kepada kita di setiap waktu dan kerlingan mata. Jika kebahagiaan masuk ke dalam hati seseorang, maka itu adalah balasan baginya karena membuat orang lain bahagia. Jika seseorang bersedih, maka itu juga merupakan balasan baginya karena membuat orang lain bersedih. Ini semua adalah hadiah dari dunia yang lain dan tanda bagi hari pembalasan nanti, agar orang-orang bisa memahami yang banyak dari yang sedikit, sebagaimana kamu mengambil segenggam gandum sebagai contoh dari gandum-gandum yang ada di dalam karung.

Allah berfirman "Wahai Muhammad, jangan kau berputus asa, Aku tidak akan membiarkanmu sibuk dengan urusan manusia, bahkan di dalam derasnya kesibukanmu itu, kau tetap bersama-Ku. Ketika kau sibuk bersama manusia, tak sedetikpun waktumu bersama-Ku akan diambil darimu. Bahkan meski kamu berada di tengah-tengah lautan manusia, kau tetap bersama-Ku"

"Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarah pun, niscaya dia juga akan melihat (balasan)nya (Qs.al-Zalzalah: 7-8)."

Kadang kita melihat orang yang menderita menjadi sangat bahagia, dan orang yang sangat bahagia menjadi begitu menderita. Maulana Rumi menjawab bahwa; orang yang menderita itu kemudian berbuat kebaikan atau berpikir untuk melakukan kebaikan, maka jadilah ia orang yang bahagia. Sementara orang yang bahagia tadi menjadi menderita, karena ia kemudian melakukan keburukan-keburukan, maka berubahlah ia menjadi orang yang menderita. Maulana rumi berkata; "Demi Allah, sudah sepatutnya bagi manusia untuk selalu memiliki harapan. Iman itu sendiri terdiri atas rasa takut dan harapan." Apalah arti bentuk jika yang utama adalah esensi dari manusianya. Bagaimana mungkin cinta Tuhan Bisa melepaskanmu pergi.

"Dan bahwasanya hanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu). (Qs. an-Najm:42). Artinya, puncak dari kecintaanmu pada sesuatu selain diri-Nya. Mencari sesuatu selain diriNya, akan tetap berakhir pada Allah. Jadi cintailah Allah demi Dia semata.

Bahwa segala sesuatu yang dicintai tidak lepas dari segala sesuatu yang dibenci. Karena yang pertama, tanpa adanya yang kedua adalah mustahil adanya. Secara logika, yang dicintai ada karena hilangnya yang dibenci, dan mustahil sesuatu yang dibenci hilang didahului oleh keberadaannya. Kebahagiaan adalah hilangnya kesedihan sedang kesedihan tak akan hilang tanpa didahului oleh keberadaannya. Demikian keduanya menjadi satu. Setiap orang memiliki akal parsial butuh belajar, dan akal  universal adalah akal sumber yang mereka cari. Para Nabi dan para Wali telah menyatukan akal parsial dengan akal universal, sehingga keduanya menjadi satu.

Maulana Rumi berkata; "Benar, pertama-tama niat ini berada di alam arwah sebelum ia pindah ke alam jasmani. Jadi jika ia didatangkan bersama kita ke alam jasmani tanpa membawa maslahat, maka itu hal yang mustahil, sebab perkataan memiliki pekerjaan yang diliputi oleh banyak kemanfaatan.

Allah berfitman: "Seandainya kamu berpaling dari sesuatu yang kamu kejar-kejar itu dan memaafkan dirimu serta mengucilkannya, maka semuanya akan baik-baik saja. Seandainya mereka melintas dalam pikiranmu dan kamu meninggalkannya demi Aku semata, ketahuilah bahwa kemulian-Ku adalah tidak terbatas, dan Aku akan menjadikan sesuatu itu berada dalam genggamanmu"

Semua ilmu-ilmu ini berasal dari alam yang tidak berhuruf dan bersuara , kemudian bergerak menuju alam yang berhuruf dan bersuara. Di alam sana, ucapan tidak berhuruf dan juga tidak bersuara. "Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya".(Qs. Al-Anfal). Hal yang tidak tersingkap ini bisa dicerna dengan perbandingan. Allah berfirman " Dan tidaklah sama antara orang buta dengan orang yang melihat. Tidak pula sama antara gelap gulita dengan cahaya. Tidak pula sama antara yang teduh dengan yang panas. "(Qs. Fathir:19-21). Sebuah kisah menuliskan bahasa cinta yang termasyhur Majnun menulis untuk Laila; "Khayalanmu di mataku, namamu di mulutku, Ingatanmu dihatiku, lalu di mana lagi aku bisa menulis".

Disadur dari buku Inilah Fihi Ma Fihi Jalan Cinta Rumi

  *Apabila mengutip tulisan ini, mohon sertakan sumber yang lengkap dari penulis, dan gunakan pengutipan yang baik dan benar, terima kasih.

Kamis, 14 November 2019

Opini_Pesan dalam Pesan


Pesan dalam Pesan
Oleh: Aji Muhammad Said


via dok.pribadi; Masjid Agung Palembang



Ada banyak pemahaman dalam berpendapat berkaitan dengan sesuatu yang kita lakukan. Dasar itu semua adalah ilmu dan iman (taqwa). Setiap orang punya niat masing-masing dalam hidupnya. Niat ini ditujukan untuk mencapai tujuan masing-masing. Namun beda kata apabila sebuah tindakan ditujukan untuk mendapat imbalan itu namanya pamrih. Berbanding sebaliknya, apabila menghargai suatu hal, artinya kita menghargai hal atau tindakan yang orang lain lakukan kepada kita, ini seperti ucapan terima kasih untuk apa yang orang beri kepada kita, niat kita mengapresiasi apa yang orang lain lakukan. Apabila bertemu niat seseorang untuk mendapat pamrih dan niat orang mengapresiasi, maka melihatnya dari sudut pandang yang berbeda, orang yang berbeda, terutama pada niatnya. Ada istilah ikhlas dan tulus, artinya kita melakukan sesuatu tidak mengharapkan sesuatu, murni tujuan adalah berbuat baik. Melandasi sesuatu atas dasar Allah.

Jangan berikan kebijaksanaan pada orang yang tidak layak untuk menerimanya, karena ia kelak akan menzalimimu. Jangan kamu simpan kebijaksanaan dari orang yang layak menerimanya, itu berarti kamu telah menzaliminya. Kami meneguk minuman yang baik milik orang baik---ternyata beginilah manisnya minuman untuk orang-orang yang baik. Kami minum lalu sisanya kami tuangkan ke bumi---Dalam cangkir kedermawanan, terdapat porsi untuk bumi.

Maulana Rumi mengatakan; "Demi Allah, sudah sepatutnya bagi manusia untuk selalu memiliki harapan. Iman itu sendiri terdiri atas rasa takut dan harapan." Prinsip rahasia dari segala sesuatu adalah ucapan dan kata-kata. Kamu belum benar-benar mengetahui ucapan dan kata-kata itu, dan karenanya kamu menganggapnya tidak penting. Bagaimanapun ucapan adalah buah dari pohon tindakan. Karena kata-kata dilahirkan dari tindakan. Allah SWT menciptakan dunia dengan kata-kata "jadi, maka jadilah."

Sebagai contoh, jika seseorang menanam benih gandum, tentu ia berharap bahwa suatu saat ia akan memanen gandum itu. Di saat yang bersamaan, ia juga takut penyakit dan hama yang mengakibatkan dirinya gagal panen. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa tidak ada harapan tanpa adanya rasa takut. Kita bahkan tidak mungkin membayangkan harapan tanpa rasa takut, atau bahkan sebaliknya. Jika seseorang memupuk harapan akan balasan atas kebaikan yang dilakukannya, bukan tidak mungkin ia akan menjadi lebih giat dan rajin dalam bekerja. Harapan seperti menjadi sayap baginya. Di mana semakin kuat lambaian sayapnya maka akan semakin tinggi. Sementara jika ia berputus asa, ia akan menjadi malas. Ia tak akan melakukan apa-apa lagi. Seperti orang sakit yang meneguk obat yang pahit dan meninggalkan puluhan makanan lezat; jika ia tidak mengharapkan sehat, bagaimana bisa ia tahan meneguk obat yang pahit ?

Allah akan menganugrahkan apa yang kamu minta. Sejauh mana semangatmu, sejauh itulah kamu akan mendapatkan apa yang kamu minta. "Burung terbang dengan kedua sayapnya, dan orang mukmin terbang dengan semangat yang dimilikinya." Sebagian anak adam memilih mengikuti akalnya ketimbang hawa nafsunya, sehingga mereka sampai pada tingkat malaikat dan cahaya murni.  Mereka ini adalah para nabi dan wali. Mereka telah terbebas dari rasa takut dan harapan, karena itulah "Maka tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati" ( Qs. Al-Baqarah: 38).

Adapun sebagian yang lain, lebih memenangkan hawa nafsunya ketimbang akal, sehingga mereka benar-benar menjadi seperti binatang. Sedangkan sisanya masih dalam pergulatan hawa nafsu dan akal. Mereka adalah sekelompok orang yang dalam diri mereka berbaur dengan perasaan, sedih, gelisah, sakit, menderita dengan kehidupan yang mereka jalani. Mereka adalah orang-orang mukmin ditunggu para wali untuk dibawa ke tempat asal mereka, untuk membuat mereka seperti para wali. Di tempat lain mereka juga ditunggu oleh para setan untuk diseret, untuk dibawa ketempat yang paling rendah untuk dijadikan teman mereka.

Marilah kita beristigfar karena pikiran dan paradigmamu itu, kita tidak akan menyangka bahwa impian kita tidak terwujud dengan tangan dan kakimu, ternyata Allah-lah yang mewujudkan impian itu. Sekarang, setelah kamu menyadari bahwa Allah yang mewujudkan impian itu. Sekarang setelah kamu menyadari bahwa Allah yang mewujudkan semua itu, bersitigfarlah.

Hikmah

Hikmah itu seperti hujan. Di tempat penyimpanannya ia tak pernah habis, tapi ia turun sesuai kebutuhan; di musim dingin dan musim semi, di musim kemarau dan musim gugur, selalu dalam kadar yang sesuai dengan kebutuhan di musim itu kadang bertambah kadang berkurang jumlahnya. Tapi yang jelas, hujan tidak memiliki batasan tempat di mana ia akan turun.

"Tidak ada sesuatu, yang baik atau buruk, kecuali Kami memiliki ruang penyimpanannya yang tak memiliki batas, akan tetapi sesuatu itu Kami berikan sesuai kebutuhan" Satu kepastian itu lebih utama dibandingkan Seratus keraguan. Mereka yang belum sampai kepada tujuannya itu masih memiliki harapan untuk sampai juga. Semua yang dikerjakan oleh manusia akan dinilai oleh Allah SWT. Bahkan jika kedua matanya tertutup, usaha mereka tidak akan hilang. "Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka atas apa yang mereka kerjakan." (Qs. Al-Sajdah: 17).

Dari sini dapat kita lihat bahwa pikiran memiliki pengaruh yang sanggat besar. Segala bentuk yang ada di dunia ini hanya mengikuti dan menjadi alat bagi pikiran; yang mana tanpa pikiran, bentuk-bentuk itu akan mati dan kaku. Mereka yang hanya mementingkan bentuk dan hanya menyibukkan dirinya dengannya juga akan mati; mereka tidak mampu menembus makna. Mereka adalah anak-anak dan belum dewasa. Sekalipun penampilan mereka seperti seseorang yang bisa dianggap sebagai panutan.

"Kita telah kembali dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar", artinya kita sedang bertempur melawan bentuk dan berusaha mengalahkan para shuwariyyin (orang-orang yang memperhatikan bentuk) ini. Selanjutnya kita juga harus berhadapan dengan tentara-tentara pikiran, sehingga pikiran yang baik dapat menghancurkan pikiran yang buruk dan mengusirnya dari kerajaan tubuh kita. Inilah yang disebut Jihad besar, pertempuran yang Agung.

Kamu adalah esensi, sementara dua dunia itu adalah aksiden (tampilan luar) bagimu, Dan esensi yang kamu cari dari aksiden sama sekali tak berharga. Tangisilah orang yang mencari ilmu dalam hati. Dan tertawalah pada orang yang mencari akal dalam jiwa. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya. (Qs. al Nazi'at: 40-41).

Allah berkata; " Semua sifat yang aku miliki tidak terbatas, dan kami mengirimnya kepadamu dengan kadar tertentu". Rasulullah Saw, senantiasa bertindak atas nama jemaah. Hal ini dikarenakan berkumpulnya jiwa-jiwa akan memberikan pengaruh yang sangat besar dan penting, yang tidak bisa dihasilkan oleh satu jiwa. Inilah alasan mengapa masjid dibangun, agar orang sekitar bisa berkumpul sehingga rahmat serta manfaat menjadi berlipat.

  *Apabila mengutip tulisan ini, mohon sertakan sumber yang lengkap dari penulis, dan gunakan pengutipan yang baik dan benar, terima kasih.





Opini_Lebih Indah dari 100 Makna


Lebih Indah dari 100 Makna
Oleh: Aji Muhammad Said

dok pribadi; salah satu masjid di Kab. Musirawa

"Semua yang dicintai itu cantik, tapi tidak semua yang cantik itu dicintai". Cantik adalah bagian dari sifat sesuatu yang kita cintai, dan sifat sesuatu yang kita cintai itulah asalnya. Ketika seseorang dicintai, maka orang itu akan menjadi cantik di mata orang yang mencintainya; bagian dari sesuatu tidak akan terpisah dari keseluruhannya, sesuatu yang melekat pada bentuk keseluruhannya."

Maulana Rumi berkata, siang-malam kau terus berperang, berharap akan mampu memperbaiki ahlak seorang perempuan dan menyucikan amal perbuatannya melalui dirimu. Akan lebih baik kiranya kalau engkau memperbaiki melalui dia, ketimbang mencoba memperbaiki ahlaknya melalui dirimu. Ubahlah dirimu dengan perantaraan dia. Datanglah padanya dan terima semua yang ia katakan, sekalipun apa yang ia ucapkan adalah mustahil. Buanglah kecemburuan meskipun cemburu sifat yang melekat pada laki-laki. Karena itu membuat sifat baik dan buruk pada dirimu bersatu.

Kita belajar dari Rasullulah bahwa kamu harus mampu memikul rasa sakit, menyingkirkan kecemburuan, dan agresivitas, beban dalam menafkahi dan memberi pakaian pada istri, serta ribuan kepedihan lainnya yang tak berkesudahan. "Inilah dunia Muhammad". Sedangkan cara Nabi Isa a.s adalah bergelut dengan kesendirian, menundukkan hawa nafsu, sedangkan cara Rasulullah adalah dengan memikul ketidak adilan, penderitaan yang terjadi dalam berpasangan.

Jika kamu memiliki ketenangan maka kamu akan menentramkan hati untuk memikul seratus pukulan, dan kamu juga akan menemukan buah dan hasilnya, atau kamu akan percaya hatimu yang tersembunyi bahwa “sesuatu akan terjadi sesuai dengan apa yang akan mereka katakan dan kabarkan, dan aku akan bersabar hingga sampai tiba waktunya."

Meski saat ini aku tidak mendapat hasil apa pun dari penderitaan ini, pada akhirnya nanti kita akan sampai ke gudang-gudang itu. Itu akan terjadi ketika kamu menjadi lebih dewasa. Itulah perbedaan antara perempuan dan cendekiawan. Entah kamu mau mengajak perempuan bicara atau tidak, mereka akan masih sama tidak akan merubah tabiat dan wataknya. Kata-katamu tidak akan berpengaruh pada mereka, bahkan bisa lebih buruk.

Ketika engkau memerintahkan perempuan, engkau akan duduk di tengah, dan hasratmu bertambah pada dua hal yang berbeda, dan kamu menggangap dirimu benar. Itu adalah pandangan yang salah. Jika dalam diri mereka terdapat jiwa yang bisa mencegah mereka untuk berbuat jahat, maka hasilnya sama saja apakah kamu mencegahnya apa tidak, mereka akan berjalan sesuai dengan tabiat dan watak mereka. Jadi kosongkanlah pikiranmu dari kesedihan dan kegelisahan. Jika tidak maka kamu akan menjadi sama saja seperti mereka, yang terjadi bukanlah kamu mencegahnya, tapi justru membuat masalahnya semakin besar.

Jika teguran pergi begitu pula dengan cinta, dan cinta akan tetap tinggal jika teguran terus ada. Solusinya adalah seseorang harus memiliki pandangan hati, setelah itu ia dapat melihat duduk presisi ketepatan, kondisi sebuah masalah. Jika tidak memiliki pandangan hati lantas bagaimana ia dapat melihat sesuatu yang tersembunyi. Selain itu lakukanlah sesuatu itu secara bertahap, pertama tawarkanlah nasihat kepada mereka, sedikit demi sedikit. Jika tidak mau mendengar gunakanlah paksaan. Jika mereka belum mau mendengar, tinggalkan saja dia, referensi Qs. Al-Nisa': 34.


 *Apabila mengutip tulisan ini, mohon sertakan sumber yang lengkap dari penulis, dan gunakan pengutipan yang baik dan benar, terima kasih.





Minggu, 13 Oktober 2019

Opini_Memelihara Keluarga


Memelihara Keluarga
Oleh: Aji Muhammad Said

dok. pribadi 

Surat Al-Mu’minun Ayat 115
 أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
Arab-Latin: A fa ḥasibtum annamā khalaqnākum 'abaṡaw wa annakum ilainā lā turja'ụn
Terjemah Arti: Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?

Surat Al-An’am Ayat 103
 لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
Arab-Latin: Lā tudrikuhul-abṣāru wa huwa yudrikul-abṣār, wa huwal-laṭīful-khabīr
Terjemah Arti: Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Dasar berkeluarga adalah ilmu (mengaji). Manusia jangan sampai berpegangan pada dunia. Bepeganglah dengan ilmu terutama dalam mengalah. Allah itu senantiasa memberikan petunjuk dan jalan. Usahakan membaca Al-quran, kitab dan hadits karena itu isi tata cara perilaku Kanjeng Nabi, itu memberikan manfaat dan tuntunan. Ada amalan yang senantiasa bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Ahlak terjaga, kita terhindar dari kegiatan zolim. Kemudian dapat membangun ilmu yang bermanfaat, jangan hanya membangun hal-hal yang bersifat materil. Kegiatan duniawi akan berakibat konflik duniawi.

Menikah itu sunah, ada kesiapan yang matang tapi juga bergantung pada ilmu dan keseimbangan pada hawa nafsunya. Mencari pasangan dilihat dari agamanya, secara lahiriah, secara dohir terlihat. Orang yang paham agama senantiasa bisa memahami halal, haram, sunah, mubah, makruh dalam segala sesuatunya. Mencari jodoh ada dengan kenalan, ada dengan  perjodohan itu diperbolehkan, taaruf pun diperbolehkan.  Namun harus diamati yang mudah dalam melihatnya adalah dengan melihat cara ibadah orang secara dohir dan ahlak dalam perilakunya sehari-hari. Ketika Allah memperlihatkan baik maka itu baik buat kamu. Lihat keperawakannya, 'litaskunu illaiha', karena menikah itu sunahnya Kanjeng Nabi. Tirakat seseorang yang belum menikah menyertakan doa untuk dirinya, istrinya kelak, anaknya kelak, hingga cucunya kelak itu akan menjadikan baik untuk dirinya. Perbanyak berzikir untuk kita, agar senantiasa ingat pada Allah. Setiap kita berdzikir, insyaaah doa-doa diijabahi, diberikan jalan.

Dalam pendekatan ada cara untuk mengamati calon pasangan. Kanjeng Nabi mengajarkan, bahwa dalam memilih perempuan, dilihat dari agama, nasab, dan hartanya. Ketika yang lain sulit, tapi agamanya baik maka bisa menjadi jalan pertimbangan. Agama bergantung pada istri. Pendidikan anak pertama sebelum masuk dunia adalah ibu, dimana ibu yang mengajari itu semua. Ketika mencari pasangan bisa dilihat dari ibunya, karena buah tidak lepas dari pohonnya. Perhatikan juga nasab, bahwa seseorang berketurunan dari siapa, perilakunya kemungkinan akan sama. Menikah niatkan dengan ibadah (seseorang menikah separuh agamanya sempurna). Itu ada dasaranya, ketika sudah menikah pahala meningkat dari 1 menjadi 27 derajat. Cara mengetahuinya bagaimana ? yakni setelah menikah apakah pribadinya menjadi lebih baik dari sebelumnya ataukah menjadi lebih buruk.

Berkaitan dengan itu semua ada kitab qurotul uyun bisa dibaca setelah menikah. Selain itu Kanjeng nabi mengajarkan sholat istiharoh dalam memilih sesuatu. Apabila sudah berniat maka insyaallah ada jalan. Posisi laki-laki dalam keluarga itu adalah kepala keluarga. Jangan sampai aturan apapun yang menggerakkan adalah perempuan, kecuali adalah urusan pengelolaan sandang-pangan.

Laki-laki memiliki tanggung jawab besar. Ketika berkeluarga tetapi yang diutamakan adalah ibu kandungnya. Ajarkan bahwa dalam hidup bekeluarga seorang istri mendukung suami untuk berbakti kepada orang tua, dan seorang suami harus mengajarkan istri untuk taat kepadanya. Hidup itu tetap berjalan, insyaallah ada jalannya. Sudah menikah usahakan miliki rumah sendiri, ini meredam konflik. Saling mengisi dibangun dengan berjalan. Cara mendidik Istri, yakni setelah menjadi suami istri ada tanggung jawab mengajak sholat, mulang ngaji. Mintakan petunjuk pada Allah, ketika itu semua terjadi maka hanya Allah yang memberi pertolongan. Waspada itu boleh, tapi keadaan was-was dalam keragu-raguan harap ditinggalkan, itulah ajaran Kanjeng Nabi.

Kewajiban nafkah, itu double yakni kepada orang tua dan istri. Istri dinafkahi itu wajib sifatnya, sedangkan orang tua itu sunah. Segala sesuatunya itu akan terlatih seiring berjalannya waktu. Kamu akan menjadi baik, kalau kamu niatkan segala sesuatunya baik. Memilahara keluarga itu menjaga agama. Ada keluarga diberikan fasilitas duniawi, namun tidak bisa menyeimbangkan secara agama. Segala sesuatu itu ada ilmunya. Maka setiap tindakan ada tuntunannya bukan sekedar ilmunya saja. Jangan sampai keluarga kita buta agama, itulah dalam Al-quran diajarkan untuk memilihara keluarga. Orang yang berpegang pada Agama maka kegiatan apapun akan selamat dunia dan akhirat.

Mertua dan orang tua itu cara memperlakukannya berbeda. Ada istilah anak aran, yakni apabila tidak menikah dengan anaknya maka tidak akan menjadi orang tua (mertuanya). Perbandingannya adalah orang tua kandung yang utama, kemudian orang tua guru, kemudian mertua. Selain orang tua dalam golongan itu hanya wajib dihormati, diberikan bakti saja.

Menikah itu membukakan pintu rizki. Ada orang setelah menikah dimudahkan dalam rejekinya. Kesiapan diri itu penting, terutama siap dalam menerima kehidupan  bersama. Tanggung jawab itu amanah, Gusti Allah menguji seseorang dalam berkeluarga dengan suami-istri, orang tua, mertua, Allah mengujinya dalam lingkaran itu saat kita memiliki masalah pada saat itu juga Allah memberikan solusinya. Semua ada masalahnya, namun ada ilmu untuk mengatasinya. Kehidupan manusia akan dianggap berhasil, apabila mampu mengatasi itu semua. Ilmu yang dimaksud disini adalah mengaji agama secara terus-menerus tidak ada batasan usianya.

Sebelum berkeluarga, tempatkan diri dalam keluarga batih seperti apa. Menjaga keluarga, itu memelihara keluarga, bukan sekedar transaksi duniawi. Tanggung jawab terbesar itu pada orang tua, banyak orang tua memberikan tuntutan, jarang memberikan tuntunan. Solusinya itu dengan komunikasi duduk bersama. Dimana ujung muaranya adalah bagaimana memperlakukan keluarganya dengan baik. Percuma sholat lima waktu, jikalau ahlaknya saja tidak dibangun dengan baik.

Selain itu, ada persiapan ke dalam ada persiapan ke luar. Ada yang harus disiapkan dalam diri yakni fisik (jasadiah) penyempurnaan jasad secara fisik, Persiapan nafsiah, yakni kesiapan mental. Siap memakan sesuatu yang tidak suka, dan siap tidak memakan sesuatu yang ia suka. Ada persiapan sepiritual ruhiah, yakni kesiapan apa yang ia percayai, yakni iman. Kemudian ada aqliyah, yakni memahami akal intelektual, dalam kehidupan ada strategi dalam bertahan hidup. Dalam ketidak pastian bergantunglah sesuatu hanya pada Allah. Musuh utama manusia adalah keinginannya. Jangan terikat oleh ikatan materi tapi terikatlah oleh ikatan rohani. Pada hakekatnya anda akan menyatu pada Allah.

Puncak pengetahuan adalah segala hal yang tidak berkaitan dengan pengetahuan itu sendiri. "Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). Mengapa mereka tidak mau beriman? (Qs.al-Insyiqaq: 19-20). Derita akan menimpa setiap manusia, apapun pekerjaannya. Sebab ketika seseorang tidak menderita, tidak gila, dan tidak merindukan sesuatu, niscaya ia tidak akan pernah sampai kepadaNya. Sesuatu tidak akan didapat dengan mudah tanpa adanya derita, entah itu kesuksesan di dunia maupun kesuksesan di akhirat, kekayaan maupun kekuasaan, maupun ilmu atau bintang gemintang. Seandainya Maryam tak merasakan derita saat melahirkan, maka ia tak akan pernah sampai pada pohon yang penuh berkah.

Dijadikanlah indah pada (pandangan) manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)."(Qs.Ali 'Imran: 14). Kata-kata "dijadikan indah" Dalam firman Allah diatas mengindikasikan bahwa semua hal tersebut tidaklah indah, sebab segala keindahan yang tersimpan di dalam semua itu berasal dari tempat yang lain. Laksana uang palsu yang disepuh dengan emas; dunia merupakan gelembung buih ini adalah uang palsu yang tak berharga dan tak bernilai, sementara kitalah yang menyepuh uang palsu itu dengan emas, dan kemudian kita jadikan perhiasan yang tampak indah di mata manusia.

Sesungguhnya kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tapi semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan menghianatinnya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (Qs.al-ahzab:72).

Istikomah itu seperti tongkat musa, dan godaannya seperti penyihir fir'aun: ketika istiqomah muncul, ia akan menelan segala tipu daya firaun itu. Jika kamu teguh pada jalan lurus ini, maka kamu sama saja menyelamatkan dirimu sendiri.Sebab dengan keteguhan itu kamu sampai kepada Allah.

Renungkankah hal ini baik-baik, akan kalian dapati bahwa asal segala sesuatu adalah diri kalian sendiri, dan segala sesuatu yang lain adalah tadi adalah cabang dari diri kalian sendiri. Jika cabang itu memiliki banyak perincian, keajaiban , dan bentuk-bentuk luar biasa yang tak berujung, maka renungkanlah apa yang kalian miliki karena kalian adalah asal dari segala sesuatu itu.

Ketika cabang-cabang itu mengalami ketimpangan, kemerosotan, kebahagiaan, dan ketidak beruntungan, renungkanlah dirimu yang menjadi asal dari semua itu; apa saja yang membuat dunia spiritual (roh) kalian mengalami semua itu. Roh seseorang memiliki karakteristik seperti itu, dan akan melahirkan hal-hal seperti itu juga. Karena memang pada dasarnya seorang manusia suda seharusnya seperti ini.


  *Apabila mengutip tulisan ini, mohon sertakan sumber yang lengkap dari penulis, dan gunakan pengutipan yang baik dan benar, terima kasih.






Kamis, 03 Oktober 2019

Opini_Hidup Kembali


Hidup Kembali

Oleh Aji Muhammad Said

dok. foto pribadi

Setelah hidup terus mati, setelah mati terus hidup, kehidupan manusia prosesnya seperti ini. Memahami kematian dengan mata mautun, yang berarti mati itu adalah momentum. Karena pada dasarnya Kholidina fiha abada, kita hidup abadi tapi kita harus siap perubahannnya, transformasinya. Melalui kematian kita bisa hidup kembali, menjalani proses yang memang benar-benar Allah gariskan kepada kita.

Persiapan dalam kematian tentunya tidak luput dari pengolahan kehidupan. Sebagaimana manusia harus senantias tafakur, tadabur, dan dzikir. Dimana tafakur itu merupakan, olah pikir ke dalam atas ketauhidan, tadabur adalah pengejawantahan Al-quran dalam hidup, dan dzikir adalah olah pikir ke luar dalam diri manusia. Karena pada dasarnya, hidup itu keluar masuk, keluar masuk. Hal ini dimaksudkan agar terjadi keseimbangan. Manusia harus seimbang dalam kehidupannya kalau tidak hidupnya bisa kacau, hidup dengan keragu-raguan, ketidak jelasan.

Dalam hidup ini, manusia menemui berbagai proses, yang tidak luput dari sesuatu yang buruk. Beberapa hal yang sering kita sebut negatif, sebagai contoh : gagal, kemudorotan, keapesan, kerugian. Itu menjadi sumber energi, apabila kita syukuri momentumnya, ada istilah ‘alhamdulillahi’, yang berarti itu merupakan wujud penerimaan atas apa yang Allah kehendaki. Itu akan menjadi sumber cahaya bagi kehidupan kita. Sebagai momentum bagaimana kita bermesraan kepada Allah. Momen kita mengenal tajali Allah.Karena sesungguhnya kehidupan ini merupakan proses yang tak berkesudahan, pencarian terus-menerus, sampai kembali kepada Allah (Magrifatullah).

Awali semuanya dengan sudut pandang milik Allah, posisi anda disebuah tempat pun karena Allah. Kata kematian jangan jadikan sebagai kata untuk memutus segalanya. Jangan jadikan sebagai kata informasi yang kaku. Kematian harus kita terima dengan sudut pandang informatif. Sehingga ketika kita menerima informasi, tidak terpaku pada teknisnya saja, kata bakunya saja. Hal ini dikarenakan setiap kata memiliki rasa, dan makna, bergantung keadaan, yakni situasi dan momentumnya. Jangan dilihat literal, jangan dianggap secara teknis tapi harus logis. Semuanya berkaitan, jadi jangan ambil satu sisi saja dalam sebuah ilmu, tapi ambilah ilmu dari lingkar pandang, bukan sudut pandang. Hal ini sama konsepnya ketika tawaf, kita tidak berdiri pada satu posisi saja, melainkan mengelilinginya memutarinya. Hal ini untuk memperoleh sudut yang tak terhingga, sisi yang tak terhingga. Itulah hakekat kehidupan.

Perumpamaan selanjutnya adalah kakbah, setelah kakbah anda kelilingi itu menjadi puncak energi yang akan kita dapatkan, puncak kehidupan yang kita dapatkan. Kakbah secara administrasi Tuhan letaknya adalah di Makkah dan Madinah, namun secara spiritual, kabah letaknya berada di dalam hati dan kesadaran diri.  Kakbah yang sejati adalah kabah yang kau dirikan didalam hidup kita, karena sejatinya Allah berada di dalam dirimu, dalam cintamu, ada dalam jiwamu.

Jangan melihat sesuatu itu dengan mata sendiri melihatlah sesuatu karena Allah, dengan mata Allah. Manusia akan hidup rukun karena memiliki tujuan yang sama untuk Allah. Manusia itu hanya sebatas tahu saja tentang kebenaran, yang tahu kebenaran pastinya hanyalah Allah. Kebenaran ada tempatnya dan kejujuran ada tempatnya, semua itu ada hitungannya.Yakinlah pada keyakinanmu, tanpa menyalahkan orang lain. Aurotkanlah sesuatu yang harus kamu aurotkan, benar belum tentu bagus, dan bagus belum tentu benar. Hidup itu ada yang cair ada juga yang padat. Posisi manusia hanya pada ia merasakan semuanya. Setelah ia merasa ia akan tahu ilmu apa yang akan ia dapat. Ilmu itu adalah jawaban dari apa yang kita percaya, dan yakini. Kunci itu semua adalah bagaimana kita meletekkan kebenaran, sama seperti kejujuran. Kunci kesehatan adalah pada kejujuran, dan ketulusan hati.

Namnu zaman ini mulai muncul sebuah kehidupan hologram. Kehidupan yang tidan mencerminkan kehidupan aslinya. Kehidupan yang dipenuhi kepura-puraan. Kehidupan yang dibangun dengan tema kesenangan duniawi. Tataran yang menjebak manusia. Zaman ini, mulai dibuat bentuk-bentuk kepalsuan. Nomor satunya adalah pencitraan. Seperti halnya, contoh bahwa, di dunia ini yang terpenting bukan ayam, tapi rasa ayam. Kita direkayasa untuk ditutupi disembunyikan. Kepalsuan itulah, yang menjadi makna aslinya, misal apabila ada satu, kemudian penyebutannya dijadikan dua.

Manusia dalam mencari kebenaran dibekali ilmu-ilmu, pada proses pengalaman qolbu dan sepiritualnya, diantarkan pada istilah taqwa dan bekal keyakinan. Dalam filosofi hidup orang jawa, ada ilmu yang dapat membaca hal-hal demikian. Ilmu katuranggan menjadi, ilmu dalam melihat sebuah keadaan. Di mana pada intinya manusia diajarkan untuk jangan tertipu oleh barang yang terlihat. Jangan dibohongi oleh hal yang tampak. Lihatlah sorot matanya, lihatlah urat-urat wajahnya. Wajah yang mencerminkan momentum, wajah yang mencerminkan keadaan, bagaimana karakter suasana, hingga mimik ekspresi yang ditampilkan.  Setiap keadaan memiliki makna, dan setiap kata memiliki rasa.

Sebagai contoh adalah orang yang takut tapi berkata-kata bahwa dirinya tidak takut. Orang yang demikian sebenarnya adalah orang yang membesar-mbesarkan dirinya supaya, ia tidak takut. Ia membesar-besarkan hatinya. Padahal di dalam dirinya terdapat ketakutan. Hal ini sama seperti menipu daya diri. Orang yang berani bukan berarti ia tidak takut, tapi ia tidak sadar ia berani.  Apabila kita paham, ketakutan itu wajar, apabila ketakutan tersebut ditujukkan pada tempatnya. Setiap manusia pun akan diuji dengan dua hal, pertama yakni kerinduan yang dahsyat atas harapan nikmat yang diberikan. Kedua yakni, dengan ancaman yang keras melalui siksa yang mengerikan. Hidup-hiduplah setelah mati, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.” ―QS. 3:173.


 *Apabila mengutip tulisan ini, mohon sertakan sumber yang lengkap dari penulis, dan gunakan pengutipan yang baik dan benar, terima kasih.